Dari Mobil Ranting Sampai Acabis Ketika Tradisi NU Bertemu Manajemen Modern
Suasana Kantor MWCNU Pademawu beberapa waktu lalu, tepatnya Rabu malam Kamis, 13 Mei 2026 tampak lebih ramai dari biasanya. Bukan karena ada pembagian sembako atau pertandingan sepak bola antarbanom, melainkan karena digelarnya Musyawarah Kedua Panitia PHBI 1 Muharram yang melibatkan hampir seluruh elemen Nahdliyin se-Kecamatan Pademawu.
Acara ini dihadiri oleh jajaran pengurus MWCNU, lembaga, badan otonom (banom), hingga pengurus PRNU se-Kecamatan Pademawu. Dari unsur MWCNU hadir lengkap trio paling sakral dalam dunia organisasi NU: Rais, Ketua, dan Sekretaris. Dalam ilmu organisasi modern, ini disebut trinitas pengambil keputusan. Dalam tradisi NU, ini disebut “kalau ketiganya hadir, berarti rapat benar-benar penting.”
Dari jajaran ranting NU, sekitar 80% pengurus hadir memenuhi undangan. Angka ini cukup fantastis dan hampir mendekati tingkat kehadiran jamaah tahlil ketika konsumsi diumumkan lebih awal.
Sementara itu, unsur banom yang hadir antara lain GP Ansor, Muslimat NU, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, dan ISNU. Sedangkan dari unsur lembaga hadir LPNU, LDNU, LKNU, LAZISNU, dan LBM NU.
Tentu saja, panitia inti juga hadir lengkap: ketua, sekretaris, dan bendahara. Sebuah formasi yang dalam banyak organisasi sering disebut “tiga serangkai pencari solusi sekaligus pencari dana.”
Pembahasan Pertama: Mobilisasi Massa Nahdliyin
Agenda pertama rapat membahas instruksi pengerahan massa untuk menghadiri kegiatan Pelantikan PCNU Pamekasan periode 2026–2031 yang akan dirangkai dengan pengajian umum bersama Yahya Cholil Staquf atau yang lebih akrab disebut Gus Yahya.
Semangat para pengurus ranting benar-benar luar biasa. Seluruh ranting NU se-Kecamatan Pademawu yang berjumlah 18 ranting menyatakan kesiapan minimal mengirim satu unit mobil minibus untuk memeriahkan acara tersebut.
Secara ilmiah, keputusan ini menunjukkan tingginya solidaritas sosial Nahdliyin. Secara praktis, ini juga menunjukkan bahwa grup WhatsApp ranting-ranting NU masih aktif dan belum hanya dipenuhi ucapan “Aamiin” dan poster pengajian.
Pembahasan Inti: PHBI 1 Muharram
Memasuki agenda inti, musyawarah mulai membahas format kegiatan PHBI 1 Muharram 1448 H. Setelah melalui diskusi yang cukup serius—dan beberapa kali diselingi guyonan khas NU—muncullah beberapa opsi keputusan.
Untuk model acara, mayoritas peserta mengarah pada konsep pengajian umum. Alasannya sederhana namun ilmiah: masyarakat NU paling sulit menolak tiga hal, yakni shalawat, pengajian, dan konsumsi gratis.
Adapun lokasi kegiatan direncanakan bertempat di PP Haqqul Yaqin dengan pilihan tanggal pelaksanaan antara 18 Juni, 19 Juni, atau 27 Juni 2026.
Sementara itu, nama-nama penceramah yang menjadi kandidat utama benar-benar kelas berat dunia perceramahan Nahdliyin, yaitu Marsudi Syuhud Mustamar, Azaim Ibrahimy, dan Ma'ruf Khozin.
Ketika nama-nama itu disebut, suasana rapat langsung berubah menjadi seperti bursa transfer pemain sepak bola. Semua berharap “transfer penceramah” berhasil dan jadwal beliau tidak bentrok.
Dana Sudah Jalan, Konsumsi Sudah Aman
Dalam laporan bendahara, dana kegiatan yang sudah terkumpul mencapai Rp6.200.000. Nominal ini disambut syukur bersama, karena dalam tradisi kepanitiaan NU, uang enam juta terasa seperti enam ratus juta apabila dikelola dengan gotong royong dan doa para masyayikh.
Kabar paling melegakan datang dari Muslimat NU Pademawu yang siap menyumbang 1.000 paket konsumsi untuk jamaah yang hadir. Ini adalah bukti nyata bahwa kekuatan terbesar dalam acara NU sering kali bukan pada sound system, melainkan pada dapur Muslimat.
Sementara itu, Afifi Karim selaku tuan rumah juga menyatakan kesiapan menjamu konsumsi khusus para masyayikh. Dalam tradisi pesantren, ini bukan sekadar makan biasa, melainkan bentuk khidmah tingkat tinggi yang pahalanya diyakini bisa mengalahkan rasa capek panitia.
Tugas Panitia: “Acabis” Secepatnya
Di penghujung rapat, muncullah keputusan paling penting sekaligus paling menegangkan bagi panitia: segera melakukan “acabis” kepada para kiai kandidat penceramah.
Bagi warga NU, istilah “acabis” memiliki makna mendalam. Ia bukan sekadar sowan biasa, tetapi perpaduan antara diplomasi, harapan, doa, dan kesiapan mental menerima jawaban:
“Insyaallah kalau tidak ada halangan.”
Musyawarah ditutup dengan penuh optimisme. Semua berharap kegiatan PHBI 1 Muharram nanti berjalan sukses, meriah, penuh keberkahan, dan tentu saja… tidak hujan saat parkir kendaraan mulai membludak.
Karena dalam tradisi NU, sebesar apa pun acara, seruwet apa pun kepanitiaan, semuanya akan terasa ringan selama masih ada kebersamaan, gotong royong, kopi panas, dan candaan receh antaraktivis.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
