Mashudi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
CINTA TANPA TAPI
Dede, berjemur di bawah terik mentari

CINTA TANPA TAPI

Kadang kita mengambil keputusan yang salah tanpa benar-benar menyadarinya. Saat keputusan itu berubah menjadi masalah, barulah kita sibuk mencari siapa yang salah. Ironisnya, semakin dicari, semakin banyak wajah yang tiba-tiba tampak berbeda.

Ada yang datang dengan empati. Ada yang hadir dengan emosi meluap-luap. Ada pula yang muncul ketika masalah mulai ramai—bukan untuk membantu, tetapi sekadar memastikan dirinya tetap terlihat sebagai “orang penting”.

“Cinta itu tidak pakai transaksi. Bawa apa akan dapat apa!” batinku berulang setiap kali bertemu orang yang mengaku teman.

Aku tersenyum. Bukan karena lucu, tetapi karena kadang hidup memang punya humor yang aneh.

Di sekelilingku ada banyak rupa wajah: peduli, tak acuh, masa bodoh, bahkan ada yang begitu peduli sampai-sampai urusan orang lain lebih dipahaminya daripada urusan sendiri.

“Tenang saja, saya ada di belakangmu,” kata seseorang.

Aku menoleh ke belakang.

Kosong.

Barangkali ia benar-benar ada di belakang. Hanya saja, terlalu jauh.

Masalah yang berlarut-larut ternyata bukan hanya menguras pikiran. Ia juga menguji ketulusan. Siapa yang tetap datang ketika kita tidak punya apa-apa untuk diberikan? Siapa yang bertahan ketika tidak ada keuntungan yang bisa dibawa pulang?

Di situlah cinta diuji.

Bukan cinta dalam pengertian romantis semata, tetapi cinta kepada manusia, pekerjaan, persahabatan, bahkan kepada kebenaran.

Cinta yang tulus tidak sibuk menghitung.

“Aku sudah membantu kamu, lho.”

Kalimat itu sering kali menjadi kuitansi yang diselipkan setelah sebuah pertolongan.

Padahal cinta tidak mengenal nota.

Ia tidak berkata, “Aku berbuat baik kepadamu, maka sekarang kamu berutang kepadaku.”

Cinta yang matang justru berkata, “Aku membantu karena memang itu yang seharusnya kulakukan.”

Mungkin kita pernah salah mengambil keputusan. Mungkin kita pernah memilih jalan yang ternyata membawa masalah.

Tidak apa-apa.

Kesalahan adalah guru yang kadang mengajar dengan cara menyakitkan.

Yang penting, jangan sampai kesalahan membuat kita kehilangan satu hal yang paling berharga: kemampuan untuk tetap mencintai tanpa syarat, menolong tanpa hitung-hitungan, dan berjalan tanpa membawa dendam.

Sebab pada akhirnya, cinta yang benar-benar cinta tidak membutuhkan “tapi”.

Ia cukup berkata:

Aku peduli. Titik.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post