Munajat yang Mengalahkan Kekhawatiran
MWCNU Pademawu Gelar Munajad dan Riyadlah untuk Kesuksesan Muktamar NU ke-35
Pademawu, 9 Juli 2026 – Ada satu kegelisahan yang sempat menghampiri beberapa pengurus MWCNU Pademawu pada Kamis malam Jumat (9/7/2026). Bukan karena listrik padam, bukan pula karena pengeras suara tidak berfungsi, melainkan pertanyaan sederhana yang diam-diam terlintas di benak mereka:
"Malam Jumat begini... kira-kira ada yang datang tidak ya?"
Kekhawatiran itu cukup beralasan. Malam Jumat merupakan "jam sibuk" bagi para kiai Nahdlatul Ulama. Hampir setiap ranting dan kampung memiliki kegiatan rutin seperti yasinan, tahlilan, istigasah, pengajian, maupun pembinaan jamaah. Akibatnya, banyak pengurus MWCNU yang pada waktu bersamaan juga sedang mengabdi di lingkungan masing-masing.
Namun, sebagaimana pepatah mengatakan bahwa orang baik datangnya sering belakangan karena masih menyelesaikan urusan umat, perlahan tetapi pasti para pengurus mulai berdatangan. Tepat menjelang pukul 20.00 WIB, halaman dan ruang pertemuan Kantor MWCNU Pademawu mulai dipenuhi wajah-wajah yang akrab dengan perjuangan jam'iyah.
Malam itu MWCNU Pademawu menggelar kegiatan "Munajad dan Riyadlah untuk Kesuksesan Muktamar NU ke-35", sebuah ikhtiar batin yang dipanjatkan agar pelaksanaan muktamar berlangsung lancar, menghasilkan keputusan terbaik, serta membawa keberkahan bagi Nahdlatul Ulama dan seluruh umat.
Acara dibuka dengan pembacaan Surah Al-Fatihah yang dipimpin oleh Kiai Ali Rahbini, Rais MWCNU Pademawu. Suasana hening langsung menyelimuti ruangan. Setiap peserta larut dalam doa dan harapan, menyatukan hati untuk mengetuk pintu langit.
Rangkaian munajat dilanjutkan dengan pembacaan Istigasah yang dipimpin oleh KH. Muhed, Rais PRNU Pademawu Timur. Lantunan dzikir, istighfar, dan doa-doa yang menggema menciptakan suasana yang sangat khidmat. Tidak ada percakapan yang tidak perlu, tidak ada telepon genggam yang sibuk mencari sinyal, sebab malam itu seluruh perhatian diarahkan kepada Sang Maha Mendengar.
Sebagai penutup rangkaian ibadah, doa dipimpin oleh KH. Hafidz, Bendahara MWCNU Pademawu. Dengan penuh kekhusyukan beliau memohon agar Muktamar NU ke-35 diberikan kelancaran, para ulama dan peserta memperoleh kesehatan, serta Nahdlatul Ulama senantiasa menjadi penuntun umat dalam menjaga agama, bangsa, dan kemaslahatan bersama.
Jika diamati dari luar, kegiatan tersebut tampak sederhana. Tidak ada panggung megah, tidak ada layar LED, tidak ada tata cahaya yang gemerlap. Namun justru dalam kesederhanaan itulah tersimpan kekuatan. Sebab bagi warga Nahdliyin, perubahan besar sering kali diawali oleh doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan.
Usai rangkaian munajat, kegiatan dilanjutkan dengan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Panitia Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) 1 Muharram 1448 Hijriah. Panitia menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan secara terbuka, mulai dari pelaksanaan acara hingga penggunaan anggaran.
Melalui musyawarah yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan, laporan pertanggungjawaban tersebut diterima oleh forum. Dengan diterimanya LPJ tersebut, maka secara resmi kepanitiaan PHBI 1 Muharram 1448 Hijriah dinyatakan selesai dan dibubarkan.
Menariknya, sebagaimana banyak kegiatan khas NU di tingkat kecamatan, ukuran keberhasilan acara malam itu sama sekali tidak ditentukan oleh mewahnya konsumsi. Para peserta hanya menikmati sebotol air mineral dan sepotong kecil roti terang bulan.
Jika dihitung secara ilmiah, mungkin nilai kalorinya tidak terlalu besar. Namun jika diukur menggunakan "Indeks Keikhlasan Nahdliyin", energinya tampaknya cukup untuk menopang diskusi, musyawarah, sekaligus mempererat ukhuwah hingga acara selesai. Lagi pula, yang datang malam itu memang bukan untuk berburu konsumsi, melainkan untuk mencari keberkahan dan memperkuat khidmah kepada jam'iyah.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kekuatan Nahdlatul Ulama tidak hanya dibangun melalui program kerja, rapat, maupun administrasi organisasi. Ada fondasi yang jauh lebih dalam, yaitu doa, munajat, riyadlah, dan kebersamaan para ulama serta pengurus dalam memohon pertolongan Allah SWT.
Sebab dalam tradisi NU, ikhtiar lahir dan ikhtiar batin selalu berjalan beriringan. Program disusun dengan matang, kegiatan dilaksanakan dengan tertib, tetapi keberhasilannya tetap dipasrahkan kepada Allah SWT melalui doa-doa yang tulus.
Semoga munajat yang dipanjatkan pada malam penuh berkah itu menjadi wasilah bagi suksesnya Muktamar NU ke-35, memperkokoh persatuan warga Nahdlatul Ulama, dan semakin menguatkan semangat pengabdian para pengurus MWCNU Pademawu dalam melayani umat. Aamiin.

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
