Maskurdi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mujahadah Qubro di Gajayana Peserta Ijtihad, Korlap Istighfar
NU MERAWAT JAGAD MEMBANGUN PERADABAN

Mujahadah Qubro di Gajayana Peserta Ijtihad, Korlap Istighfar

Kegiatan keikutsertaan rombongan MWCNU Pademawu dalam agenda Mujahadah Qubro di Stadion Gajayana Malang pada tanggal 7–8 Februari 2026 berjalan dengan penuh semangat, kekhidmatan, sekaligus dibumbui “ujian mental” yang membuat korlap dan pengurus benar-benar merasa sedang ikut mujahadah sebelum mujahadah dimulai.

Sejak keberangkatan hingga kepulangan, kegiatan ini tidak hanya menjadi perjalanan spiritual, tetapi juga menjadi perjalanan kesabaran tingkat tinggi. Jika biasanya orang mencari berkah di Malang, maka pengurus MWCNU Pademawu sepertinya mendapatkan bonus tambahan: pahala sabar paket lengkap.

Perjalanan Menuju Malang dan Transit di SMK 2 Malang

Rombongan tiba dan dijadwalkan transit di SMK 2 Malang sebelum melanjutkan ke Stadion Gajayana. Di titik ini sebenarnya semua sudah tertata rapi. Instruksi korlap sudah disampaikan dengan jelas: semua peserta turun di lokasi transit, istirahat secukupnya, lalu segera melanjutkan perjalanan menuju stadion sesuai arahan.

Namun, tepat ketika bus hampir sampai di lokasi transit, mulai terlihat bahwa sebagian peserta sudah memasuki mode “ijtihad pribadi”.

Ada peserta yang menolak turun di tempat transit dan bersikeras ingin langsung diantar ke stadion menggunakan bus. Seolah-olah transit itu hanya untuk orang-orang yang tidak kuat iman. Padahal transit ini adalah bagian dari teknis perjalanan yang sudah disepakati bersama. Korlap pun mulai merasakan tanda-tanda bahwa perjalanan ini akan panjang, bukan karena jarak Malang, tetapi karena “jarak antara instruksi dan kenyataan”.

Drama Setelah Transit: Mujahadah Sudah Mulai, Tapi Peserta Mau Tidur

Setelah transit, sebagian peserta kembali menunjukkan keteguhan hati yang luar biasa—bukan dalam hal ibadah, tetapi dalam hal mempertahankan keinginan tidur.

Ada peserta yang tidak mau segera melanjutkan ke stadion dengan alasan ingin tidur dulu di tempat transit, padahal waktu mujahadah sudah mulai. Pada kondisi ini, korlap harus memilih: membangunkan peserta atau membangunkan kesadarannya. Dan yang jelas, keduanya sama sulitnya.

Pengurus tetap berusaha sabar, membujuk, dan mengingatkan bahwa tujuan utama datang jauh-jauh ke Malang adalah mengikuti mujahadah, bukan mujahadahnya ditunda karena kasur transit lebih menggoda.

Insiden Peserta Jatuh Hingga Pingsan

Saat rombongan mulai bersiap berangkat dari tempat transit menuju stadion, terjadi insiden yang cukup serius. Salah satu peserta terpeleset karena lantai licin, jatuh hingga pingsan. Situasi ini sempat membuat rombongan panik, namun pengurus segera sigap memberikan pertolongan.

Peserta tersebut akhirnya harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Pada titik ini, suasana rombongan berubah menjadi haru dan khawatir. Pengurus kembali diuji: di tengah jadwal kegiatan yang padat, tetap harus memastikan keselamatan peserta menjadi prioritas utama.

Sampai Stadion: Ada Peserta Menolak Masuk

Setelah sampai di area Stadion Gajayana, rombongan mulai diarahkan masuk ke lokasi kegiatan mujahadah. Namun, ternyata ujian belum selesai. Ada beberapa peserta yang menolak masuk ke area stadion.

Entah karena lelah, bingung, atau mungkin merasa stadion terlalu ramai, sebagian peserta memilih berhenti di luar. Ini tentu membuat pengurus kembali bekerja ekstra: mengarahkan, membujuk, bahkan mengingatkan bahwa jauh-jauh datang ke Malang masa hanya sampai pagar stadion.

Dalam kondisi seperti ini, korlap harus memainkan banyak peran sekaligus: sebagai pengarah, pengasuh, pemandu wisata, sekaligus “satpam spiritual” agar peserta tidak tercecer.

Setelah Acara Selesai: Hilang Dua Orang, dan Hilang Kesabaran Hampir Menyusul

Setelah acara mujahadah selesai pada pagi hari sekitar pukul 08.00, rombongan bersiap kembali menuju bus untuk pulang. Pengurus mulai merasa lega. Namun ternyata, rasa lega itu hanya berlangsung sebentar.

Dua peserta dilaporkan hilang karena salah jalan menuju bus. Yang lebih unik, dua peserta yang hilang itu juga masih sempat berpisah lagi, jalan sendiri-sendiri karena masing-masing punya “ijtihad pulang” yang berbeda. Jadi hilangnya bukan berdua, tetapi hilangnya model solo karier.

Satu peserta berhasil ditemukan, sementara satunya masih menghilang. Pada titik ini, korlap mulai pusing bukan hanya tujuh keliling, tapi sudah masuk level “pusing delapan keliling”.

Korlap Minta Share Lokasi, Sopir Kirim Ceramah

Dalam upaya menemukan titik parkir bus, korlap meminta sopir untuk mengirimkan share lokasi parkir. Harapannya sederhana: tinggal klik, buka maps, selesai.

Namun yang terjadi di luar dugaan.

Alih-alih mengirim share lokasi, sopir justru mengirim pesan panjang seperti ceramah penunjuk jalan. Sudah diminta sekali, jawabannya ceramah. Diminta dua kali, ceramah lagi. Seolah-olah sopir bukan pengemudi bus, tapi pengisi kajian “Navigasi Jalan Menuju Parkiran”.

Ternyata masalahnya sederhana: sopir tidak tahu cara share lokasi. Setelah diminta sampai tiga kali, barulah bisa, itupun setelah korlap marah dan meminta sopir minta bantuan orang lain untuk mengirim share lokasi.

Pada momen itu, korlap mungkin sudah tidak butuh share lokasi lagi, tapi butuh share kesabaran.

Koordinator Bus Pindah Bus, Meninggalkan Bus Sendiri

Di tengah kekacauan mencari peserta hilang, muncul kejadian yang lebih membingungkan: salah satu koordinator bus malah pindah ke bus lain, meninggalkan bus yang seharusnya ia koordinatori.

Tidak jelas apakah beliau sedang “khilaf”, salah bus, atau memang merasa bus lain lebih menarik. Namun yang pasti, bus yang ditinggalkan menjadi kehilangan koordinasi, sementara korlap harus kembali menambah beban kerja.

Pengurus hanya bisa mengelus dada. Kalau bus bisa bicara, mungkin busnya sudah protes: “Saya ini siapa yang ngurus?”

Sudah Ketemu Dua yang Hilang, Muncul Lagi Tiga yang Hilang

Setelah kerja keras, dua peserta yang hilang akhirnya berhasil ditemukan. Pengurus mulai merasa lega, walaupun napas sudah tinggal separuh.

Namun, belum sempat duduk tenang, muncul kabar baru: ternyata ada tiga peserta dari bus lain yang hilang juga.

Penyebabnya bukan tersesat, bukan diculik, bukan hilang sinyal. Mereka hilang karena diajak jalan menuju parkiran bus oleh koordinatornya, tapi mereka menolak jalan. Mereka memilih duduk-duduk santai sambil makan di taman air mancur sekitar stadion.

Akhirnya rombongan terpaksa meninggalkan mereka karena mengira mereka mengikuti dari belakang. Ternyata mereka tidak mengikuti, malah menikmati suasana seperti wisata keluarga.

Korlap yang sudah lega, kembali harus mencari lagi. Kesabaran yang tadi sudah hampir habis, dipaksa refill lagi.

Evaluasi Keuangan: Ongkos 6.800.000, Uang Masuk 1.250.000

Selain drama peserta hilang dan koordinasi yang penuh kejutan, persoalan keuangan menjadi ujian pamungkas.

Kesepakatan biaya sewa 4 bus mini adalah sebesar:

Rp 6.800.000,-

Namun, hasil pembayaran dari peserta yang membayar hanya terkumpul:

Rp 1.250.000,-

Artinya, masih ada kekurangan yang sangat besar. Pada saat itu korlap benar-benar mengalami kondisi “pusing 7 keliling”, bahkan mungkin sudah naik level menjadi “pusing muter-muter kayak kompas rusak”.

Pertanyaan yang muncul adalah pertanyaan klasik yang paling berat dalam organisasi:

“Siapa yang harus nombo’i?”

Kalau mujahadah itu tujuannya mendekatkan diri kepada Allah, maka kondisi keuangan ini mendekatkan korlap kepada kenyataan hidup yang keras.

Penutup

Secara umum, kegiatan MWCNU Pademawu dalam Mujahadah Qubro di Stadion Gajayana Malang berjalan lancar dan khidmat, meskipun diwarnai berbagai insiden yang menguji kesabaran pengurus, koordinator, bahkan mungkin menguji kekuatan otot kaki karena terlalu sering bolak-balik mencari peserta.

Namun demikian, pengurus tetap bersyukur karena kegiatan tetap dapat dilaksanakan, peserta sebagian besar kembali dengan selamat, dan semangat kebersamaan tetap terjaga meskipun beberapa peserta tampaknya lebih semangat mencari taman air mancur daripada mencari bus.

Kegiatan ini menjadi pelajaran besar bahwa perjalanan mujahadah bukan hanya soal dzikir dan doa, tetapi juga soal disiplin, koordinasi, dan tanggung jawab. Karena ternyata, yang paling berat dalam perjalanan bukan jarak Malang, tetapi mengatur peserta yang “semau sendiri”.

Semoga kegiatan ini membawa berkah, pahala, serta menjadi evaluasi bersama agar kegiatan serupa ke depan lebih tertib, lebih disiplin, dan lebih menghargai jerih payah pengurus.

Dan semoga korlap tidak perlu mujahadah tambahan setelah pulang.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post