'Kala Jamaah Merawat Jiwa Dari Angin Sepoi-Sepoi Hingga Derai Airmata Imam Ats-Syauri'
Tanjung: Sabtu, 25 Juli 2026
Malam Minggu biasanya diidentikkan anak muda dengan jalan-jalan, tapi bagi nahdliyin Ranting Tanjung, malam ini adalah momen mengisi "baterai spiritual". Bertempat di kediaman K. Junaidi, perhelatan rutin Lailatul Ijtima’ kembali digelar.
Acara dihadiri lengkap oleh jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PRNU Tanjung. Tak tanggung-tanggung, pengurus MWCNU Pademawu juga rawuh memboyong troika terbaiknya: K. Ali Rahbini (Rais Syuriyah), K. Sakrani (Wakil Rais), dan K. Maskurdi (Sekretaris).
Rangkaian acara berjalan runtut sesuai SOP (Standard Operating Prosedur) majelis NU yang legendaris: Tawassul Al-Fatihah (pembuka pintu berkah), Istighatsah (sarana curhat berjamaah kepada Allah), Sambutan-sambutan (menu gizi organisasi). Pembacaan Kitab (asupan intelektual-spiritual), Doa Pasrah (penutup)
Di sesi kajian kitab yang diampu oleh K. Syafiuddin, suasana yang tadinya hangat mendadak hening dan ngeres. Topic of the day malam ini cukup horor tapi penting: Pentingnya Memiliki Rasa Takut Terhadap Su'ul Khotimah (Akhir Hidup yang Buruk). K. Syafiuddin membedah kisah klasik nan menggetarkan dari ulama salaf, Imam Sufyan Ats-Syauri. Diceritakan derai airmata Sepanjang Jalan: Syahdan, saat berangkat hingga pulang haji, Imam Ats-Syauri menangis tiada henti. Apakah beliau menangis karena teringat dosa maksiat? Ternyata bukan! Beliau menangis murni karena cemas dan takut kalau-kalau usianya ditutup dalam keadaan su'ul khotimah. Imam Ats-Syauri saja sedemikian takutnya akan kematian su'ul khotimah, apalagi kita. K. Syafiudin juga menceritakan sebuah tragedi Guru Besar 40 Tahun. Fenomena tragis seorang guru besar yang mengajar ngaji selama 40 tahun. Kehebatannya luar biasa; setiap kali kemarau dan beliau berdoa minta hujan, langit langsung mancur menurunkan hujan. Karamah kelas berat! Namun ironisnya, di penghujung hayat, beliau justru wafat dalam keadaan su'ul khotimah.
Pelajaran lain adalah; Jangankan kita yang ibadahnya masih kumat-kumatan, Nabi Muhammad SAW sendiri secara lugas pernah menyampaikan kepada putri tercintanya, Sayyidatuna Fatimah RA, bahwa beliau tidak bisa menjamin jaminan keselamatan dari su'ul khotimah. Pelindung sejati setelah rahmat Allah tak lain adalah amal baiknya sendiri. Karena itu jangan pernah jumawa dengan gelar keilmuan atau banyaknya jam terbang ibadah, sebab akhir kehidupan adalah misteri yang wajib diikhtiarkan dengan rasa cemas (khauf) dan harap (raja').
Selanjutnya sesi mau'idhoh & sambutan Rais MWCNU: Memasuki sesi sambutan, K. Ali Rahbini (Rais MWCNU Pademawu) menyampaikan taushiyah geopolitik-keumatan dengan gaya bahasa yang tak kalah menggigit, filosofis, namun kental humor khas NU. Awalnya beliau berbicara pedagogi Kebaikan di Sekolah: Para pendidik diimbau agar selalu menyelipkan nasehat kebaikan dan mengingatkan dahsyatnya siksa neraka di awal pembelajaran. Supaya para murid tidak hanya pinter secara akademis, tapi juga punya rem spiritual. Sambil beliau memimpin doa: "Allahummahtimlana fi husnil khotimah." Selanjutnya tentang peran jam'iyah, NU tidak boleh hanya pasrah menjadi Maf'ul bih (objek penderita yang dikenai pekerjaan), apalagi cuma jadi penderita di grade kedua. NU harus jadi Fa'il (subjek/pelaku utama) yang berada di grade pertama dalam mewarnai peradaban. Kemudian terkait sikap Jam'iyah beliau berpesan: "Hati-hati dengan keadaan yang diam dan sepi. Ibarat monyet di atas pohon, dihantam angin kencang dia malah makin erat memeluk dahan. Tapi begitu diterpa angin sepoi-sepoi yang adem... dia mengantuk, tertidur, lalu jeblok jatuh ke bawah!" Pesan subliminalnya: NU seringkali kuat saat didzalimi atau dihantam badai, tapi justru eawan lengah ketika diusap-usap angin kenyamanan!
Mengenai sikap terhadap NKRI, Kiai Ali menirukan jargon doktrinal: "Right or wrong, Indonesia is still our country!". NKRI harga mati, tak bisa ditawar-tawar lagi.
Tentang Muktamar NU ke-35 saat ini, arahan beliau mengajak seluruh jamaah mendo'akan agar gelaran Muktamar ke-35 nantinya melahirkan keputusan-keputusan terbaik, pimpinan yang amanah, serta membawa kemaslahatan melimpah bagi jam'iyah, bangsa, dan negara.
Akahirnya acara diakhiri dengan pembacaan do'a yang dipimpin oleh Kiai Sakarani, wakil rais MWCNU Pademawu penuh khidmat, lalu dilanjutkan dengan tradisi paling krusial dalam setiap Lailatul Ijtima' yakni ramah tamah dan ngopi-ngabari.
Semoga majelis ini menjadi washilah gugurnya dosa, penguat jam'iyah, dan pendorong agar kita semuanya diwafatkan dalam keadaan Husnol Khotimah. Amin ya rabbal 'alamin.


Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
