DIDUGA KARENA DUKUNGAN MEDIA, PROGRAM SRC DI SMPN 3 GENTENG MAKIN VIRAL
GENTENG — Ada yang berbeda dari suasana pagi di SMPN 3 Genteng. Sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, murid-murid tidak langsung berhadapan dengan buku pelajaran. Mereka terlebih dahulu mengikuti rangkaian pembiasaan keagamaan yang menjadi bagian dari School Religious Culture (SRC).
Di halaman dan lingkungan sekolah, aktivitas berlangsung tertib. Sebagian murid mengikuti salat duha, membaca Asmaul Husna, melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an, serta mengikuti kegiatan Jum'at Taqwa pada waktu yang telah dijadwalkan. Guru tidak hanya menjadi pengawas, tetapi ikut hadir dan memberi contoh dalam setiap kegiatan.
Pemandangan tersebut belakangan semakin sering muncul di berbagai kanal media sosial dan pemberitaan. Dokumentasi kegiatan murid yang sederhana tetapi konsisten membuat program SRC SMPN 3 Genteng semakin dikenal. Tidak sedikit masyarakat yang kemudian bertanya, apa sebenarnya yang membuat kegiatan keagamaan di sekolah tersebut begitu mendapat perhatian?
Diduga, salah satu pemicunya adalah dukungan media yang secara rutin mengangkat aktivitas sekolah. Namun, viralnya pemberitaan bukanlah tujuan utama SRC. Justru dari situlah sekolah ingin menunjukkan bahwa budaya religius dapat dibangun melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan terus-menerus.
Murid menjadi aktor utama. Mereka tidak sekadar hadir mengikuti kegiatan, tetapi perlahan dibiasakan untuk menghayati nilai yang terkandung di dalamnya: disiplin, kebersamaan, kepedulian, kesantunan, dan tanggung jawab.
Di sela-sela kegiatan, suasana pun tampak cair. Senyum dan sapaan antarmurid berpadu dengan lantunan doa dan bacaan keagamaan. Sekolah berusaha menciptakan suasana bahwa kegiatan religius bukan sesuatu yang menakutkan atau membebani, melainkan bagian alami dari kehidupan sehari-hari.
SRC di SMPN 3 Genteng akhirnya bukan sekadar cerita tentang kegiatan keagamaan. Ia menjadi cerita tentang bagaimana sebuah kebiasaan kecil, ketika dilakukan bersama dan terus-menerus, dapat tumbuh menjadi budaya sekolah.
Jika kemudian cerita itu menjadi viral karena dukungan media, biarlah yang ikut viral bukan hanya kegiatannya, tetapi juga semangat murid untuk tumbuh menjadi generasi religius, berkarakter, berprestasi, dan berwawasan global.**
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
