BALADA IKAN CUPANG
Di sudut ruang kantor, sebuah toples bening anggun di atas meja tamu. Di dalamnya, seekor ikan cupang merah menyala berputar-putar riang seperti api kecil yang tak pernah padam. Siripnya mengembang, indah sekaligus angkuh. Anak-anak menamainya Ratu Ikan.
“Cupang itu petarung,” kata guru Biologi suatu pagi. “Tak bisa disatukan dengan sesamanya. Kalau satu wadah, pasti ada yang kalah dan terluka.”
Guru Bahasa menatap lama ke toples itu. Di benaknya sudah menjalar serangkaian narasi pendek. Entah kenapa, ia merasa sedang bercermin. Sejak hasil survey guru idola diumumkan, suasana kantor berubah. Yang senior ingin tampil nyaman. Yang kreatif tak mau berbagi ide. Kelompok-kelompok kecil terbentuk.
Saat istirahat, guru PJOK melihat dua cupang dipajang di toko dekat sekolah. Keduanya dipisah sekat tipis. Mereka saling menatap, membuka sirip, menabrak dinding bening berulang-ulang—lelah oleh amarah yang tak pernah sampai.
“Kalau disatukan, bisa rusak dua-duanya,” kata penjual.
Suatu pagi, guru Biologi membuka buku ensiklopedia. Ia membaca tentang ikan teri yang berenang berkelompok, bergerak seperti satu tubuh. Ia juga membaca paus yang raksasa namun tetap hidup dalam kawanan. Besar, kuat, tapi tetap bersama.
Esoknya di kelas, saat pembelajaran PJOK, Pak Guru kembali menegaskan.
“Kalau kita semua mau jadi cupang, kelas ini akan bercerai berai, yang kuat yang berkuasa,” katanya pelan. “Kita hebat, tapi sibuk saling menabrak. Kenapa tidak jadi seperti ikan yang bergerak bareng?”
Kelas hening. Pak Guru tersenyum kecil.
Diskusi berubah arah. Tugas dibagi. Ide dirajut. Tidak semua jadi pemimpin, tapi semua jadi bagian penting.
Di meja kantor, cupang merah tetap menari sendiri di toplesnya—indah, tapi sunyi.
Guru Seni Budaya menatap Guru Agama dan berbisik,
“Terima kasih sudah mengajari kami. Jangan seperti cupang. Mari berkolaborasi dan bersinergi.”**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
