Mashudi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
OJO KEPATEN OBOR
Obor bambu

OJO KEPATEN OBOR

“Ojo kepaten obor!”—jangan sampai obor itu padam. Begitulah petuah orang tua dahulu ketika mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan keluarga, kerabat, dan leluhur. Obor adalah simbol: cahaya yang menuntun langkah, penghangat yang menjaga rasa, sekaligus penanda bahwa kita berasal dari api yang sama.

Dulu, menjaga obor itu dilakukan dengan sederhana. Saat lebaran tiba, orang-orang rela berjalan jauh, naik sepeda, bahkan menumpang truk terbuka hanya untuk bersilaturahmi. Mereka datang bukan sekadar membawa kue atau bingkisan, tetapi menghadirkan diri. Tatap muka, jabat tangan, dan pelukan menjadi bahasa yang tidak bisa digantikan kata-kata.

Hari ini semuanya berubah cepat. Generasi sekarang merasa cukup dengan mengirim pesan pendek, stiker maaf, atau video ucapan di media sosial. Satu klik dianggap cukup untuk menggantikan perjalanan puluhan kilometer. Silaturahmi berubah menjadi notifikasi.

Memang zaman berubah. Teknologi mempermudah komunikasi. Namun ada sesuatu yang perlahan memudar: kedalaman rasa.

Hubungan manusia tidak sama dengan jaringan internet. Jika sinyal lemah, kita bisa mengganti provider. Tetapi jika hubungan keluarga melemah, tidak ada aplikasi yang bisa mengunduh kembali kehangatannya.

Ironisnya, banyak orang memiliki ribuan kontak di ponsel, tetapi merasa sendiri ketika menghadapi kesulitan. Mereka aktif di grup, tetapi asing di ruang keluarga sendiri.

Di sinilah analoginya: obor hubungan manusia tidak seperti lampu listrik yang bisa menyala dengan menekan saklar. Obor harus dijaga, diberi bahan bakar, dan diwariskan dari tangan ke tangan. Jika kita berhenti merawatnya, api itu perlahan mengecil lalu padam.

Teknologi seharusnya menjadi jembatan, bukan pengganti kehadiran. Pesan digital boleh dikirim, tetapi langkah kaki tetap harus dijalankan.

Sebab pada akhirnya, manusia bukan hanya makhluk yang terhubung oleh jaringan, tetapi oleh rasa. Dan rasa hanya hidup ketika kita benar-benar hadir.

Jangan sampai obor itu mati. Karena ketika obor padam, yang hilang bukan sekadar cahaya—tetapi juga arah pulang.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post