Mashudi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
MENUNDA KEPASTIAN ATAU KEPASTIAN YANG TERTUNDA
Kendala rel, kereta entah datang pukul berapa?

MENUNDA KEPASTIAN ATAU KEPASTIAN YANG TERTUNDA

BMKG pernah mengabarkan bahwa April akan segera membuka pintu kemarau. Siklon tropis disebut telah bergerak menjauh, menepi ke perairan Asia, seolah langit telah selesai menangis. Namun, Banyuwangi rupanya memiliki tafsir cuacanya sendiri. Hingga Mei hampir berakhir, mendung masih bergelayut seperti ingatan yang enggan pulang. Hujan turun diam-diam; kadang rintik yang lirih, kadang deras seperti seseorang yang terlalu lama memendam kecewa.

Kita lalu sadar, prediksi sering kali hanyalah cara manusia menenangkan dirinya sendiri. Sebab alam, seperti nasib, tidak pernah benar-benar tunduk pada tabel, grafik, atau rapat koordinasi. Ia bergerak sesuka arah angin, berubah sesuka luka. Kemarau yang dijanjikan ternyata hanya jeda sebelum awan kembali menggelapkan siang. Sama seperti harapan-harapan yang terus diumumkan, tetapi tak pernah benar-benar tiba di halaman rumah kenyataan.

Empat tahun berjalan bukan waktu yang pendek. Orang-orang mungkin berkata, “tak terasa.” Padahal justru sangat terasa. Terasa seperti menunggu kereta di stasiun yang jam dindingnya rusak. Terasa seperti menanam benih di tanah yang terus dipakai menanam kegagalan yang sama. Hari berganti, papan nama berganti, tetapi lorongnya tetap sama: aktor yang sama memainkan naskah yang sama di panggung yang lampunya mulai redup dimakan usia.

Masalah yang dipelihara di ruang dan waktu yang sama hanya akan melahirkan pengulangan. Tidak ada tantangan bagi pikiran, tidak ada ruang bagi keberanian untuk tumbuh. Kreativitas akhirnya sekadar formalitas; inovasi tinggal slogan yang dicetak di baliho lalu pudar terkena hujan.

Barangkali yang dibutuhkan bukan sekadar janji musim baru, melainkan keberanian berpindah langit. Lokus baru. Tempo baru. Manusia-manusia baru yang membawa energi berbeda. Sebab perubahan tidak lahir dari menunggu cuaca membaik, tetapi dari keberanian meninggalkan payung lama yang sudah bocor sejak awal.

Wallahu a'lam !!

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post