Mashudi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
HARI KE-1 DI SEKOLAH BARU
Rapatkan barisan, jangan ada jarak

HARI KE-1 DI SEKOLAH BARU

Malam sebelum hari pertama di sekolah baru, aku justru sulit memejamkan mata. Bukan karena belum membeli sepatu baru, apalagi belum menyetrika seragam. Kegelisahanku sederhana: aku belum punya teman.

Mungkin beginilah yang dirasakan murid-murid baru menjelang MPLS. Bedanya, mereka membawa tas punggung. Aku membawa tas berisi berkas, stempel, dan segunung harapan. Ya, aku kepala sekolah. Orang-orang memanggilku Pak KS.

Pagi, 13 Juli, aku datang lebih awal karena memang jarak sekolah lebih dekat dari tempat tugasku sebelumnya. SMPN 3 Genten tampak 'megah'. Namun, bagiku, kemegahan bukan terletak pada gedung yang bagus atau taman yang rapi. Kemegahan sejati terpancar dari tawa murid, sapa guru, TU, dan petugas kebersihan yang bekerja sambil bersenandung. Sekolah yang hidup memang terdengar, bukan sekadar terlihat.

Usai upacara pembukaan MPLS, aku mengawali rapat perdana dengan sebuah pertanyaan.

"Apa ekspektasi Ibu dan Bapak terhadap saya?"

Ruangan mendadak sunyi. Barangkali mereka mengira itu soal ujian kepegawaian. Seorang guru senior berdehem pelan, lalu berkata, "Pak, mohon maaf jika saya sering telat ikut rapat."

Semua tertawa dan maklum. Aku mulai membaca daftar hadir untuk mengenali satu per satu GTK yang ada.

Seorang guru senior berkelakar, "Pak, kalau bisa, Wi-Fi jangan lebih cepat daripada anggaran kegiatan."

Gelak tawa mulai pecah. Bahkan aku ikut tertawa. Rupanya humor adalah bahasa pertama sebelum program kerja.

Dari rapat singkat itu aku belajar, setiap sekolah tidak selalu membutuhkan pemimpin yang paling hebat. Mereka lebih membutuhkan pemimpin yang mau mendengar sebelum didengar, mau bertanya sebelum memerintah, dan mau tertawa sebelum menghakimi.

Menjelang rapat usai, aku menegaskan kembali kalimat yang selalu kubawa ke mana pun bertugas.

"Jadilah yang pertama, meski belum yang terbaik."

Bukan menjadi orang pertama yang ingin dipuji, melainkan yang pertama memberi salam, meminta maaf, mengakui kekeliruan, dan memulai perubahan.

Hari pertama di sekolah baru ternyata bukan tentang memperkenalkan jabatan. Melainkan memperkenalkan kemanusiaan. Sebab, di sekolah, yang paling cepat diterima bukanlah pangkat, melainkan ketulusan.**

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post