DURIAN RUNTUH
Dulu orang tua sering berkata, “Ia seperti mendapat durian runtuh.” Sebuah ungkapan sederhana untuk menggambarkan rezeki yang datang tiba-tiba, tanpa diduga, tanpa direncanakan. Seolah langit sedang berbaik hati menjatuhkan keberuntungan tepat di pangkuan seseorang.
Kini peribahasa itu mulai jarang terdengar. Barangkali karena zaman sudah berubah. Durian tidak lagi dibiarkan jatuh bebas dari pohonnya. Para petani kini mengikat buah di batangnya agar tidak pecah ketika jatuh. Rezeki pun seolah ikut diikat: dihitung, diprediksi, dan diamankan.
Padahal di masa lalu, durian bukan sekadar buah. Ia menyimpan aura yang lebih tua dari sekadar rasa. Orang-orang dahulu menyebutnya buah yang “berpenunggu.” Konon di kebun durian yang tua selalu ada cerita: tentang bayangan yang menjaga pohon, tentang suara jatuh di malam hari ketika tidak ada angin, atau tentang orang yang menemukan buah besar setelah tanpa sengaja mengucap doa. Mitos atau tidak, kisah-kisah itu membuat durian terasa lebih dari sekadar komoditas pasar.
Durian adalah raja buah: musiman, beraroma tajam, dan bernilai ekonomi tinggi. Namun justru karena kelangkaannya itulah ia sering menjadi metafora kehidupan. Tidak semua orang bisa menunggu musimnya. Tidak semua orang berani menahan baunya sebelum menikmati manisnya.
Dalam percakapan orang dewasa, durian bahkan menjadi analogi yang lebih dalam: “membelah durian.” Ketika kulit yang berduri keras itu dibuka, barulah terlihat daging lembut di dalamnya. Kehidupan manusia sering seperti itu. Dari luar tampak keras, bahkan menakutkan. Tetapi di dalamnya bisa saja tersimpan kelembutan, peluang, atau keberuntungan yang tak terduga.
Mungkin itulah makna tersembunyi dari durian runtuh. Rezeki tidak selalu datang dari langit secara ajaib. Kadang ia jatuh dari pohon yang telah lama kita tanam, kita rawat, dan kita tunggu musimnya.
Dan seperti kisah lama di kebun durian: yang sabar menunggu sering pulang membawa buah, sementara yang tergesa hanya pulang dengan cerita.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
