Bahtsul Masail Durbuk Retak Tulang, Retak Pendapat, Tapi Tetap Rukun
Durbuk, 16 Januari 2026 – Rumah Ustadz Andre di Desa Durbuk mendadak berubah menjadi “kampus mini fiqih” pada Jumat siang sampai sore. Pasalnya, Lembaga Bahtsul Masail (LBM) MWC NU Pademawu menggelar kajian rutin dengan semangat luar biasa, meskipun ketua LBM berhalangan hadir.
Bukan tanpa alasan, sang ketua sedang udzur syar’i sekaligus medis: jatuh dari tangga, saat memperbaiki listrik, hasilnya: sakit dan harus istirahat total
Ini bukti ilmiah bahwa: ngurus NU saja berat, apalagi ngurus listrik sendiri.
Meski tanpa ketua, pengurus dan anggota tetap hadir dengan semangat tinggi. Karena bagi warga NU: kalau sudah niat bahtsul masail, hujan badai pun tetap berangkat.
Asa’il: Retak Tulang, Retak Hukum?
Masuk ke inti acara, dibahas sebuah kasus fiqih yang sangat “kontekstual”:
Ada seseorang yang mengalami retak tulang kaki kiri. Dokter menyarankan: tidak banyak bergerak agar pemulihan maksimal. Setelah dua minggu, orang tersebut: sudah bisa naik kendaraan, bisa berjalan dengan tongkat
Namun muncul masalah: ia tidak shalat Jumat, dengan alasan takut jatuh dari motor, terpeleset, atau kejadian tidak diinginkan lainnya
Pertanyaannya:
Bolehkah ia tidak shalat Jumat dengan alasan tersebut?
Mujawwib vs Audien: Adu Dalil Dimulai
Begitu pertanyaan dibacakan, suasana langsung serius, tegang, penuh konsentrasi. Para mujawwib dan audien mulai membuka kitab, mengutip qaul ulama, dan menyebut referensi fiqih. Jawabannya pun beda-beda, sama-sama merasa paling kuat, dan sama-sama bersikeras. Secara ilmiah, ini disebut dialektika hukum Islam berbasis referensi klasik. Secara NU adu dalil tapi tetap santun. Sesekali ada suara meninggi, alis mengerut tapi tidak sampai lempar sandal. Karena di NU debat boleh panas persaudaraan tetap aman.
Cair Lagi Karena Tawa
Saat suasana mulai terlalu serius, muncullah guyon khas NU, celetukan segar, dan tawa berjamaah. Efeknya luar biasa ketegangan turun, emosi reda, dan diskusi lanjut dengan kepala dingin. Ini membuktikan NU punya manajemen konflik paling alami: humor.
Konsumsi: Solusi Segala Perbedaan
Setelah perdebatan selesai, acara dilanjutkan dengan makan Bersama Dan seperti hukum alam perut kenyang hati senang. Suasana semakin cair, akrab, dan penuh senyum. Yang tadi beda pendapat sekarang satu meja, satu piring, dan satu tujuan: nambah nasi.
Penutup
Bahtsul Masail siang itu menunjukkan bahwa beda pendapat itu wajar, keras dalam dalil, lembut dalam pergaulan, serius dalam hukum, santai dalam persaudaraan. Inilah wajah NU, berdebat tanpa bermusuhan, berbeda tanpa berpisah. Semoga hasil bahtsul membawa manfaat, pencerahan, dan keberkahan. Karena mencari hukum itu ibadah, tapi menjaga persaudaraan itu lebih utama.
NU kuat, warga rukun, jam’iyah terus tumbuh.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
