Mashudi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
YANG TERSISIH DAN YANG TERSISA
Jangan lihat fotonya, baca artikelnya!

YANG TERSISIH DAN YANG TERSISA

Setiap perubahan paradigma selalu membawa konsekuensi moral dan sosial. Perubahan paradigma hampir selalu melahirkan tata aturan baru. Kita kerap memilih istilah “dampak” alih-alih “korban” agar terdengar lebih netral, padahal dalam praktiknya perubahan tata aturan hampir tak pernah steril dari pihak yang dirugikan.

Aturan memang lahir dari kebutuhan kontekstual; ia hadir sebagai respons atas kekacauan, penyimpangan, atau ketidakpastian. Namun, sebagaimana diingatkan oleh Michel Foucault, setiap tata aturan juga merupakan mekanisme birokrasi: ia tidak hanya menata, tetapi sekaligus menyaring, menentukan siapa yang sesuai dan siapa yang tersingkir.

Mereka yang memaklumi dan mampu beradaptasi dengan cepat terhadap paradigma dan aturan baru akan menjadi “yang tersisa”. Dalam banyak hal, kelompok inilah yang kemudian membentuk arus utama. Dominasi itu sering tampak wajar, bahkan dianggap sebagai konsekuensi logis dari kompetensi dan kepatuhan. Namun di balik normalisasi tersebut, tersembunyi apa yang oleh Antonio Gramsci disebut sebagai hegemoni—ketika dominasi diterima sebagai kewajaran, bukan lagi sebagai hasil konstruksi sosial.

Sementara itu, yang tersisih bukan selalu mereka yang lemah atau tidak kompeten. Bisa jadi mereka hanya berbeda latar, sumber daya, atau ritme adaptasinya. Psikologi sosial menjelaskan gejala ini melalui teori identitas sosial dari Henri Tajfel: manusia cenderung mengelompok, menguatkan solidaritas internal, dan—secara halus maupun nyata—membatasi akses bagi yang berada di luar kelompok dominan. Di sinilah eksklusi terjadi, sering tanpa niat jahat, tetapi berdampak nyata.

Karena itu, perubahan aturan memerlukan dua sikap etis sekaligus. Pertama, keberterimaan sosial bagi yang tersisih—ruang dialog, masa transisi, dan dukungan adaptif. Kedua, kedermaan struktural dari yang tersisa—kesediaan berbagi akses, informasi, dan kesempatan. Tanpa dua hal ini, paradigma dan aturan hanya akan melanggengkan ketimpangan baru. Ketertiban yang dihasilkan mungkin tampak rapi, tetapi menyimpan retakan sosial yang suatu saat dapat pecah menjadi resistensi.**

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post