SEDULURAN SELAWASE
Tidak sedikit orang yang ingin mengubur dalam-dalam semua kenangan masa sekolah, baik ketika SD maupun perguruan tinggi. Ada yang memilih menjauh dari reuni, grup alumni, bahkan dari nama-nama yang dulu akrab di bangku kelas. Bagi mereka, masa sekolah adalah episode yang cukup sekali ditonton, tak perlu diputar ulang. Sebaliknya, ada pula kelompok yang dengan penuh semangat memeluk masa lalu. Seragam mungkin sudah lama dilipat, tetapi kenangannya masih disetrika rapi dan dipamerkan di setiap kesempatan.
Kelompok pertama sering kali membawa pengalaman yang tak sepenuhnya manis: perundungan, persaingan tak sehat, atau rasa tidak diakui. Menghindar menjadi mekanisme bertahan. Sementara kelompok kedua menjadikan masa sekolah sebagai “zona nyaman emosional”. Reuni adalah mesin waktu, obrolan alumni adalah kapsul nostalgia. Kadang lucu, kadang berlebihan—bahkan ada yang gaya berpikir dan bercandanya seolah waktu berhenti di tahun kelulusan.
Di sinilah sikap kritis diperlukan. Persahabatan alumni akan terasa sehat jika tidak terjebak romantisasi berlebihan. Nostalgia memang menghangatkan, tetapi jika hanya sibuk membahas “siapa dulu paling nakal” atau “siapa sekarang paling sukses”, persahabatan itu bisa berubah jadi ajang pamer atau lomba validasi. Padahal, esensi seduluran bukan pada siapa paling bersinar, melainkan siapa yang masih mau saling menyapa tanpa hitung-hitungan status.
Saya pribadi menyikapi masa lalu sebagai bahan refleksi, bukan tempat tinggal. Masa sekolah adalah cermin: kita belajar mengenali diri, bukan untuk memoles bayangan. Seperti kata filsuf George Santayana, “Those who cannot remember the past are condemned to repeat it.” Mengingat perlu, terjebak jangan.
Persahabatan alumni yang ideal adalah yang ceria tanpa nyinyir, akrab tanpa menghakimi, dan solid tanpa kehilangan nalar. Boleh tertawa mengenang masa lalu, asal tetap melangkah ke depan. Karena seduluran sejati bukan soal seberapa sering reuni, melainkan seberapa tulus kita tetap peduli—selawase.**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
