SELESAI BELUM PASTI TUNTAS
Kata selesai sering kita ucapkan dengan nada lega, seolah semua urusan telah benar-benar berakhir. Padahal, selesai tidak selalu berarti tuntas. Selesai bisa bersifat administratif, sementara tuntas bersifat substantif. Selesai menandai berhentinya proses, tetapi tuntas menandai terpenuhinya makna.
Banyak kata bersinonim memang tampak mirip, tetapi tidak identik. Perbedaan halus di dalamnya justru menentukan kedalaman arti. Demikian pula dengan selesai dan tuntas. Seseorang bisa menyelesaikan pekerjaan, tetapi belum tentu menuntaskannya. Laporan sudah dikumpulkan, tetapi datanya belum diverifikasi. Konflik sudah “ditutup”, tetapi lukanya masih terbuka. Tugas berhenti, dampaknya belum.
Selesai sering berhubungan dengan batas formal: waktu habis, target tercapai, prosedur dijalankan. Ada unsur kompensasi dan penutup transaksi di sana. Sesuatu dianggap selesai karena syarat minimal terpenuhi. Dalam budaya kerja modern, banyak hal dikejar agar cepat selesai—bukan agar benar-benar tuntas. Yang penting centang, bukan terang.
Sebaliknya, tuntas menuntut kedalaman tanggung jawab. Ia bertanya: apakah masih ada sisa persoalan? Apakah akar masalah sudah disentuh? Apakah hasilnya memberi kejelasan, bukan sekadar kelegaan? Ketuntasan mengandaikan integritas, bukan sekadar penyelesaian.
Menariknya, obsesi pada kata selesai kadang membuat orang menghindari proses refleksi. Kita buru-buru menutup bab, tanpa membaca ulang pelajarannya. Kita ingin cepat pindah halaman, bukan memahami isi. Akibatnya, persoalan lama muncul kembali dengan bentuk baru, karena dulu hanya diselesaikan, bukan dituntaskan. Misal, kasus hukumnya sudah selesai, tapi belum tuntas. Sehingga memungkinkan ketika tahun berganti, kasus diungkit kembali. Yang seperti ini banyak terjadi.
Dalam kehidupan pribadi, selesai juga tidak selalu identik dengan damai. Percakapan bisa selesai, tetapi hubungan belum pulih. Hukuman bisa selesai dijalani, tetapi kesadaran belum tumbuh. Pendidikan bisa selesai ditempuh, tetapi pembelajaran belum hidup.
Maka, bijaklah membedakan keduanya. Kejar selesai untuk disiplin, tetapi kejar tuntas untuk makna. Selesai menghentikan langkah; tuntas mematangkan arah. Selesai itu titik. Tuntas itu terang.**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
