JANGAN BUANG RINDU INI PLISSS ....!
Hari terakhir itu ternyata lebih berat daripada hari-hari mengisi e-Kinerja atau saat lembur ijazah dan SHTKA saat tubuh tidak fit dan batuk-batuk.
Bertahun-tahun mereka berada di sekolah yang sama. Anehnya, mereka hampir tak pernah mengobrol panjang. Paling banter sekadar saling sapa dan salaman. Bertukar tatapan ketika sedang rapat, lalu sama-sama menghela napas, itupun kadang-kadang. Tidak pernah ada chat WA, tidak pernah ada emoji hati. Namun entah mengapa, jika salah satu tidak hadir, yang lain diam-diam bertanya, "Lagi dinas luar atau sakit?"
Hubungan mereka seperti Wi-Fi sekolah. Tak terlihat, sering putus-putus, tetapi semua tahu kalau ia hilang, pekerjaan mendadak terasa berat.
Soal rapat, mereka nyaris tak pernah tidak sependapat. Satu mengusulkan program A, yang lain menambahkan jadi A+. Guru lain sibuk menjadi peserta profesional. Mufakat bukan hal yang berat. "Soal lain kita bahas lagi pada rapat berikutnya." Ujarnya.
Saat jam istirahat, ruang guru kembali heboh. Tiba-tiba ada celetukan.
"Kalau semua usul diterima, rapat cukup lima menit."
Aku membalas, "Kalau semua usul ditolak, lima detik juga selesai."
Ruang guru pun pecah oleh tawa. Bahkan mereka yang tadi saling menyindir mendadak akrab saat bunyi mangkok, "ting ting ting ..." tanda Pak Slamet Bakso tiba di depan resepsionis. Mungkin memang yang paling ampuh menyatukan bangsa ini bukan pidato, melainkan pentol Pak Slamet.
Lalu tibalah hari perpisahan. Semua berebut foto, seolah selama ini tak pernah saling mengkritik. Ada yang berkaca mata hitam, mungkin agar air mata tidak ikut terunggah di media sosial.
Ketika kursinya benar-benar kosong keesokan harinya, dia baru sadar bahwa ternyata yang hilang bukan sekadar sapa dan salaman. Ada rasa yang diam-diam tumbuh di sela-sela bantahan, sindiran, dan bakso hangat.
"Jangan-jangan kamu jatuh cinta?" Goda seorang teman.
Dia tertawa. "Entahlah. Yang jelas, jangan buang rindu ini, pliiss... Kadang rindu adalah satu-satunya bukti bahwa kita pernah dipertemukan dengan orang yang membuat kita bertumbuh."
"Perpisahan bukanlah akhir, ia adalah permulaan untuk saling mengenal," katanya.
Lantas terdiam. Lalu seseorang berbisik, "Sayangnya, kita baru paham setelah namanya tak lagi tertulis di papan DUK."
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
