Mashudi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
CEMBERUT
Cemberut tanda tak senyum

CEMBERUT

Di ruang tata usaha sekolah yang lebih sering riuh oleh printer soak daripada suara diskusi kinerja, Rumy diam-diam menaruh hati pada Nisa, staf tata usaha yang terkenal dengan dua hal: teliti luar biasa dan cemberut legendaris.

Setiap pagi, Rumy datang membawa sarapan. Kadang cenil, kadang risol, sekali waktu salad buah agar terlihat modern.

“Buat siapa?” tanya Pak Humas usil.

“Cadangan kalau rapat mendadak,” jawab Rumy, padahal matanya melirik meja Nisa.

Namun Nisa selalu menolak dengan bibir maju lima senti.

“Aku bisa beli sendiri.”

Cemberutnya seperti pagar berduri: tegas, dingin, tapi justru bikin Rumy makin penasaran. Teman-teman sekantor menyebutnya “zona zaim.”

Meski ditolak berkali-kali, Rumy pantang mundur. Ia mulai mengirimi pantun lewat sticky note.

Jalan-jalan ke Banyuwangi,

Pulangnya membeli rambutan.

Dekat denganmu ada aroma wangi,

Seluruh badanku jadi gemetaran.

Nisa membaca, mendelik, lalu... menyimpan kertas itu di laci.

Suatu hari datang pegawai baru, Dimas, mutasi PPPK dari kecamatan Glagah. Rambut klimis, parfum semerbak, senyum seperti iklan pasta gigi. Baru seminggu, ia sudah berani menggoda Nisa.

“Mbak Nisa, pulang saya antar?”

Belum sempat Nisa menjawab, mendadak bibirnya maju maksimal, lebih tajam dari biasanya.

“Ngapain? Saya punya motor sendiri.”

Rumy yang melihat dari balik map hampir tepuk tangan.

Anehnya, sejak hari itu Nisa malah sering marah kalau Rumy terlihat akrab dengan GTT baru, Siska.

“Tumben, sarapannya sekarang buat orang lain?” tanyanya sambil cemberut level 5, pedas.

Rumy tersenyum, merasa menemukan terjemahan rahasia dari bibir manyun itu.

“Oh... jadi selama ini cemberutmu bukan nolak?”

Nisa salah tingkah. “Siapa bilang? Aku cuma... menjaga kualitas.”

“Cinta?”

“Sarapan!”

Seisi kantor tertawa.

Sejak saat itu, Nisa tetap cemberut. Tapi hanya kalau Rumy lupa membawa dua risol dan satu teh kotak.

Ternyata, beberapa hati memang tidak pandai berkata “iya.”

Mereka hanya lebih fasih... cemberut dulu, jatuh cinta kemudian.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post