Mashudi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
CINTAKU KANDAS DI PULAU MERAH
Exotisme Pulau Merah

CINTAKU KANDAS DI PULAU MERAH

Akhir tahun 2025 menjadi penanda keberanianku mengejar cinta yang selama ini hanya tumbuh di layar ponsel. Banyuwangi—The Sunrise of Java—memanggilku lewat cerita, foto, dan janji pertemuan yang selama ini terajut berbulan-bulan bersama Karin di media sosial. Aku berangkat dengan Blambangan Ekspres, membawa ransel kecil dan harapan yang mungkin terlalu besar.

Janji temu di perempatan Genteng terjadi tanpa pelukan, tanpa senyum hangat. Karin datang tepat waktu, tapi tatapannya datar, seperti orang yang salah alamat rasa. Aku mencoba mencairkan suasana sepanjang perjalanan motor menuju Pulau Merah, namun angin pantai lebih banyak bicara daripada kami berdua.

“Hai, Karin ya?” sapaku tadi, setelah melihat ciri baju dan motor yang ia tulis di chat.

“Iya,” jawabnya singkat. Titik, tanpa koma, sambil bergeser ke jok belakang. Aku yang nyetir motornya.

Kurang lebih satu jam perjalanan sampailah kami di Pulau Merah. Motor terparkir. Kami memilih tempat tuduh untuk menikmati suasana pantai. Perrcakapan kami terasa seperti naskah yang hilang sebagian halaman. Basa-basi tentang cuaca, jalan, dan lelah. Tidak ada cerita tentang rindu seperti di chat panjang kami dulu.

“Aku beli snack dulu ya,” kataku, berusaha memberi jeda. Aku kembali sepuluh menit kemudian dengan dua minuman dan kacang rebus. Tas ranselku tampak tergantung di dahan pohon. Karin tidak ada. Aku panik. Motor di parkiran lenyap juga. Nomornya tak bisa dihubungi. Pesan terakhir hanya centang satu.

Aku menunggu hingga matahari condong ke barat. Ombak Pulau Merah bergulung seperti tepuk tangan untuk kisah yang gagal dipentaskan. Di pasir, dua minuman itu menghangat tanpa disentuh.

Baru malamnya aku sadar: tidak semua yang intens di dunia maya siap hidup di dunia nyata. Sebagian hanya ditakdirkan menjadi cerita—indah saat diketik, hilang saat ditemui. Cintaku tidak ditolak. Hanya… tidak pernah benar-benar datang. 

Di penginapan aku termenung, "Apa dukun masih bisa dipercaya?!" **

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post