MWCNU PADEMAWU MENYAMBUT KEBANGKITAN PP. HAQQUL YAQIN
Ada satu kaidah yang tidak pernah berubah dalam sejarah Islam: menghidupkan ilmu lebih utama daripada sekadar membangun bangunan. Sebab bangunan tanpa ilmu hanya akan menjadi tembok, sedangkan ilmu akan menghidupkan peradaban. Karena itu, ketika ada upaya menghidupkan kembali sebuah pesantren yang pernah menjadi pusat keberkahan, maka sesungguhnya yang sedang dibangunkan bukan hanya sebuah lembaga, melainkan mata rantai perjuangan ulama.
Atas dasar itulah, jajaran Pengurus MWCNU Pademawu menghadiri kegiatan "Revive PP. Haqqul Yaqin" di Desa Bunder, Kecamatan Pademawu. Kehadiran MWCNU bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan sebagai bentuk penghormatan kepada perjuangan para masyayikh sekaligus penegasan bahwa Nahdlatul Ulama selalu berdiri di barisan terdepan dalam menjaga dan menghidupkan warisan keilmuan pesantren.
Menariknya, MWCNU Pademawu hadir dengan kekuatan kepengurusan yang sangat lengkap. Hadir Rois Syuriyah beserta dua Wakil Rois, A'wan bersama dua Wakil A'wan, Ketua Tanfidziyah bersama dua Wakil Ketua, Sekretaris beserta dua Wakil Sekretaris. Kehadiran yang begitu lengkap ini bukan untuk menunjukkan banyaknya jabatan, melainkan menjadi simbol bahwa seluruh unsur kepemimpinan NU memiliki satu suara: menghidupkan pesantren adalah tanggung jawab bersama.
Momentum ini semakin bermakna dengan hadirnya K. Afifi Karim, putra dari almaghfurlah Kiai Abdul Karim Yaqin, yang setelah lama merantau kini kembali ke tanah kelahirannya dengan tekad menghidupkan kembali Pondok Pesantren Haqqul Yaqin. Sikap ini patut disyukuri. Sebab tidak semua orang yang berhasil di perantauan memiliki keberanian untuk kembali membangun kampung halamannya. Lebih sedikit lagi yang memilih jalan pesantren, padahal jalan ini tidak menjanjikan kemewahan dunia, tetapi menjanjikan keberkahan yang terus mengalir.
Dalam ajaran Islam terdapat sabda Nabi ﷺ:
"Apabila manusia meninggal dunia, maka terputus seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya."
Menghidupkan pesantren sesungguhnya menghimpun ketiga amal tersebut sekaligus. Pesantren menjadi sedekah jariyah, melahirkan ilmu yang terus diajarkan, sekaligus menjadi tempat lahirnya generasi saleh yang akan meneruskan perjuangan para ulama.
MWCNU Pademawu memandang bahwa kebangkitan PP. Haqqul Yaqin bukan sekadar kepentingan keluarga besar pesantren, melainkan kebutuhan umat. Pademawu membutuhkan lebih banyak pusat pendidikan Islam yang kuat, modern dalam pengelolaan, tetapi tetap kokoh menjaga sanad keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Kemajuan tidak boleh dimaknai sebagai meninggalkan tradisi, dan tradisi juga tidak boleh dijadikan alasan untuk menolak kemajuan. Pesantren yang besar justru harus mampu memadukan keduanya.
Harus diakui bahwa sebuah kecamatan akan lebih terhormat jika memiliki pesantren yang hidup daripada hanya dipenuhi bangunan megah tanpa melahirkan ulama. Sebab pembangunan fisik hanya mengubah wajah daerah, sedangkan pesantren mengubah wajah peradaban. Negeri ini tidak pernah kekurangan gedung, tetapi selalu membutuhkan lebih banyak tempat yang melahirkan orang-orang berilmu, berakhlak, dan berani mengabdi.
Karena itu, dukungan MWCNU Pademawu terhadap kebangkitan PP. Haqqul Yaqin bukanlah sikap emosional, melainkan keputusan yang memiliki dasar agama, dasar organisasi, dan dasar kemaslahatan umat. Setiap ikhtiar menghidupkan ilmu adalah bagian dari menjalankan firman Allah:
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan." (QS. Al-Ma'idah: 2)
Semoga langkah yang diawali dengan niat tulus ini menjadi awal kebangkitan baru bagi Pondok Pesantren Haqqul Yaqin. Semoga Allah SWT melimpahkan kekuatan kepada K. Afifi Karim beserta seluruh keluarga besar pesantren dalam mengemban amanah yang mulia ini. Dan semoga dari Desa Bunder kembali lahir generasi-generasi ulama, pemimpin, dan pejuang umat yang akan menerangi Pademawu, Madura, bahkan Indonesia.
Menghidupkan pesantren berarti menghidupkan ilmu. Menghidupkan ilmu berarti menjaga agama. Dan menjaga agama adalah kemuliaan yang nilainya tidak dapat diukur dengan apa pun.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
