Muslimat NU Berdasi Hasduk Pramuka Ketika Kesepakatan Menjadi Seragam Kebanggaan
PAMEKASAN — Suasana berbeda terlihat dalam Upacara Bendera Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan, Senin, 17 Agustus 2026. Upacara yang berlangsung di lapangan kantor PCNU Pamekasan tersebut diikuti oleh seluruh unsur Nahdlatul Ulama, mulai dari jajaran PCNU, badan otonom, lembaga, hingga para pengurus di lingkungan NU.
Upacara yang secara substansi merupakan kegiatan rutin tahunan itu sebenarnya tidak ada yang terlalu aneh. Peserta berdiri tegak, bendera Merah Putih dikibarkan, penghormatan diberikan, dan seluruh rangkaian upacara berjalan sebagaimana mestinya.
Namun, ada satu pemandangan yang cukup menarik perhatian: rombongan ibu-ibu Muslimat NU tampil dengan seragam kebanggaan mereka, tetapi kali ini dilengkapi dengan dasi atau hasduk Pramuka.
Sekilas, perpaduan tersebut tampak seperti pertemuan dua dunia: Muslimat NU bertemu Pramuka. Tetapi jangan buru-buru menyimpulkan bahwa para ibu tersebut salah kostum. Justru sebaliknya, hasduk itu dipakai dengan penuh kebanggaan.
Ada alasan yang sangat ilmiah sekaligus sangat NU: karena sudah menjadi kesepakatan.
Koordinator rombongan menjelaskan bahwa dalam rapat sebelumnya telah disepakati bahwa atribut hasduk Pramuka digunakan sebagai tanda pengenal. Hal tersebut dilakukan karena peserta dari unsur Muslimat NU cukup banyak sehingga diperlukan atribut tambahan yang mudah dikenali.
“Dalam rapat kemarin sudah disepakati, sebagai tanda pengenal karena banyaknya peserta dari Muslimat NU, maka ditambah atribut hasduk Pramuka,” demikian penjelasan koordinator.
Di sinilah letak pelajaran sosialnya. Dalam kehidupan organisasi, sesuatu yang awalnya mungkin terasa tidak biasa akan menjadi biasa ketika sudah diputuskan bersama. Bahkan, kalau sudah menjadi kesepakatan, persoalan berikutnya bukan lagi ‘boleh atau tidak?’, tetapi ‘bagaimana cara memakainya dengan percaya diri?’
Dan ibu-ibu Muslimat NU itu telah memberikan jawabannya: pakai dan bangga!
Secara sederhana, fenomena ini dapat dijelaskan dengan sebuah teori organisasi yang sangat mudah dipahami: “Tak ada yang tak jadi jika sudah menjadi kesepakatan.” Dalam ilmu sosial, kesepakatan menciptakan kepatuhan kolektif. Dalam tradisi NU, musyawarah menghasilkan keputusan. Sementara dalam praktiknya, hasil musyawarah harus dilaksanakan—meskipun hasilnya berupa hasduk Pramuka yang melingkar gagah di leher seragam Muslimat NU.
Yang menarik, atribut tersebut justru membuat rombongan Muslimat NU terlihat semakin mudah dikenali. Jika biasanya orang harus bertanya, “Ini rombongan siapa?”, maka hasduk telah memberikan jawaban visual yang cukup jelas: “Ini Muslimat NU, dan hari ini sedang bertugas menjadi pasukan yang siap mengikuti upacara!”
Kehadiran Muslimat NU dengan hasduk Pramuka tersebut juga menunjukkan bahwa simbol organisasi tidak selalu harus dipahami secara kaku. Atribut dapat menjadi alat komunikasi, identitas, sekaligus perekat kebersamaan.
Dan yang paling penting, tidak terlihat sedikit pun ekspresi keberatan dari para ibu tersebut. Mereka justru tampil dengan penuh percaya diri. Hasduk yang mungkin pada awalnya hanya dimaksudkan sebagai tanda pengenal akhirnya berubah menjadi aksesori kebanggaan.
Upacara bendera sendiri berlangsung khidmat. Seluruh unsur NU hadir dan mengikuti kegiatan dengan tertib. Kehadiran lintas lembaga dan badan otonom tersebut menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan bukan hanya milik satu kelompok, tetapi menjadi ruang bersama untuk memperkuat persatuan.
Di antara peserta upacara, turut hadir Ketua PC SNNU Pamekasan bersama sekretaris. Kehadiran tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap kegiatan rutin PCNU Pamekasan dalam memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap tahun.
Ada satu hal yang mungkin bisa dicatat dari upacara kali ini: kemerdekaan ternyata tidak selalu harus diterjemahkan dalam pidato panjang. Kadang-kadang ia hadir dalam bentuk yang sederhana—berdiri bersama, menghormati Merah Putih, menjaga kekompakan, dan menerima keputusan organisasi dengan lapang dada.
Termasuk ketika keputusan itu berbunyi: “Ibu-ibu Muslimat, hari ini pakai hasduk Pramuka.”
Dan mereka menjawab dengan tindakan: “Siap!”
Maka jadilah pemandangan unik pagi itu: seragam Muslimat NU berpadu dengan hasduk Pramuka, berdiri di bawah kibaran Merah Putih. Sebuah perpaduan yang mungkin tidak ditemukan dalam buku teori organisasi, tetapi sangat mudah ditemukan dalam kehidupan nyata warga NU.
Kesimpulannya sederhana: kalau sudah musyawarah, sudah sepakat, tinggal dilaksanakan. Kalau sudah dilaksanakan, jangan lupa dibanggakan.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
