KAMPRET
Saya tidak sedang memaki siapa pun. Sungguh. Saya hanya sedang bernegosiasi alot dengan makhluk nokturnal bersayap yang menganggap pohon rambutan di halaman rumah sebagai prasmanan gratis.
“Kampret!” teriak saya setengah putus asa ketika satu lagi rambutan jatuh dengan bekas gigitan artistik—setengah dimakan, setengah dipamerkan.
Tetangga muncul dari balik pagar.
“Siapa yang dikampret-kampretin pagi-pagi?”
“Itu, pelaku pencurian massal,” jawab saya sambil menunjuk ke pohon.
“Oh… kirain grup WA RT,” katanya santai.
Sejak rambutan mulai ranum, konflik kepentingan meningkat. Saya merasa menanam. Kampret merasa menemukan. Saya pakai logika kepemilikan, mereka pakai logika alam.
Saya lalu membuat strategi: pasang plastik kresek, pita mengkilap, sampai rekaman suara batuk saya sendiri. Hasilnya? Kampret tetap datang. Bahkan mungkin membawa temannya. Sepertinya suara batuk saya dianggap undangan.
Anak saya nyeletuk, “Pak, kampret itu penting buat alam. Mereka bantu penyerbukan dan sebar biji.”
Saya terdiam. Ternyata yang sekolah IPA bukan cuma dia—kampret juga praktik lapangan.
Akhirnya saya ubah pendekatan. Separuh pohon saya tutup jaring, separuh saya relakan. Ini saya sebut Program Bagi Hasil Berbasis Ekosistem. Terdengar canggih, padahal kalah taktis.
Menariknya, setelah panen, yang saya pamerkan di media sosial hanya rambutan utuh. Yang setengah dimakan kampret tidak masuk dokumentasi. Sama seperti hidup: yang tampil prestasi, yang gagal disensor sendiri.
Dari kampret saya belajar: alam tidak membaca sertifikat tanah, tidak kenal pagar, dan tidak ikut rapat warga. Kita yang sering merasa paling berhak, padahal cuma numpang musim.
Sekarang kalau ada yang teriak “kampret!” di grup chat, saya tidak tersinggung. Saya malah curiga—jangan-jangan lagi musim rambutan… atau lagi musim merasa paling benar.**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
