Mashudi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
GERBONG DUA
Naik kereya api tut tut tuuttt.... siapa mau ikut?

GERBONG DUA

Pagi ini perjalanan kami terasa terburu. Padahal seperti biasanya, selalu terburu-buru. Selisih antara bangun tidur dan waktu berangkat kereta tak sampai satu jam. Untungnya tiket sudah kami pesan beberapa hari sebelumnya melalui aplikasi. Kursi pun sudah jelas nomornya. Tidak ada lagi saling serobot seperti cerita-cerita lama tentang kereta ekonomi.

Jarak rumah ke stasiun kurang dari tiga puluh menit waktu tempuh. Akan tetapj, kami tetap harus berdamai dengan detik yang berjalan terlalu cepat. Sepanjang jalan kami tidak benar-benar berlomba dengan orang lain, melainkan dengan waktu—siapa yang paling sigap memanfaatkan peluang.

Kereta berhenti di Stasiun Temuguruh hanya sekitar tiga menit. Waktu yang singkat, tapi cukup bagi penumpang yang sudah siap sejak awal. Kami masuk dengan tenang ke gerbong dua, mencari nomor kursi yang tertera di tiket.

"Para penumpang lebih tertib sekarang!" Gumamku.

Tidak ada lagi keributan berebut tempat duduk. Tidak pula ada pedagang asongan masuk gerbong. Tampak seorang ibu menata tas di rak bagasi, seorang bapak membantu anaknya duduk di kursi dekat jendela, dan beberapa penumpang langsung tenggelam dalam layar ponsel. Tidak ada yang saling senyum sapa antarpenumpang.

Kereta Sritanjung memang kelas ekonomi. Namun perjalanan di dalamnya terasa eksekutif, tetap menyimpan beragam 'kemewahan dan kenyamanan'. Ada yang berangkat bekerja, ada yang pulang ke rumah, ada yang mungkin sedang mengejar harapan yang belum sempat ia ceritakan kepada siapa pun. Ada pula yang sekadar jalan-jalan bersama pasangan. Perjalanan kami kali ini untuk satu tujuan: menyaksikan putri kami diwisuda sarjana dari kampus seni terkemuka di Jogja.

Aku terpaku sejenak dengan tulisan kecil di samping pintu masuk: Gerbong 2.

Tiba-tiba aku berpikir, dalam hidup kita juga sering merasa berada di “gerbong dua”. Bukan pilihan pertama, bukan yang paling diprioritaskan.

Namun pagi itu aku sadar sesuatu. Nomor gerbong tidak menentukan arah perjalanan. Gerbong satu atau gerbong dua tetap berada pada rangkaian yang sama, melaju di rel yang sama, menuju tujuan yang sama.

Kadang hidup memang tidak menempatkan kita di urutan pertama. Tetapi selama kita masih berada dalam perjalanan, masih ada kesempatan untuk sampai di puncak tujuan perjalanan utama.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post