Maskurdi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Pramuka SDN Potoan Daya 2 Lima atau Lima Puluh, Tetap Harus Tersenyum
SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA

Pramuka SDN Potoan Daya 2 Lima atau Lima Puluh, Tetap Harus Tersenyum

Potoan Daya — Latihan Pramuka di SD Negeri Potoan Daya 2 ternyata tidak selalu berjalan dengan jumlah peserta yang stabil. Kadang yang datang hanya lima siswa. Kadang bahkan lebih sedikit. Namun, pada kesempatan lain, peserta latihan bisa membeludak hingga sekitar 50 siswa.

Pasang surut jumlah peserta itulah yang justru menjadi warna tersendiri dalam perjalanan kegiatan kepramukaan di sekolah tersebut.

Pernah suatu latihan, yang hadir hanya sekitar lima siswa. Itupun didominasi siswa kelas 1 dan 2. Kalau dilihat dari jumlahnya, mungkin ada yang bertanya, “Ini latihan Pramuka atau les privat?”

Tetapi bagi pembina Pramuka SDN Potoan Daya 2, sedikit atau banyak peserta bukan alasan untuk menghentikan latihan.

“Pramuka memang melatih kesabaran. Jadi harus tetap dilayani, dilatih dan dididik dengan sabar. Semua akan indah pada waktunya,” kata Kak Maskurdi, pembina Pramuka SDN Potoan Daya 2.

Dan benar saja. Kalau sedang ramai, jumlah peserta latihan bisa mencapai 50 siswa.

Nah, kalau sudah begini, yang kewalahan justru pembinanya.

Apalagi kalau kebetulan yang hadir hanya Kak Maskurdi seorang diri. Ia harus membagi perhatian antara golongan Siaga dan Penggalang. Yang satu ingin belajar tepuk tangan, permainan dan kegiatan khas Siaga. Yang lain sudah ingin bergerak dengan kegiatan Penggalang.

“Kalau yang datang 50 anak dan pembinanya cuma satu, itu bukan lagi latihan Pramuka. Itu latihan kesabaran tingkat lanjut,” mungkin begitu gambaran sederhananya.

Tetapi bulan Agustus ini suasana berbeda. Semangat anak-anak sedang tinggi. Nuansa kemerdekaan tampaknya ikut menular ke semangat latihan. Kehadiran siswa mulai ramai dan kegiatan Pramuka terasa lebih hidup.

Ada perubahan waktu latihan yang juga harus menyesuaikan kebijakan baru Dinas Pendidikan. Sebelumnya, latihan dilaksanakan setiap Jumat pukul 15.00–16.30 WIB. Kini jadwalnya berubah menjadi Jumat pukul 12.30–14.00 WIB.

Dan di tengah dinamika latihan itu, selalu saja ada cerita lucu.

Salah satunya datang dari seorang anggota Siaga kelas 1. Anak ini sebenarnya mau mengikuti latihan Pramuka. Tetapi ada syaratnya: ia hanya mau dilatih sendirian oleh satu pembina.

Kalau pembinanya membagi perhatian kepada anak-anak lain?

“Tidak mau.”

Kalau tidak dilatih sendirian?

“Balik kanan!”

Alias pulang.

Pusing tidak pembinanya?

Tentu saja.

Belum selesai dengan urusan peserta yang ingin dilayani secara eksklusif, ada lagi cerita tentang perlengkapan Pramuka.

Beberapa siswa terkadang meminta tolong kepada pembina untuk membelikan perlengkapan Pramuka.

“Titip dulu, Kak.”

Karena kasihan dan ingin membantu, pembina pun membelikan sesuai pesanan. Barang sudah diterima. Tinggal menunggu uang pembayaran.

Tapi ternyata menunggu pembayaran juga membutuhkan kesabaran ala Pramuka.

Hari berganti hari.

“Uangnya mana?”

“Lupa bawa, Kak.”

Besoknya ditanya lagi.

“Lupa lagi, Kak.”

Lama-kelamaan bukan hanya lupa membawa uang, tetapi uangnya seperti ikut latihan menghilang dari peredaran.

Akhirnya, ada yang benar-benar tidak membayar.

Tekor tidak pembinanya?

“Tentu,” jawab hati pembina.

Namun, mungkin di situlah sisi lain pendidikan Pramuka. Pembina bukan hanya mengajarkan baris-berbaris, tali-temali, semaphore atau berbagai keterampilan kepramukaan. Pembina juga sedang belajar memahami karakter anak, belajar sabar, belajar menghadapi kejutan dan, sesekali, belajar merelakan uang belanja perlengkapan Pramuka yang belum kembali.

Karena bagi Kak Maskurdi, Pramuka bukan semata-mata soal berapa banyak siswa yang hadir.

Lima siswa tetap dilatih.

Sepuluh siswa tetap dilayani.

Lima puluh siswa tetap dihadapi, meskipun keringat pembina mungkin sudah lebih dulu mengikuti kegiatan.

Sebab pendidikan memang membutuhkan proses. Hari ini mungkin hanya lima anak yang datang. Besok bisa jadi 50 anak. Hari ini mungkin ada anak yang masih minta dilatih sendirian. Kelak, siapa tahu, justru ia yang berdiri paling depan memimpin teman-temannya.

Di situlah kesabaran seorang pembina diuji.

Dan mungkin benar kata Kak Maskurdi:

“Semua akan indah pada waktunya.”

Walaupun sebelum waktunya tiba, pembinanya mungkin harus menarik napas panjang dulu.

Namanya juga Pramuka.

Setia, sabar, siap… dan kadang harus siap nombok.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post