Tawa di Balik Siaga Diseminasi SPAB SDN Potoan Daya 2
Potoan Daya, 13 Juli 2026 – Siapa bilang belajar mitigasi bencana harus selalu serius dan menegangkan? Di SDN Potoan Daya 2, ilmu pengetahuan justru dikemas dengan bumbu humor sehingga seluruh peserta tidak hanya memperoleh wawasan baru, tetapi juga pulang dengan perut sedikit pegal karena terlalu banyak tertawa.
Diseminasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dilaksanakan pada Senin, 13 Juli 2026. Kegiatan ini dipandu oleh Maskurdi, guru SDN Potoan Daya 2 yang sebelumnya mendapat kesempatan mewakili sekolah mengikuti Diklat SPAB di Kabupaten Pamekasan pada 30 Juni 2026. Ilmu yang diperoleh selama pelatihan kemudian dibagikan kepada seluruh warga sekolah sebagai bentuk tindak lanjut sekaligus upaya membangun budaya aman bencana di lingkungan sekolah.
Peserta kegiatan terdiri atas Kepala Sekolah, guru kelas I hingga V, serta tenaga operator sekolah. Sejak awal acara, suasana sudah dibuat cair melalui lagu sederhana yang langsung mengundang senyum seluruh peserta.
Kalau ada gempa lindungi kepala...
Kalau ada gempa masuk kolong meja...
Jangan berlari, jangan berisik...
Jangan mendorong dan jangan kembali...
Lagu tersebut ternyata ampuh. Selain mudah dihafal, iramanya membuat peserta tanpa sadar mulai mengingat prinsip-prinsip dasar penyelamatan diri saat gempa bumi.
Dalam pemaparannya, Maskurdi menjelaskan bahwa tujuan utama SPAB bukan sekadar menghafal prosedur evakuasi, melainkan membangun budaya kesiapsiagaan. Menurut kajian kebencanaan, seseorang yang telah memahami prosedur penyelamatan memiliki peluang lebih besar mengambil keputusan yang benar saat terjadi situasi darurat. Karena itu, latihan dan simulasi harus dilakukan berulang-ulang hingga menjadi kebiasaan.
Namun, sebagaimana pepatah mengatakan bahwa "ilmu yang baik adalah ilmu yang mengundang pertanyaan", sesi diskusi justru menjadi bagian paling meriah.
Pertanyaan pertama langsung memancing gelak tawa.
"Pak, kalau siswanya seperti Royhan yang badannya besar dan gemuk, sementara mejanya untuk dua orang, apa masih muat masuk kolong meja?"
Ruangan langsung pecah oleh tawa. Dengan tetap serius, pemateri menjelaskan bahwa prinsip Drop, Cover, and Hold On bukan berarti seluruh badan harus benar-benar tersembunyi sempurna. Yang paling penting adalah kepala dan organ vital terlindungi dari benda yang mungkin jatuh. Kalau memang tubuh tidak sepenuhnya masuk ke bawah meja, setidaknya bagian kepala tetap berada di area perlindungan.
Belum selesai tertawa, muncul pertanyaan berikutnya.
"Kalau sirene dibunyikan dari kantor sementara anak-anak masih di kelas, bagaimana kalau mereka mengira itu suara mobil ambulans yang sedang mengantar orang meninggal, bukan tanda gempa?"
Pertanyaan ini kembali membuat peserta saling berpandangan sebelum akhirnya tertawa bersama. Dari sinilah muncul kesimpulan ilmiah bahwa sirene tanpa sosialisasi hanyalah bunyi, sedangkan sirene yang telah dilatih berulang-ulang akan berubah menjadi bahasa keselamatan yang dipahami seluruh warga sekolah.
Gelombang tawa berikutnya datang ketika membahas perlindungan kepala menggunakan kursi.
"Kalau kursinya sudah diangkat di atas kepala, nanti pas lari keluar kelas apa kursinya ikut dibawa sampai lapangan?"
Spontan ada yang menimpali,
"Sekalian saja nanti kursinya diberi nomor peserta, biar tidak hilang."
Suasana semakin cair. Pemateri kemudian menjelaskan bahwa kursi hanya digunakan apabila benar-benar diperlukan sebagai pelindung sementara dari reruntuhan ringan. Setelah situasi memungkinkan untuk evakuasi, fokus utama adalah menyelamatkan diri, bukan menyelamatkan inventaris sekolah.
Diskusi semakin berkembang dengan berbagai pertanyaan yang tidak kalah menggelitik.
Ada yang bertanya,
"Kalau pas gempa guru sedang minum kopi, kopinya diminum dulu atau langsung lari?"
Jawabannya sederhana.
"Kalau kopinya masih panas, biarkan saja. Keselamatan lebih mahal daripada secangkir kopi."
Yang lain menambahkan,
"Kalau kepala sekolah sedang tanda tangan berkas penting?"
Seorang guru langsung menyahut,
"Berkasnya nanti bisa ditandatangani lagi, tapi kalau kepalanya kena plafon, itu yang repot."
Tawa kembali memenuhi ruangan.
Tidak berhenti di situ, seorang peserta kembali bertanya,
"Kalau ada guru yang panik lalu malah mencari sandal dulu sebelum keluar?"
Jawaban pun datang,
"Dalam mitigasi bencana tidak ada materi mencari sandal. Yang ada adalah menyelamatkan nyawa."
Kalimat tersebut justru disambut tepuk tangan sekaligus gelak tawa.
Di balik seluruh kelucuan itu, tersimpan pesan yang sangat serius. Mitigasi bencana tidak cukup dipahami melalui teori, tetapi harus dilatih hingga menjadi refleks. Simulasi yang dilakukan secara berkala akan membentuk kebiasaan bertindak cepat, tepat, dan tidak panik ketika menghadapi keadaan darurat.
Kepala SDN Potoan Daya 2 mengapresiasi kegiatan tersebut karena materi yang disampaikan terasa ringan, mudah dipahami, dan dekat dengan kondisi nyata di sekolah. Diskusi yang penuh humor justru membuat konsep-konsep SPAB lebih mudah diingat dibandingkan jika hanya disampaikan melalui ceramah formal.
Diseminasi hari itu akhirnya membuktikan satu hal penting: tertawa tidak mengurangi keseriusan belajar. Justru melalui suasana yang menyenangkan, ilmu tentang kesiapsiagaan bencana lebih mudah diterima dan melekat dalam ingatan. Harapannya, seluruh warga SDN Potoan Daya 2 tidak hanya mampu menjawab pertanyaan saat pelatihan, tetapi juga mampu mengambil keputusan yang benar ketika bencana benar-benar datang.
Sebab, dalam dunia kebencanaan berlaku sebuah prinsip sederhana: kepanikan adalah musuh pertama, sedangkan pengetahuan dan latihan adalah penyelamat yang sesungguhnya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
