Mashudi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
BENAR TAPI TIDAK UMUM
Pandawa

BENAR TAPI TIDAK UMUM

Jangan terlalu sering menengok ke belakang agar tidak menabrak yang di depan.” Pesan bijak dari Lao Tzu ini terasa sangat relevan dengan kondisi sosial hari ini. Banyak orang menjadikan pengalaman masa lalu sebagai pegangan hidup, padahal pengalaman seharusnya hanya menjadi pelajaran, bukan sandaran utama. Terlalu terpaku pada masa lalu sering membuat kita kehilangan kepekaan membaca situasi baru yang sedang berubah cepat.

Di tengah dinamika masyarakat modern, muncul fenomena yang menarik sekaligus mengkhawatirkan: sesuatu dianggap benar hanya karena dilakukan oleh banyak orang. Common sense sering berubah fungsi dari alat berpikir sehat menjadi alat pembenaran sosial. Ketika mayoritas melakukan sesuatu, kita cenderung ikut tanpa banyak bertanya. Padahal yang umum belum tentu benar, dan yang benar sering kali justru tidak umum.

Media sosial mempercepat fenomena ini. Opini yang sering diulang bisa tampak seperti kebenaran kolektif, meskipun belum tentu didukung fakta atau norma hukum. Banyak orang lebih nyaman berada dalam arus mayoritas daripada berdiri sendiri membela kebenaran. Akibatnya, keberanian moral untuk mengatakan “ini salah” perlahan memudar.

Padahal kehidupan sosial yang sehat justru membutuhkan individu-individu yang berani menjaga batas antara kebiasaan dan kebenaran. Norma sosial dan hukum tidak lahir dari kebiasaan semata, tetapi dari kesepakatan nilai yang menjunjung keadilan dan tanggung jawab bersama. Jika masyarakat hanya mengikuti yang ramai, kita berisiko membangun budaya ikut-ikutan, bukan budaya berpikir.

Karena itu, pendidikan sosial hari ini perlu menekankan kemampuan berpikir kritis. Masyarakat perlu diajak menyadari bahwa kebenaran tidak diukur dari jumlah pengikutnya, melainkan dari nilai, fakta, dan integritasnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, tugas kita bukan sekadar membenarkan yang umum, tetapi berani mengumumkan yang benar. Mungkin tidak populer, mungkin tidak ramai didukung, tetapi justru di situlah letak keberanian moral sebuah masyarakat yang ingin tetap sehat dan beradab.

Hidup memang tidak perlu terus menoleh ke belakang, tetapi juga tidak boleh berjalan tanpa arah. Pengalaman cukup menjadi cermin, bukan tongkat penyangga. Sebab masa depan tidak dibangun oleh mereka yang sekadar mengikuti yang umum, melainkan oleh mereka yang berani mengumumkan yang benar.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post