Maskurdi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Koordinator Tak Menangis, Hanya Menarik Napas Panjang Keberangkatan MWCNU Pademawu
NU MERAWAT JAGAD MEMBANGUN PERADABAN

Koordinator Tak Menangis, Hanya Menarik Napas Panjang Keberangkatan MWCNU Pademawu

Kegiatan keberangkatan rombongan Mujahadah Kubro MWCNU Pademawu menuju Stadion Gajayana Malang pada Ahad, 8 Februari 2026 berlangsung dengan penuh semangat, meskipun sejak awal persiapan pengurus sudah diuji dengan cobaan yang bisa dibilang “cobaan level akhir”. Kalau mujahadah biasanya untuk menenangkan hati, maka persiapan keberangkatan ini justru membuat pengurus belajar sabar sebelum sampai lokasi mujahadah.

Sejak masa pendaftaran dibuka, antusias masyarakat cukup tinggi. Di atas kertas, jumlah pendaftar mencapai 110 orang, dengan rencana armada 1 bus besar (55 seat) dan 4 bus mini (masing-masing 15 seat). Jika dihitung secara administrasi, semua sudah tampak rapi, meyakinkan, dan terlihat seperti rombongan besar yang siap berangkat dengan kompak.

Namun, kenyataan di lapangan ternyata tidak seindah tabel di buku catatan.

Dalam proses pendataan peserta, pengurus dan koordinator mulai merasakan fenomena unik: peserta yang “mendaftar dulu, mikir belakangan”. Banyak peserta yang maju mundur seenaknya. Hari ini daftar, besok batal. Pagi yakin, sore ragu. Bahkan ada yang membatalkan seolah-olah sedang membatalkan janji ngopi, padahal ini urusan perjalanan jauh.

Beberapa peserta memilih pindah ke kloter PCNU dengan alasan ingin mengejar “paket gratis”. Ada juga yang pindah menggunakan kendaraan pribadi demi kenyamanan AC dan privasi, mungkin karena merasa mujahadah lebih khusyuk kalau duduknya bisa selonjoran. Pengurus tentu memahami, meskipun dalam hati sempat bertanya: “Kalau sudah daftar bus, kenapa tiba-tiba pindah jalur seperti pindah haluan politik?” Tapi pengurus tetap menanggapinya dengan sabar, karena niatnya tetap sama: menghadiri mujahadah.

Yang paling menguji kesabaran pengurus adalah peserta yang membatalkan pada waktu-waktu genting. Bahkan pada hari H, tanggal 8 Februari 2026, ada peserta yang awalnya menyampaikan siap berangkat pukul 13.00, namun pada pukul 11.00 justru mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas, hanya mengirim pesan singkat berisi kata “maaf” lewat SMS. Singkat, padat, dan sukses membuat koordinator menarik napas panjang sambil menatap daftar peserta yang semakin menyusut.

Selain itu, ada pula alasan lain yang bermunculan dari peserta yang mundur: ada yang mendadak ada acara keluarga, ada yang merasa badan kurang fit, ada yang lupa kalau hari itu berangkat, bahkan ada yang mungkin baru sadar kalau Malang itu bukan tetangga desa. Semua alasan diterima pengurus dengan sikap legowo, walaupun dalam hati sudah seperti sedang latihan sabar berjamaah.

Akibat banyaknya peserta yang mundur, jumlah peserta akhirnya jauh berkurang dari rencana awal. Dari total 110 pendaftar, yang benar-benar berangkat hanya 84 orang, dengan rincian:

· 48 orang ikut bus mini

· 40 orang ikut bus besar

Total keseluruhan yang berangkat adalah 84 orang.

Dari 84 orang tersebut, yang melakukan pembayaran uang pendaftaran/transportasi tercatat sebanyak 74 orang, masing-masing sebesar Rp50.000. Sedangkan sisanya, terdapat beberapa peserta yang ikut namun belum menyelesaikan administrasi sesuai ketentuan yang telah disepakati. Meski demikian, pengurus tetap berusaha mengedepankan kekompakan rombongan dan kelancaran keberangkatan, karena tujuan utama adalah ibadah dan kebersamaan.

Walaupun banyak dinamika terjadi, pengurus dan koordinator tetap menunjukkan sikap sabar dan tenang. Dalam situasi yang berubah-ubah, mereka tetap sigap menyesuaikan data peserta, mengatur ulang pembagian bus, memastikan jumlah kursi mencukupi, serta memastikan keberangkatan tetap berjalan sesuai jadwal. Sikap pengurus patut dicatat: tidak mudah panik, tidak mudah marah, dan tetap ramah walaupun daftar peserta terus “berkurang perlahan seperti es batu kena matahari”.

Pada akhirnya, rombongan tetap berangkat menuju Stadion Gajayana Malang dengan penuh semangat. Walaupun jumlah tidak sesuai target awal, suasana keberangkatan tetap berjalan khidmat dan hangat. Para peserta yang berangkat pun menunjukkan kekompakan, semangat kebersamaan, dan niat yang kuat untuk mengikuti mujahadah kubro dengan penuh harap mendapatkan keberkahan.

Kegiatan ini menjadi pelajaran penting bahwa dalam kegiatan besar seperti ini, bukan hanya kendaraan yang perlu disiapkan, tetapi juga mental pengurus. Karena ternyata, yang paling sering berubah bukan jadwal busnya, tapi “jadwal hati peserta”.

Namun demikian, pengurus MWCNU Pademawu tetap bersyukur, karena rombongan tetap dapat berangkat dengan lancar, selamat, dan dalam suasana kekeluargaan. Semoga perjalanan dan kegiatan mujahadah kubro ini membawa keberkahan bagi seluruh peserta, pengurus, dan masyarakat Pademawu pada umumnya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post