MUSRAN PRNU PADEMAWU TIMUR KRITIS DI FORUM, HEMAT DI KESIAPAN JADI PENGURUS
Pademawu Timur — Pada Rabu malam Kamis, 28 Januari 2026, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Pademawu Timur melaksanakan Musyawarah Ranting (Musran). Kegiatan ini dipandu oleh jajaran MWC NU Pademawu yang hadir khusus, yakni Maskurdi selaku Sekretaris MWC NU Pademawu, Kyai Sakrani sebagai Wakil Rais, serta Kyai Haqqul Yaqin selaku Katib.
Sejak awal acara, suasana musyawarah sudah terasa berbeda. Forum berjalan hidup, dinamis, dan—boleh dibilang—cukup berisik secara intelektual. Para peserta hadir dengan semangat bertanya yang tinggi. Hal-hal mendasar seperti istilah Syuriyah dan Tanfidziyah saja menjadi bahan diskusi panjang, lengkap dengan argumen, sanggahan, dan pembelaan, seolah-olah forum sedang menyiapkan skripsi kolektif tentang struktur NU.
Belum selesai satu pertanyaan, muncul pertanyaan lain. Belum tuntas satu jawaban, sudah ada interupsi. Forum benar-benar menunjukkan bahwa warga NU Pademawu Timur terkenal kritis, detail, dan tidak mudah menerima sesuatu tanpa penjelasan tuntas.
Namun suasana berubah perlahan ketika musyawarah memasuki agenda inti: pemilihan pengurus ranting.
Jika sebelumnya forum penuh dengan adu argumen, maka pada sesi ini suasana mendadak menjadi sangat tenang. Yang terdengar justru kalimat-kalimat seperti:
“Yang lain saja lebih layak,” “Saya masih belajar,” atau menunjuk sambil berkata, “Beliau saja.”
Beberapa peserta secara jujur menyampaikan kekhawatirannya. Menjadi pengurus NU di Pademawu Timur bukan perkara ringan. Dengan karakter warga yang kritis-kritis, para calon pengurus mengaku takut jika nanti setiap langkah, keputusan, dan program akan menjadi bahan kritik tajam. Bukan takut amanahnya, tapi takut kolom komentarnya.
Melihat dinamika tersebut, Maskurdi selaku pimpinan musyawarah dari MWC NU Pademawu hanya tersenyum dan mengangguk-angguk kecil. Tidak perlu penjelasan panjang. Dari awal forum hingga sesi pemilihan, semuanya sudah terbaca dengan jelas. Belum diberi tahu pun, sudah paham dari tadi.
Setelah melalui proses musyawarah yang cukup panjang—antara diskusi, penunjukan, penolakan halus, dan pertimbangan batin—akhirnya ada juga sosok yang rela berkorban dan menyatakan kesediaannya menjadi pengurus. Keputusan tersebut disambut lega oleh forum, sekaligus menjadi bukti bahwa di tengah kritisisme yang tinggi, semangat khidmah NU tetap menemukan jalannya.
Musran PRNU Pademawu Timur pun ditutup dengan harapan besar: semoga kepengurusan yang terbentuk mampu mengelola dinamika warga yang kritis menjadi energi positif, sehingga NU di Pademawu Timur tidak hanya ramai dalam diskusi, tetapi juga aktif dalam khidmah dan pengabdian.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
