G U R U B U M I
Ada jenis kerja yang tak berisik, tak berkilau, dan hampir selalu datang terlambat dalam laporan keberhasilan. Itulah kerja guru. Ia menanam di musim yang tidak menjanjikan panen cepat, merawat di tengah cuaca kebijakan yang sering berubah arah. Pendidikan, kita tahu, adalah simpul antara guru, murid, kurikulum, dan fasilitas. Namun dalam praktiknya, simpul itu sering ditarik dari satu ujung saja: hasil ujian, angka capaian, dan ranking yang mudah dipajang.
Di ruang kelas, kerja guru tak berhenti pada transfer pengetahuan. Ia menyimak kecemasan murid yang tak tercatat dalam kurikulum, menambal lubang kepercayaan diri, dan menegosiasikan realitas rumah yang kerap lebih keras daripada soal-soal pilihan ganda. Semua itu jarang masuk indikator kinerja. Yang dihitung tetap yang tampak: administrasi rapi, target terpenuhi, grafik naik. Yang tak tampak adalah ketekunan, empati, dan daya tahan. Ia diperlakukan seperti bonus, bukan inti.
Sejarah pernah memberi kita petunjuk: saat sebuah bangsa runtuh, yang pertama dicari adalah gurunya. Kita mengaku paham, tetapi perlakuan kita sering sebaliknya. Guru dipuji sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, lalu dibebani sebagai operator kebijakan tanpa ruang tawar. Ada yang dimarginalkan di sekolah pinggiran dengan fasilitas minim; ada pula yang diistimewakan oleh kedekatan struktural. Ketimpangan ini melahirkan ironi: profesi yang disebut pilar justru berdiri di tanah yang tidak rata.
“Guru bumi” adalah metafora yang kita butuhkan hari ini, yaitu guru yang membumi, kontekstual, membaca zaman sekaligus memahami lokalitas. Ia tak sekadar mengejar kurikulum dan menuntaskan SKP, tetapi mengolahnya agar relevan dengan hidup murid: dari literasi digital hingga etika bermedia, dari sains hingga kepekaan sosial. Namun, untuk melahirkan guru bumi, kita baru sebatas memberinya slogan. Diperlukan ekosistem yang adil: kesadaran profesi, pembelajaran bermakna, evaluasi yang manusiawi, dan penghargaan yang layak. Tidak sekadar narasi viral: guru layak digaji Rp15jt/per bulan.
Jika kita terus menilai pendidikan hanya dari yang kasatmata, kita sedang meremehkan proses guru di kelas yang paling menentukan. Kerja guru memang tak selalu terlihat. Tetapi justru di situlah masa depan disusun diam-diam, sabar, dan sering kali tanpa selebrasi.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
