Maskurdi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Sirene Meraung, Murid Berhamburan, Guru Ikut Berlarian Untung Cuma Simulasi!
BELAJAR - BERJUANG - BERTAKWA

Sirene Meraung, Murid Berhamburan, Guru Ikut Berlarian Untung Cuma Simulasi!

Potoan Daya, Pamekasan – Hari terakhir Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SDN Potoan Daya 2 berlangsung sedikit berbeda dari biasanya. Tidak ada pengumuman "silakan pulang lebih awal". Yang terdengar justru suara sirene meraung panjang yang sukses membuat suasana sekolah mendadak berubah menjadi sangat dramatis.

Tenang... bukan karena ada UFO mendarat atau dinosaurus bangun dari tidur panjangnya. Itu adalah simulasi kesiapsiagaan gempa bumi dalam rangka pengenalan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) kepada seluruh peserta didik baru.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pengimbasan yang sebelumnya diterima oleh seluruh guru dan tenaga kependidikan. Seorang guru SDN Potoan Daya 2 yang telah mengikuti Diklat SPAB membagikan ilmu yang diperolehnya kepada seluruh rekan guru agar sekolah memiliki pemahaman dan prosedur yang sama ketika menghadapi situasi darurat.

Bekal itulah yang kemudian diteruskan kepada para murid. Masing-masing guru memberikan penjelasan di kelas tentang apa yang harus dilakukan apabila terjadi gempa bumi.

Namun tentu saja, menjelaskan prosedur keselamatan kepada anak-anak tidak cukup hanya dengan ceramah. Otak anak jauh lebih bersahabat dengan irama daripada paragraf panjang. Maka lahirlah metode ilmiah yang sudah lama dibuktikan para ahli pendidikan: belajar sambil bernyanyi.

Seisi kelas pun kompak menyanyikan lagu sederhana:

"Jika ada gempa... lindungi kepala... masuk kolong meja... jangan berlari... jangan panik... jangan mendorong... jangan kembali..."

Tanpa terasa, lirik lagu itu berubah menjadi "flashdisk biologis" yang tersimpan rapi di dalam memori anak-anak.

Secara ilmiah, metode ini memang masuk akal. Dalam kondisi panik, kemampuan manusia untuk mengingat instruksi yang rumit akan menurun. Sebaliknya, pola yang sederhana, berulang, dan berirama jauh lebih mudah dipanggil kembali oleh otak. Itulah sebabnya banyak prosedur keselamatan di berbagai negara dikemas dalam bentuk lagu, tepuk, atau slogan singkat.

Puncak kegiatan terjadi pada hari terakhir MPLS.

Tanpa aba-aba sebelumnya, sirene tiba-tiba meraung nyaring.

Suasana kelas yang semula tenang mendadak berubah menjadi sangat sibuk.

"Gempa...! Gempa...!" terdengar suara guru memberikan instruksi.

Anak-anak yang sebelumnya sedang belajar langsung mempraktikkan apa yang telah mereka hafal.

Mereka melindungi kepala dengan kedua tangan.

Masuk ke bawah meja.

Tidak berlari.

Tidak saling mendorong.

Menunggu sampai sirene berhenti.

Begitu tanda aman diberikan, seluruh murid keluar kelas secara tertib menuju halaman sekolah sebagai titik kumpul.

Memang ada beberapa anak yang masih sempat bertanya dengan wajah penuh rasa ingin tahu,

"Bu... ada apa sebenarnya?"

Yang lain sibuk melihat ke kanan dan kiri memastikan semua temannya ikut keluar.

Suasana halaman sekolah pun mendadak ramai. Puluhan suara kecil bercampur menjadi satu, persis seperti konser dadakan tanpa latihan.

Di tengah keramaian itu, tiba-tiba muncul seorang guru yang ikut berlari menuju lapangan sambil kedua tangannya menutupi kepala. Setelah sampai di tengah lapangan, beliau langsung duduk dan tetap mempertahankan posisi aman.

Melihat gurunya ikut "beraksi", anak-anak justru semakin antusias.

Setelah semua berkumpul dengan aman, guru tersebut tersenyum lalu berkata,

"Tenang... ini hanya simulasi."

Seketika terdengar suara lega bercampur tawa kecil dari para murid.

Momentum itu kemudian dimanfaatkan untuk menjelaskan kembali langkah-langkah penyelamatan diri apabila benar-benar terjadi gempa bumi.

Guru menekankan bahwa tujuan simulasi bukan membuat takut, melainkan membentuk kebiasaan. Karena ketika bencana benar-benar datang, waktu berpikir sangat singkat. Yang menyelamatkan bukan siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang sudah terbiasa melakukan tindakan yang benar.

Para ahli kebencanaan menyebutnya sebagai pembentukan memori prosedural (procedural memory), yaitu kemampuan tubuh melakukan tindakan secara otomatis karena telah berulang kali dilatih. Sama seperti seseorang yang tidak lagi berpikir ketika mengayuh sepeda, prosedur keselamatan juga harus menjadi refleks.

Melalui latihan sederhana seperti ini, sekolah sedang menanamkan investasi keselamatan yang nilainya jauh lebih mahal daripada bangunan sekolah itu sendiri.

Kegiatan kemudian ditutup dengan suasana ceria. Seluruh guru dan murid bernyanyi bersama lagu "Jika Ada Gempa".

Suara mereka menggema di halaman sekolah.

Mungkin terdengar sederhana.

Namun di balik nada yang riang itu tersimpan pesan yang sangat serius: keselamatan dapat dipelajari, kesiapsiagaan dapat dilatih, dan bencana tidak boleh membuat siapa pun kehilangan akal sehat.

SDN Potoan Daya 2 percaya bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar membaca, menulis, dan berhitung. Sekolah juga merupakan tempat terbaik untuk belajar menjaga kehidupan. Sebab, pendidikan yang baik bukan hanya menghasilkan murid yang cerdas, tetapi juga murid yang siap menghadapi berbagai tantangan, termasuk ketika alam sedang tidak bersahabat.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post