Mashudi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
JENG KERIK)
"Jiangkrik, lopot maneh!"

JENG KERIK)

Dulu, masa kecil banyak dihabiskan di pematang sawah. Mencari 'jeng kerik' bukan sekadar berburu bunyi “kerik” yang ritmis, tetapi juga untuk aduan—sebuah hiburan sederhana yang mampu membuat waktu melompat tanpa permisi. Kita lupa makan, lupa pulang, bahkan kadang lupa kewajiban. Dari sana terlihat: permainan tradisional bukan hanya soal kalah–menang, tapi tentang keterikatan, kesabaran, dan rasa ingin tahu pada alam.

Menariknya, kata 'jeng kerik'—serangga dari famili Gryllidae—tidak lagi berhenti sebagai nama binatang. Dalam percakapan modern, ia bermigrasi menjadi kata seru bernada kasar, pelampiasan kesal, bahkan makian terselubung, "jiang krik!". Di sinilah bahasa memperlihatkan wajah dinamisnya: makna tidak tinggal diam, ia bergerak mengikuti emosi, konteks, dan kebiasaan sosial penuturnya.

Fenomena ini dalam kajian sosiolinguistik sering dijelaskan sebagai pergeseran makna (semantic shift), yaitu perubahan arti kata akibat penggunaan berulang dalam situasi berbeda. Tokoh sosiolinguistik seperti William Labov menekankan bahwa bahasa sangat dipengaruhi praktik sosial komunitasnya. Artinya, bukan kamus yang paling menentukan makna, melainkan cara masyarakat memakainya.

Masalah muncul ketika kita lupa bahwa konteks adalah penentu rasa. Kata yang sama bisa terasa netral di satu ruang, tetapi ofensif di ruang lain. “Jangkrik!” yang diucapkan sambil tertawa dengan teman akrab mungkin hanya interjeksi ringan. Namun dengan nada tinggi dalam konflik, ia berubah menjadi simbol agresi verbal. Bunyi sama, makna berbeda.

Ruang digital mempercepat pergeseran ini. Kata-kata dipakai sebagai pelampiasan instan, dipisahkan dari akar makna aslinya. Akibatnya, generasi baru mengenal emosi katanya, tapi tidak kenal bendanya.

Barangkali kita perlu sesekali kembali ke sawah—secara harfiah atau simbolik—agar ingat bahwa bahasa lahir dari pengalaman nyata. Dengan begitu, kita lebih hati-hati memilih kata: tidak sekadar keras bunyinya, tapi juga jernih maksudnya. Bahasa boleh berubah, tetapi kesantunan seharusnya tetap dijaga.

*) Untuk memanipulasi persepsi pembaca, judul ditulis JENG KERIK

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post