Maskurdi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
LAILATUL IJTIMA PRNU TANJUNG JALAN GELOMPANG, HATI TERANG
NU MERAWAT JAGAD MEMBANGUN PERADABAN

LAILATUL IJTIMA PRNU TANJUNG JALAN GELOMPANG, HATI TERANG

Sabtu malam Minggu (4 April 2026), agenda rutin Lailatul Ijtima’ PRNU Desa Tanjung kembali digelar. Kali ini bertempat di kediaman Kiai Usmuni, Dusun Kotasek. Secara lokasi, tempatnya mungkin tidak masuk kategori “wisata ramah kendaraan”, tapi soal keberkahan… insyaAllah kelasnya premium.

Perjalanan menuju lokasi benar-benar menguji keimanan sekaligus ketahanan shockbreaker. Jalanan sirtu—alias pasir dan batu—tersaji alami tanpa polesan. Kalau bahasa halusnya, “masih perawan dari aspal.” Ditambah lagi penerangan jalan yang super minimalis. Hanya mengandalkan lampu-lampu rumah warga yang remang-remang di pinggir jalan. Kalau tidak niat, bisa-bisa belok ke kandang sapi tanpa sadar.

Jujur saja, sempat terlintas rasa malas untuk berangkat. Pikiran mulai bernegosiasi:

“Bagaimana kalau absen saja malam ini?”

“Toh jalannya begini…”

“Toh gelap…”

“Tapi… nanti Kiai Usmuni bagaimana?”

Nah, di sinilah hati mulai kalah dengan rasa “eman karo NU”. Apalagi mengingat sosok Kiai Usmuni—beliau sudah sepuh, tapi semangatnya masih seperti santri baru lulus. Aktif di NU ranting, hadir di kegiatan, bahkan masih bersedia menjadi tuan rumah. Masa yang muda kalah sama yang sepuh? Kan ndak enak, rek!

Akhirnya, dengan niat lillahi ta’ala (dan sedikit dorongan rasa sungkan), langkah pun tetap melaju. Pelan-pelan, yang penting sampai tujuan, bukan sampai viral.

Sesampainya di lokasi, suasana langsung berubah. Hangat, guyub, penuh senyum khas warga NU. Rasa capek di jalan langsung lunas begitu melihat wajah-wajah sahabat jamaah yang tetap setia hadir. Ternyata bukan cuma kita yang “berjuang”, banyak juga yang melewati ujian jalanan serupa. Bedanya, ada yang motornya bunyi “kriyet-kriyet”, ada juga yang bunyi doanya lebih keras dari mesinnya 😄

Acara Lailatul Ijtima’ berjalan sebagaimana mestinya: dimulai dengan pembacaan tahlil, istighotsah, dan doa bersama. Suasana khidmat terasa, meskipun sesekali diselingi batuk-batuk kecil—entah karena dingin, atau karena habis ketawa sebelum acara dimulai.

Kiai Usmuni tampak sumringah melihat jamaah yang hadir. Raut wajah beliau seperti mengatakan, “Alhamdulillah, NU masih punya harapan.” Dan benar saja, kehadiran para jamaah malam itu bukan sekadar rutinitas, tapi bentuk nyata cinta pada jam’iyah.

Pelajaran penting dari malam itu sederhana tapi dalam: perjuangan itu tidak selalu harus besar. Kadang cukup dengan tetap berangkat, meski jalan gelap, meski hati sempat ogah-ogahan. Karena di balik langkah kecil itu, ada nilai keikhlasan, ada silaturahmi, dan ada keberkahan yang tidak bisa dihitung pakai GPS.

Akhirnya, kegiatan ditutup dengan doa, harapan, dan tentu saja—niat untuk tetap istiqomah. Meski jalan tetap sirtu, lampu tetap redup, tapi semangat warga NU insyaAllah tetap “terang benderang”.

Karena bagi warga NU, yang penting bukan jalannya mulus… tapi tujuannya jelas: nguri-nguri tradisi, nguatke ukhuwah, lan golek berkah.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post