Mashudi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
S A H U R
Sahur jumbo, jangan!?

S A H U R

Ramadan telah tiba. Padai bulan Ramadan, umat Islam bangun dini hari untuk menunaikan sahur. Namun sahur bukan sekadar rutinitas makan pengganti sarapan. Ia adalah penyiapan lahir dan batin untuk menjalani puasa hingga terbenam matahari. Karena itu, sahur semestinya dilakukan secukupnya—bukan pelampiasan rasa takut lapar.

Secara fisiologis, dini hari hingga pagi adalah fase ketika metabolisme tubuh masih beradaptasi dari pola istirahat. Sistem pencernaan tidak bekerja seintens siang hari. Mengonsumsi makanan berlebihan justru dapat membuat perut terasa penuh, begah, bahkan memicu lonjakan gula darah yang cepat turun kembali. Akibatnya, tubuh lebih cepat merasa lemas dan lapar. Sahur yang seimbang—cukup karbohidrat kompleks, protein, serat, dan cairan—lebih membantu menjaga energi stabil dibanding makan dalam porsi berlebihan.

Di sinilah letak kritiknya: jangan sampai sahur berubah menjadi ajang “balas dendam” sebelum berpuasa. Esensi sahur bukan pada kuantitas, tetapi kualitas dan niat. Kesederhanaan justru mencerminkan pengendalian diri, inti dari ibadah puasa itu sendiri.

Secara psikologis, sahur bermakna latihan self-control dan delayed gratification—kemampuan menunda kepuasan. Kita makan bukan untuk kenyang berlebihan, tetapi untuk cukup bertahan. Ini melatih kesadaran bahwa kebutuhan dan keinginan tidak selalu sama. Dalam dunia yang serba instan, di mana segala sesuatu ingin cepat dan banyak, sahur mengajarkan moderasi: mengambil seperlunya, berhenti sebelum berlebihan.

Dalam kehidupan yang serba instan, sahur mengajarkan tentang proses. Kita diingatkan bahwa energi untuk menjalani hari tidak lahir tiba-tiba; ia dipersiapkan. Kesuksesan pun demikian—memerlukan fondasi yang dibangun dalam kesadaran dan perencanaan. Sahur melawan budaya tergesa-gesa. Ia menghadirkan jeda, ruang sunyi untuk berpikir sebelum bertindak.

Maka, sahur sejatinya adalah sekolah karakter. Dari meja makan sederhana di waktu fajar, lahir pelajaran tentang disiplin, kesabaran, pengendalian diri, dan perencanaan hidup. Jika nilai-nilai sahur mampu kita bawa ke luar bulan Ramadan, maka puasa tidak hanya menahan lapar, tetapi juga membentuk pribadi yang tangguh.

Sahur juga mendidik disiplin waktu. Bangun lebih awal membutuhkan komitmen. Konsistensi bangun sahur membangun ritme hidup yang lebih teratur dan kesadaran spiritual yang lebih tajam. Dari meja sahur yang sederhana, kita belajar tentang keseimbangan: antara jasmani dan rohani, antara cukup dan berlebih, antara kebutuhan dan hawa nafsu. Sahur secukupnya bukan hanya baik bagi tubuh, tetapi juga menyehatkan jiwa dan membentuk karakter yang matang.**

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post