Maskurdi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Perjalanan LBM yang Penuh Canda, Debat, dan Kesangaran Akademik
NU MERAWAT JAGAD MEMBANGUN PERADABAN

Perjalanan LBM yang Penuh Canda, Debat, dan Kesangaran Akademik

Pademawu–Pasean, 9 Agustus 2026 —

Perjalanan menuju forum Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCNU Pamekasan di Kecamatan Pasean, kawasan pantai utara Madura, ternyata bukan sekadar perjalanan menghadiri forum ilmiah. Bagi rombongan MWCNU Pademawu, perjalanan tersebut menjadi perpaduan antara silaturrahim, kajian keagamaan, wisata intelektual, dan sedikit “uji ketahanan fisik” karena harus menempuh perjalanan cukup jauh dalam satu mobil.

Rombongan berangkat dari kawasan pantai selatan Madura dengan menggunakan satu unit mobil APV. Kendaraan tersebut diisi oleh delapan penumpang dan satu sopir. Secara matematis, komposisinya masih bisa disebut normal. Namun secara ilmu ergonomi kendaraan, suasananya sudah masuk kategori padat merayap.

Perjalanan normal diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 90 menit. Namun karena rombongan sempat mengalami sedikit persoalan klasik perjalanan—tersesat—waktu tempuh bertambah sekitar 30 menit. Total perjalanan pun menjadi kurang lebih dua jam.

Menariknya, kondisi mobil yang cukup sesak ternyata tidak mengurangi semangat rombongan untuk bercanda. Justru sebaliknya. Ruang yang terbatas seakan memperluas ruang humor.

Tawa, celetukan, dan obrolan khas warga NU terus mengiringi perjalanan. Tidak ada istilah kursi depan, tengah, atau belakang yang benar-benar nyaman. Semua sama-sama menerima kenyataan bahwa perjalanan kali ini bukan perjalanan kelas eksekutif.

Rombongan dengan Komposisi “Lengkap”

Rombongan MWCNU Pademawu yang hadir dalam kegiatan tersebut cukup beragam. Hadir Rais MWCNU Pademawu, Wakil Rais, Katib, Ketua, Sekretaris, Wakil Sekretaris, Rais PRNU Murtajih, anggota PRNU Majungan, serta Penasehat LAZISNU MWCNU Pademawu.

Dengan komposisi tersebut, mobil sebenarnya sudah menyerupai “ruang rapat berjalan”. Bedanya, ruang rapat biasanya memiliki meja, kursi yang cukup, dan pendingin udara yang stabil. Sementara ruang rapat kali ini memiliki satu keunggulan: meskipun sempit, semua peserta bisa tertawa bersama.

Perjalanan menuju Pasean akhirnya menjadi forum silaturrahim tersendiri. Berbagai topik diperbincangkan dengan gaya santai. Tidak ada moderator, tidak ada notulen, dan tidak ada palu sidang. Yang ada hanya suara mesin kendaraan, suara percakapan, dan sesekali suara tawa yang muncul secara spontan.

Memasuki Forum LBM: Pademawu Berubah Menjadi “Sangar”

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, rombongan akhirnya tiba di lokasi kegiatan Pertemuan Lembaga Bahtsul Masail PCNU Pamekasan di Kecamatan Pasean.

Suasana perjalanan yang penuh canda seakan berubah ketika forum dimulai.

Tim dari Pademawu mendadak menjadi “sangar”.

Dalam forum, para peserta dari Pademawu terlihat aktif memberikan tanggapan, menjawab pertanyaan, menyampaikan argumentasi, bahkan sesekali terdengar agak ngotot dalam mempertahankan pendapat.

Secara ilmiah, kondisi tersebut dapat disebut sebagai peningkatan intensitas partisipasi akademik.

Namun secara sederhana, ada dugaan lain.

Mungkin karena perjalanan yang cukup panjang.

Mungkin karena duduk terlalu lama.

Mungkin karena pegal-pegal.

Atau mungkin karena sejak berangkat belum sempat debat.

Akhirnya, semua rasa pegal itu seperti menemukan saluran pelepasan di forum LBM.

Argumentasi keluar dengan penuh tenaga. Jawaban disampaikan dengan percaya diri. Perbedaan pendapat pun menjadi bagian menarik dari dinamika forum.

Tetapi yang paling penting, “kesangaran” tersebut tetap berada dalam koridor tradisi ilmiah Bahtsul Masail, yakni membahas persoalan dengan argumentasi, dalil, dan pertimbangan keilmuan. Perdebatan bukan untuk mencari siapa yang paling hebat, melainkan untuk menemukan rumusan yang paling kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dan tentu saja, karena yang berkumpul adalah warga NU, suasana serius tersebut tidak pernah benar-benar kehilangan unsur humor.

Ada debat, tetapi tetap bisa tertawa.

Ada perbedaan pendapat, tetapi tetap bersalaman.

Ada yang ngotot, tetapi setelah forum selesai tetap ngopi bersama.

Itulah mungkin salah satu kekuatan forum-forum NU: perbedaan argumentasi tidak harus berubah menjadi perbedaan persaudaraan.

Kopi: Titik Temu Setelah Perdebatan

Di sela-sela kegiatan, kopi menjadi salah satu “variabel penting” dalam menjaga stabilitas forum.

Setelah berbagai pendapat disampaikan, argumentasi dipertukarkan, dan suasana forum cukup dinamis, rombongan menikmati kopi bersama.

Secara sosial, kopi berfungsi sebagai cooling system.

Secara fisiologis, kopi mungkin memberikan efek menyegarkan.

Namun secara khas NU, kopi memiliki fungsi yang lebih luas: menurunkan tensi perdebatan sekaligus menaikkan kualitas silaturrahim.

Maka tidak mengherankan jika setelah acara selesai dan rombongan bersiap pulang, suasana di dalam mobil justru berubah drastis.

Perjalanan Pulang: Semua Mendadak Kalem

Jika perjalanan berangkat penuh canda, perjalanan pulang berlangsung jauh lebih tenang.

Tidak ada lagi “tim sangar”.

Tidak ada lagi debat panjang.

Tidak ada lagi argumentasi yang membutuhkan dalil tambahan.

Semua penumpang terlihat lebih kalem.

Salah satu faktor penyebabnya cukup sederhana: kopi sudah selesai diminum.

Mungkin juga energi untuk berdebat sudah habis di forum.

Setelah dua jam perjalanan berangkat, tersesat 30 menit, duduk berdesakan, mengikuti forum LBM, berdiskusi, berargumentasi, dan menikmati kopi, akhirnya tubuh memberikan sinyal yang sangat ilmiah: sudah waktunya istirahat.

Mobil pun melaju kembali menuju Pademawu dengan suasana lebih adem.

Jika perjalanan berangkat dapat dianalogikan sebagai seminar nasional dalam ruang sempit, maka perjalanan pulang lebih mirip sidang pleno yang telah menghasilkan keputusan untuk tidur.

LBM: Mempertemukan Ilmu dan Persaudaraan

Kegiatan pertemuan LBM PCNU Pamekasan di Kecamatan Pasean tersebut pada akhirnya bukan hanya menjadi ruang pembahasan persoalan keagamaan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana memperkuat silaturrahim antarstruktur dan warga NU dari berbagai wilayah.

Rombongan MWCNU Pademawu datang dengan segala keterbatasan perjalanan, tetapi pulang membawa pengalaman, ilmu, dan tentu saja cerita yang cukup untuk dibagikan.

Perjalanan dari pantai selatan menuju pantai utara memang memerlukan waktu sekitar satu setengah jam dalam kondisi normal. Tetapi perjalanan kali ini mengajarkan satu hal penting: kalau bersama-sama, jalan yang jauh terasa dekat; kalau mobilnya penuh, yang penting humornya juga penuh.

Dan kalau sampai tersesat?

Tidak masalah.

Dalam perjalanan organisasi, kadang yang penting bukan hanya seberapa cepat sampai tujuan, tetapi siapa saja yang menemani perjalanan dan cerita apa yang lahir sepanjang perjalanan itu.

Pada 9 Agustus 2026, MWCNU Pademawu telah menempuh perjalanan ke Pasean bukan sekadar untuk menghadiri Bahtsul Masail.

Mereka membawa semangat keilmuan, tradisi musyawarah, persaudaraan NU, dan satu modal penting yang tidak boleh hilang dari perjalanan organisasi:

humor.

Karena dalam tradisi NU, perbedaan pendapat boleh tajam, argumentasi boleh kuat, forum boleh serius, tetapi persaudaraan harus tetap hangat.

Dan setelah semua selesai, satu kalimat paling tepat untuk perjalanan pulang mungkin hanya:

“Sudah ngopi, sudah debat, sekarang waktunya kalem.”

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post