Hijrah Bersama Merawat Tradisi, MWCNU Pademawu Gelar Pengajian Umum 1 Muharram 1448 H
Pademawu – Memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pademawu menggelar Pengajian Umum yang dipusatkan di Pondok Pesantren Haqqul Yaqin, Desa Bunder, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, Sabtu (27/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat ukhuwah, menghidupkan syiar Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, sekaligus menghadirkan pelayanan nyata kepada masyarakat.
Ribuan jamaah memadati halaman pondok pesantren sejak pagi hari. Hadir dalam kesempatan itu seluruh unsur Forkopimcam Pademawu, jajaran Pengurus MWCNU Pademawu, para Pengurus Ranting NU se-Kecamatan Pademawu, badan otonom NU yang meliputi Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, IPNU, dan IPPNU, serta seluruh lembaga di bawah naungan MWCNU Pademawu, di antaranya LKNU, LPNU, LPPNU, LAZISNU, SNNU, ISNU, beserta lembaga-lembaga lainnya.
Pengajian tahun ini dikemas lebih istimewa. Tidak hanya menghadirkan tausiyah keagamaan, tetapi juga berbagai bentuk pelayanan sosial sebagai implementasi nyata ajaran Islam yang membawa kemaslahatan bagi umat.
Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) MWCNU Pademawu membuka layanan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis yang disambut antusias masyarakat. Ratusan warga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkonsultasi sekaligus memperoleh pelayanan kesehatan secara cuma-cuma.
Pada waktu yang sama, LAZISNU MWCNU Pademawu menyalurkan santunan kepada anak-anak yatim sebagai bentuk kepedulian sosial Nahdlatul Ulama terhadap mereka yang membutuhkan. Santunan tersebut menjadi pengingat bahwa menyantuni anak yatim merupakan salah satu amal yang sangat dianjurkan dalam Islam, terlebih di bulan Muharram yang dikenal sebagai salah satu bulan mulia.
Suasana religius semakin terasa ketika Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor GP Ansor Pademawu mempersembahkan lantunan shalawat Al-Banjari. Syair-syair pujian kepada Rasulullah SAW yang mengalun merdu berhasil menghidupkan semangat cinta kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus menunjukkan bahwa seni Islami merupakan bagian dari media dakwah yang terus dirawat oleh Nahdlatul Ulama.
Puncak acara diisi oleh KH. Ma'ruf Khozin, Ketua Aswaja NU Senter (ASNUTER) PWNU Jawa Timur. Dengan gaya penyampaian yang ilmiah, komunikatif, dan sesekali diselingi humor yang mencairkan suasana, beliau mengajak jamaah memaknai hijrah sebagai proses memperbaiki diri secara terus-menerus, bukan sekadar perpindahan waktu dari satu tahun ke tahun berikutnya.
Menurut beliau, datangnya bulan Muharram hendaknya dijadikan momentum memperbanyak amal saleh, memperkuat silaturahim, memperkokoh persatuan umat, serta semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui amal-amal yang diwariskan para ulama.
Yang paling menarik perhatian jamaah adalah ketika beliau mengupas secara mendalam amaliah khas warga Nahdlatul Ulama seperti Yasinan, Tahlilan, dan Istighasah bersama. Dengan argumentasi yang runtut, beliau menjelaskan bahwa amaliah tersebut memiliki dasar yang kuat dalam syariat dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
"Ketika umat Islam berkumpul membaca Al-Qur'an, berdzikir, bershalawat, kemudian saling mendoakan, sesungguhnya mereka sedang melaksanakan banyak perintah agama dalam satu majelis. Ada tilawah, ada dzikir, ada doa, ada silaturahim, ada saling menguatkan. Mengapa sesuatu yang penuh kebaikan justru dipersoalkan?" terang beliau di hadapan jamaah.
Beliau menambahkan bahwa para ulama Nusantara sejak dahulu tidak hanya mengajarkan dalil, tetapi juga membangun peradaban melalui tradisi. Sebab tradisi yang baik adalah kendaraan agar nilai-nilai agama dapat hidup di tengah masyarakat.
"Dalam pandangan ulama, agama itu bukan hanya soal benar atau salah menurut logika pribadi. Agama juga berbicara tentang sanad keilmuan, adab kepada ulama, dan keberkahan mengikuti jalan orang-orang saleh. Selama tradisi itu tidak bertentangan dengan syariat, justru menjadi wasilah memperbanyak dzikir dan mempererat persaudaraan, maka tradisi itu adalah nikmat yang harus dijaga," jelasnya.
Beliau juga mengingatkan agar warga Nahdliyin tidak mudah minder mempertahankan amaliahnya.
"Kalau ada orang berkata, 'Untuk apa Yasinan? Untuk apa Tahlilan?' maka jawabannya sederhana. Karena kami ingin lebih banyak membaca Al-Qur'an, lebih banyak berdzikir, lebih banyak berdoa, lebih banyak bersedekah, dan lebih banyak bersilaturahim. Bukankah semuanya itu diperintahkan agama?" tuturnya yang langsung disambut anggukan jamaah.
Pengajian Umum 1 Muharram 1448 H yang diselenggarakan MWCNU Pademawu akhirnya menjadi lebih dari sekadar seremoni pergantian tahun Hijriah. Kegiatan tersebut menghadirkan wajah Nahdlatul Ulama yang utuh: berdakwah dengan hikmah, melayani dengan kasih sayang, menjaga tradisi dengan ilmu, serta mengabdi kepada masyarakat dengan karya nyata.
Sebagaimana dawuh para masyayikh, "Nahdlatul Ulama berdiri bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk memastikan sebanyak mungkin umat tetap dekat kepada Allah dengan jalan yang lembut, teduh, dan penuh kasih." Semangat itulah yang tampak hidup dalam setiap rangkaian kegiatan di Pondok Pesantren Haqqul Yaqin pada peringatan Tahun Baru Islam kali ini.
Semoga hijrah tahun ini benar-benar menjadi hijrah menuju pribadi yang lebih bertakwa, masyarakat yang lebih rukun, serta Nahdlatul Ulama yang semakin kuat dalam mengemban khidmah keagamaan, kemasyarakatan, dan kebangsaan.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
