Maskurdi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Pengurus MWCNU Pademawu Menghadiri Undangan Rapat di Kantor PCNU Pamekasan
NU MERAWAT JAGAD MEMBANGUN PERADABAN

Pengurus MWCNU Pademawu Menghadiri Undangan Rapat di Kantor PCNU Pamekasan

Pada hari yang penuh semangat ke-NU-an (dan juga penuh aroma kopi kantor), Pengurus MWCNU Pademawu menghadiri undangan rapat resmi dari PCNU Pamekasan yang bertempat di Kantor PCNU Pamekasan. Rapat ini merupakan agenda penting karena membahas beberapa persiapan besar yang akan dilaksanakan oleh PCNU Pamekasan dalam waktu dekat.

Rapat tersebut dihadiri oleh pengurus MWCNU se-Kabupaten Pamekasan. Yang hadir banyak sekali, sampai terasa seperti acara haul, hanya bedanya ini bukan baca manaqib tapi baca teknis kegiatan. Pokoknya pengurus MWCNU se-Pamekasan hadir dengan penuh antusias, menunjukkan bahwa semangat jam’iyyah masih kuat, meskipun beberapa wajah tampak seperti habis perjalanan jauh dari sawah dan ladang.

Dari MWCNU Pademawu, yang hadir adalah:

· Kyai Sidik selaku Ketua MWCNU Pademawu

· Maskurdi selaku Sekretaris MWCNU Pademawu

Keduanya hadir dengan kompak dan siap menyimak pembahasan, meskipun dalam hati mungkin sudah siap menghadapi “pertanyaan musyawwirin” yang biasanya lebih rumit dari soal ujian matematika kelas 6.

Agenda Rapat

Adapun agenda rapat yang dibahas meliputi:

1. Pembahasan teknis persiapan Konfercab PCNU Pamekasan

2. Teknis keberangkatan rombongan Mujahadah Kubro di Stadion Gajayana Malang

3. Teknis pelaksanaan Program Syiar Ramadhan PCNU Pamekasan untuk Ramadhan yang akan datang

Ketiga agenda tersebut disampaikan secara sistematis oleh panitia, namun suasana rapat tetap cair khas NU: serius tapi tidak tegang, resmi tapi tetap ada senda gurau.

Pembahasan yang Menghangatkan Forum

Ketika memasuki pembahasan teknis keberangkatan ke Mujahadah Kubro Malang, suasana rapat mulai terasa lebih “hidup”. Apalagi setelah diketahui bahwa rombongan akan berangkat dengan jumlah bus lebih dari 20 bus dan berangkat bersama-sama serta akan dikawal mobil patwal. Ini membuat sebagian peserta rapat langsung terbayang perjalanan besar yang seperti iring-iringan pengantin, hanya saja ini pengantinnya adalah warga NU seluruh Jawa Timur.

Namun, sebagaimana tradisi rapat NU yang selalu penuh hikmah dan penuh “pertanyaan jujur dari hati”, beberapa musyawwirin mulai melontarkan pertanyaan yang membuat panitia sesekali menghela napas panjang.

Pertanyaan Musyawwirin yang Muncul

Beberapa pertanyaan yang muncul di forum antara lain:

Salah satu musyawwirin bertanya dengan nada serius tapi sangat membumi:

“Kalau di perjalanan ke Malang ada penumpang bus yang sakit perut atau mau kencing, bagaimana cara mengatasinya? Soalnya rombongan berangkat bersama, busnya lebih dari 20, dikawal patwal.”

Pertanyaan ini membuat forum mendadak senyap beberapa detik, bukan karena tidak penting, tapi karena terlalu penting. Panitia tampak berpikir keras, seolah sedang mencari dalil fiqh safar bab “kebelet dalam rombongan patwal”.

Pertanyaan berikutnya tidak kalah menguji kesabaran panitia:

“Kalau nanti sudah sampai Stadion Gajayana, bagaimana caranya agar peserta tidak hilang? Soalnya yang hadir itu warga NU se-Jawa Timur.”

Pertanyaan ini langsung membuat panitia seperti membayangkan lautan manusia bersarung dan berpeci, sementara satu rombongan mencari satu orang yang hilang, seperti mencari sandal yang tertukar di masjid.

Tidak berhenti sampai di situ, muncul juga pertanyaan yang sangat administratif namun tetap khas NU:

“Apakah PRNU boleh mendaftar sebagai peserta peninjau konfercab walaupun masa berlaku SK-nya sudah habis?”

Forum langsung terasa seperti sidang gabungan antara rapat organisasi dan konsultasi surat-menyurat. Panitia tampak menahan diri agar tidak menjawab dengan kalimat, “SK habis itu seperti susu, Pak…”

Kemudian muncul lagi pertanyaan yang lebih modern, lebih digital, dan lebih membuat panitia keringat dingin:

“Bagaimana cara daftar online untuk acara Muskercab? Apa itu link pendaftaran? Bentuknya seperti apa?”

Pertanyaan ini membuat sebagian peserta yang masih setia dengan HP jadul langsung menoleh ke peserta yang lebih muda. Panitia pun terlihat bingung antara menjawab teknis atau menjawab sambil mengajari cara klik tautan.

Tidak cukup sampai di situ, ada pula pertanyaan yang sensitif tapi sangat realistis:

“Kalau peserta mujahadah, boleh tidak laki-laki dan perempuan satu bus?”

Pertanyaan ini membuat panitia langsung saling pandang. Forum terasa seperti berubah menjadi bahtsul masail dadakan. Ada yang mengangguk pelan, ada yang tersenyum, dan ada yang menatap lantai sambil menahan tawa.

Respons Panitia

Panitia rapat terlihat cukup kewalahan menghadapi pertanyaan-pertanyaan tersebut. Namun, semua tetap dijawab dengan bijak, sabar, dan penuh gaya NU: tidak tergesa-gesa, tidak emosian, dan tetap menjaga suasana agar tidak berubah jadi debat.

Beberapa jawaban panitia intinya mengarah pada pentingnya:

· koordinasi ketua rombongan,

· penanggung jawab bus,

· titik kumpul yang jelas,

· identitas rombongan,

· serta komunikasi yang tertib antar peserta.

Meskipun begitu, panitia tetap terlihat seperti sedang diuji mentalnya, karena pertanyaan yang datang bukan hanya teknis kegiatan, tapi juga teknis perut dan teknis kebelet.

Penutup

Rapat berjalan lancar hingga selesai. Walaupun banyak pertanyaan “unik” dari musyawwirin, namun hal tersebut justru menjadi bukti bahwa pengurus NU di tingkat MWC dan ranting benar-benar peduli pada detail pelaksanaan kegiatan, bahkan detail yang kadang tidak terpikir oleh panitia.

Kehadiran pengurus MWCNU Pademawu, yaitu Kyai Sidik dan Maskurdi, menjadi bentuk komitmen dalam mendukung agenda besar PCNU Pamekasan, baik persiapan Konfercab, keberangkatan Mujahadah Kubro, maupun pelaksanaan syiar Ramadhan.

Semoga seluruh rangkaian kegiatan yang direncanakan berjalan lancar, penuh berkah, serta membawa manfaat besar bagi jam’iyyah dan masyarakat.

Dan semoga juga, rombongan bus nanti tidak ada yang hilang di stadion, tidak ada yang kebelet tanpa solusi, dan tidak ada yang bingung mencari link pendaftaran sampai tanya ke tetangga.

Karena NU itu bukan hanya soal acara besar… tapi juga soal kesiapan menghadapi kenyataan hidup: termasuk soal kencing dan perut di perjalanan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post