Dari Duduk ke Berdiri Drama Khidmat Pelantikan PRNU Pademawu Barat
Asampitu, 10 Januari 2026 – Sabtu malam Ahad di Dusun Asampitu, Desa Pademawu Barat, rumah Ky. Imron berubah fungsi menjadi “balai besar” Nahdliyin. Pasalnya, malam itu digelar Pelantikan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Pademawu Barat yang berlangsung penuh kekhidmatan… meski sempat diwarnai drama duduk vs berdiri.
Sejak sore, para pengurus dan anggota NU tampak berdatangan dengan wajah antusias. Bukan karena ada konsumsi spesial (walau itu tetap dinanti), tapi karena semangat khidmah kepada jam’iyah yang tidak bisa ditawar-tawar.
Tim Pelantik: Resmi dan BerwibawaHadir dari jajaran MWC NU Pademawu:
· Ky. Siddik Abubakar selaku Ketua, bertindak sebagai pelantik
· Maskurdi, Sekretaris MWC NU, dipercaya menjadi penata acara (MC) yang sukses menjaga alur acara tetap rapi meski hadirin penuh canda khas NU
· Turut hadir Ky. Sakrani, Wakil Rais, yang didaulat memimpin doa penutup penuh kekhusyukan
Drama Duduk: Fenomena Sosial NUSaat prosesi pelantikan hendak dimulai, muncul fenomena unik nan ilmiah: Semua pengurus yang akan dilantik minta tetap duduk.
Alasannya sederhana tapi filosofis:
“Kami malu berdiri, soalnya jadi pengurus NU itu tidak digaji, malah sering nombok.”
Sebuah pengakuan jujur yang secara sosiologis menunjukkan:
· Tingginya budaya ikhlas
· Rendahnya budaya pamer jabatan
· Tingginya rasa tanggung jawab sosial
Ini bukan rendah diri, tapi rendah hati level dewa.
Rayuan StrukturalMelihat kondisi ini, Ky. Siddik Abubakar turun tangan. Dengan gaya khas kiai yang tegas tapi menyejukkan, beliau merayu:
“Berdiri bukan untuk pamer jabatan, tapi sebagai simbol kesiapan berkhidmah.”
Awalnya, yang mau berdiri hanya jajaran ketua. Namun, efek sugesti kepemimpinan bekerja. Perlahan tapi pasti: satu berdiri, dua berdiri, akhirnya…SEMUA berdiri.
Sebuah proses transformasi sosial yang layak diteliti oleh mahasiswa sosiologi NU.
Prosesi PelantikanPelantikan berlangsung khidmat dan tertib. Ikrar dibacakan dengan suara lantang, penuh kesadaran bahwa:
· NU bukan tempat cari cuan
· Tapi tempat menanam amal
· Bukan cari panggung
· Tapi siap dipanggil kapan saja
Setelah prosesi, Ky. Sakrani memimpin doa dengan penuh kekhusyukan. Suasana hening, jamaah khusyuk, dan beberapa tampak terharu. Aura spiritual terasa kental, membuktikan bahwa NU bukan hanya organisasi, tapi juga rumah ruhani.
PenutupPelantikan PRNU Pademawu Barat malam itu menjadi bukti bahwa:
Khidmah tidak butuh panggung tinggi, cukup niat tulus dan hati yang siap berjuang.
Dari duduk malu-malu, hingga berdiri penuh tanggung jawab, para pengurus menunjukkan bahwa jabatan di NU bukan kehormatan, tapi amanah.
Dan seperti biasa, khas NU, serius iya, formal iya, tapi tetap guyub, hangat, dan penuh tawa
Semoga kepengurusan baru membawa keberkahan, kebermanfaatan, dan keberanian untuk terus melayani umat
NU kuat, warga rukun, Islam rahmatan lil ‘alamin.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
