Maskurdi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Strategi Kursi Depan Demi Meja dan Konsumsi
NU MERAWAT JAGAD MEMBANGUN PERADABAN

Strategi Kursi Depan Demi Meja dan Konsumsi

Pada hari Ahad, 15 Februari 2026, Pengurus PC PERGUNU Pamekasan turut hadir dalam kegiatan Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama (Konfercab NU) Pamekasan yang diselenggarakan di lingkungan Pondok Pesantren Bustanul Ulum, Somber Anom, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan.

Kehadiran PC PERGUNU Pamekasan dalam forum tersebut diwakili langsung oleh ketua, dengan status sebagai peserta peninjau. Secara kelembagaan, partisipasi ini menunjukkan komitmen PERGUNU dalam menjaga kesinambungan organisasi serta memperkuat sinergi antar badan otonom dan lembaga NU di tingkat cabang.

Kedatangan dan Registrasi Peserta

Sesampainya di lokasi konferensi, ketua PC PERGUNU Pamekasan segera menuju meja registrasi untuk melakukan pengisian daftar hadir sebagaimana prosedur formal peserta kegiatan. Tahap ini berjalan tertib dan sesuai tata kelola acara konferensi yang telah disiapkan panitia.

Namun, terdapat satu fenomena menarik yang layak dicatat sebagai “data lapangan” sekaligus bahan refleksi sosial:

para peserta dari unsur MWC dan ranting memperoleh paket lengkap, mulai dari ATK, tas, hingga seragam batik peserta.

Sementara itu, peserta dari unsur lembaga dan banom (termasuk PERGUNU) tidak memperoleh jatah seragam batik tersebut.

Dengan kata lain, PERGUNU hadir bukan membawa batik seragam, tetapi membawa kesabaran organisasi dan keteguhan hati.

Kalau boleh ditulis dalam bahasa akademik:

terjadi ketimpangan distribusi atribut peserta berdasarkan kategori struktural.

Kalau dalam bahasa rakyat:

kasihan… deh elu… PERGUNU.

Posisi Duduk dan Strategi Logistik Konsumsi

Setelah registrasi selesai, ketua PC PERGUNU Pamekasan mengambil posisi duduk di bagian depan, tepatnya pada barisan kursi yang berdekatan dengan para masayikh dan tokoh-tokoh penting NU.

Pilihan duduk di depan ini bukan semata-mata karena ingin terlihat eksis, tetapi dapat dianalisis sebagai strategi logistik yang sangat rasional. Sebab, di bagian depan terdapat deretan meja, dan di atas meja tersebut tersedia konsumsi lengkap.

Sementara itu, di bagian belakang peserta hanya mendapatkan kursi tanpa meja, sehingga kemungkinan besar konsumsi harus “berjuang sendiri” dengan posisi yang kurang ergonomis.

Maka dapat disimpulkan bahwa ketua PERGUNU menerapkan prinsip:

“Efisiensi tempat duduk menentukan efektivitas konsumsi.”

Pembukaan Konferensi dan Agenda Resepsi Tokoh

Kegiatan konferensi berlangsung dengan agenda pembukaan yang berjalan khidmat. Setelah sesi pembukaan selesai, seluruh masayikh dan tokoh-tokoh utama dipersilakan menuju ruang ramah tamah sebagai bagian dari tradisi penghormatan dalam forum NU.

Ketua PC PERGUNU Pamekasan turut mengikuti rombongan para masayikh menuju ruang tersebut, menunjukkan bahwa kehadiran PERGUNU tidak sekadar formalitas, melainkan juga sebagai bagian dari etika organisasi dan penghormatan terhadap ulama.

Fenomena “Hilangnya Ketua” di Tengah Konferensi

Namun, konferensi yang direncanakan berlangsung seharian ternyata hanya diikuti ketua PERGUNU hingga sekitar separuh hari.

Pada suatu titik, ketua PERGUNU tidak lagi terlihat di area konferensi.

Awalnya hal ini menimbulkan pertanyaan kecil di kalangan peserta:

apakah beliau sedang rapat tertutup?

apakah sedang diskusi strategis?

atau sedang melakukan kajian mendalam di balik layar?

Namun setelah ditelusuri (secara ilmiah, tentu saja, dengan metode “usut punya usut”), diketahui bahwa ketua PERGUNU pulang lebih awal karena adanya tamu dari luar kota yang telah menunggu di rumah.

Dengan demikian, ketua PERGUNU melakukan langkah prioritas yang bisa dikategorikan sebagai:

pengambilan keputusan cepat berbasis kebutuhan domestik.

Dalam istilah lain:

konferensi penting, tapi tamu di rumah lebih gawat.

Penutup

Secara keseluruhan, kehadiran PC PERGUNU Pamekasan dalam Konfercab NU Pamekasan 2026 berjalan tertib dan menunjukkan partisipasi aktif lembaga dalam agenda organisasi.

Walaupun tidak memperoleh seragam batik peserta, PERGUNU tetap hadir dengan semangat dan kontribusi moral sebagai peninjau. Kehadiran ketua di barisan depan juga menunjukkan posisi strategis PERGUNU dalam menjaga komunikasi kelembagaan di lingkungan NU.

Dan meskipun akhirnya ketua harus meninggalkan lokasi lebih awal, hal tersebut terjadi bukan karena kurangnya komitmen, melainkan karena adanya tanggung jawab sosial lain yang juga tak kalah penting.

Kesimpulannya:

PERGUNU hadir, PERGUNU duduk depan, PERGUNU ikut ramah tamah…

tapi PERGUNU pulang duluan.

Karena di rumah ada tamu…

dan tamu itu bukan peserta peninjau.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post