RAPAT PANITIA PERJUSAMI PALENGAAN MARI BERNEGOSIASI DENGAN ANAK TK DALAM DIRI SENDIRI
Palengaan, 27 Agustus 2026 — Kantor Pusat Kegiatan Guru (PKG) Kecamatan Palengaan pada Kamis, 27 Agustus 2026, kembali menjadi laboratorium sosial. Bukan laboratorium untuk menguji pupuk, bukan pula tempat mengukur kadar air garam, tetapi tempat menguji satu hal yang jauh lebih rumit: kesabaran manusia dalam berorganisasi.
Hari itu, panitia Perkemahan Jumat, Sabtu, dan Minggu (Perjusami) Penggalang Kecamatan Palengaan 2026 menggelar rapat. Agenda utamanya cukup sederhana: membagi tugas kepanitiaan dan membahas fasilitas yang akan diterima panitia.
Secara teori, rapat semacam ini mestinya sederhana.
Ada tugas.
Ada orang.
Tugas dibagikan kepada orang.
Selesai.
Namun teori organisasi rupanya tidak selalu sejalan dengan praktik di lapangan.
Begitu pembagian tugas dimulai, muncullah fenomena menarik yang dalam ilmu sosial mungkin bisa disebut sebagai “Sindrom Tugas Sesuai Selera.” Beberapa pembina tampak keberatan apabila mendapatkan tugas yang bukan bidang yang mereka inginkan.
Rupanya dalam dunia kepanitiaan, ada prinsip baru yang sedang berkembang:
“Saya siap membantu, asal tugasnya sesuai dengan keinginan saya.”
Kalau tugasnya cocok, semangatnya seperti regu Penggalang mendapat aba-aba “maju!”. Tetapi kalau tugasnya tidak sesuai selera, semangatnya mendadak berubah menjadi “mundur, satu langkah!”
Masalah kemudian berkembang ke persoalan klasik dalam kepanitiaan: honorarium.
Ada anggota panitia yang memilih mundur karena tidak mendapatkan bayaran. Sampai di sini sebenarnya masih dapat dipahami. Orang bekerja memang membutuhkan penghargaan, meskipun penghargaan dalam kegiatan sosial tidak selalu berbentuk uang.
Namun muncul perkembangan yang lebih menarik.
Ketika pembicaraan mengenai bayaran muncul, ternyata ada pula yang berpandangan bahwa kalaupun dibayar, bayarannya masih dianggap terlalu murah. Akhirnya, keputusan pun diambil: tetap mundur.
Dalam bahasa sederhana:
tidak dibayar, mundur. Dibayar sedikit, juga mundur.
Kalau begitu, mungkin yang dicari bukan sekadar honorarium, tetapi honorarium yang mampu mengalahkan rasa malas.
Di sinilah posisi Ketua dan Sekretaris Panitia menjadi semakin berat. Ketika beberapa personel mengundurkan diri atau keberatan dengan pembagian tugas, pekerjaan yang semestinya terbagi rata perlahan kembali menumpuk ke pundak panitia inti.
Secara manajemen organisasi, kondisi seperti ini sebenarnya mudah dijelaskan. Sebuah kepanitiaan akan berjalan efektif apabila terdapat pembagian kerja, kesediaan menjalankan peran, komunikasi, serta kesepakatan terhadap tujuan bersama.
Jika setiap orang hanya bersedia mengerjakan bagian yang disukai, maka organisasi berpotensi mengalami apa yang dalam bahasa sederhana disebut:
“Semua ingin menjadi striker, tetapi siapa yang mau menjadi penjaga gawang?”
Anggaran Sudah Dipangkas, Keinginan Panitia Belum Terpangkas
Situasi menjadi semakin unik jika melihat rapat sebelumnya.
Panitia inti sebelumnya telah bertemu dengan para Kamabigus untuk membahas kebutuhan anggaran kegiatan. Dalam pertemuan tersebut, berbagai anggaran bahkan sudah dikurangi, sebagian lainnya dihapus.
Artinya, panitia inti sebenarnya sudah melakukan proses efisiensi.
Anggaran dipangkas.
Kebutuhan diseleksi.
Beberapa fasilitas dikurangi.
Tetapi rupanya, ketika hasil efisiensi itu diteruskan ke panitia pelaksana di bawahnya, muncul persoalan baru.
Sebagian keinginan anggota panitia ternyata tidak dapat dipenuhi.
Dan seperti hukum alam dalam kehidupan manusia, ketika keinginan bertemu keterbatasan anggaran, lahirlah sebuah makhluk baru bernama “ngambek.”
Ada yang kecewa.
Ada yang keberatan.
Ada yang mempertanyakan.
Bahkan ada yang memilih mengundurkan diri.
Di sinilah Ketua dan Sekretaris kembali mendapat pekerjaan tambahan: bukan hanya mengatur Perjusami, tetapi juga mengatur suasana hati manusia.
Padahal, kalau ada jabatan bernama Ketua Panitia, sebenarnya tidak pernah ada jabatan resmi bernama Ketua Penjinak Ngambek.
Fenomena “Orang Dewasa Rasa TK”
Kalau diperhatikan lebih dalam, persoalan ini sebenarnya bukan sekadar masalah Perjusami. Ia merupakan gambaran kecil tentang dinamika organisasi manusia.
Kita sering menginginkan organisasi berjalan profesional. Kita ingin diperlakukan sebagai orang dewasa. Kita ingin pendapat kita dihargai. Kita ingin diberi tanggung jawab.
Tetapi ketika mendapatkan tugas yang tidak sesuai keinginan, kita protes.
Ketika fasilitas dikurangi, kita kecewa.
Ketika imbalan tidak sesuai harapan, kita mengundurkan diri.
Maka muncullah pertanyaan sederhana:
Kita ini sebenarnya orang dewasa atau anak TK?
Di sinilah kalimat Gus Dur terasa menemukan relevansinya: manusia boleh saja sudah dewasa secara umur, tetapi kedewasaan dalam bersikap merupakan perkara yang berbeda.
Dalam konteks rapat panitia Perjusami Palengaan, kalimat itu terasa semakin relevan.
Mau diperlakukan seperti orang dewasa, tetapi kadang perilakunya seperti anak TK.
Masalahnya, kalau diperlakukan seperti anak TK, tubuhnya sudah tinggi-tinggi.
Akhirnya panitia bingung.
Mau diberi tanggung jawab sebagai orang dewasa, minta tugas sesuai selera.
Mau diberi penghargaan, minta bayaran.
Sudah dibayar, merasa terlalu murah.
Diberi tugas, keberatan.
Tugasnya dipindahkan, belum tentu cocok.
Lalu mundur.
Pusing kan?
Perjusami dan Pelajaran tentang Kedewasaan
Ironisnya, semua ini terjadi dalam sebuah kegiatan Gerakan Pramuka yang sejak awal justru memiliki nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, kerja sama, gotong royong, kepemimpinan, dan pengabdian.
Pramuka mengajarkan bahwa tugas bukan selalu tentang apa yang kita sukai, melainkan tentang apa yang dibutuhkan kelompok.
Seorang Penggalang tidak akan bertanya kepada pemimpin regu:
“Kak, saya mau tugas memasak, tapi jangan mencuci piring.”
Ia juga tidak akan mengatakan:
“Kalau bayarannya segini, saya mundur.”
Karena di situlah pendidikan karakter bekerja.
Tanggung jawab tidak selalu datang bersama kenyamanan.
Justru kedewasaan terlihat ketika seseorang mampu menjalankan tugas yang mungkin tidak sesuai dengan keinginannya demi kepentingan bersama.
Dan mungkin inilah pelajaran paling penting dari rapat panitia Perjusami tahun ini.
Perjusami ternyata bukan hanya kegiatan untuk mendidik anak-anak menjadi Penggalang.
Perjusami juga diam-diam sedang menguji apakah para orang dewasa yang mengurusnya sudah benar-benar menjadi dewasa.
Sebab menyelenggarakan perkemahan bukan hanya perkara tenda, konsumsi, perlengkapan, upacara, kegiatan, dan administrasi.
Ada satu perlengkapan yang jauh lebih penting tetapi sering lupa dimasukkan dalam daftar kebutuhan:
kedewasaan.
Dan sayangnya, perlengkapan yang satu ini tidak bisa dibeli di toko Pramuka.
Ia harus dilatih.
Dilakukan.
Dibiasakan.
Ketua dan Sekretaris: Dua Orang yang Mungkin Mulai Bertanya, “Kenapa Saya Mau Jadi Panitia?”
Pada akhirnya, rapat tetap harus menghasilkan keputusan. Perjusami harus tetap berjalan. Tugas harus tetap dibagi. Kekurangan personel harus dicari jalan keluarnya.
Ketua dan Sekretaris Panitia pun kembali menjadi dua orang yang paling banyak menerima konsekuensi dari dinamika tersebut.
Mereka harus memastikan kegiatan tetap berjalan meskipun sebagian orang memilih mundur karena tugas, sebagian kecewa karena fasilitas, dan sebagian lainnya merasa penghargaan yang diberikan belum sebanding dengan pekerjaan.
Tetapi begitulah organisasi.
Kalau semua orang hanya mau mengerjakan pekerjaan yang enak, organisasi tidak akan pernah tumbuh.
Kalau semua orang hanya mau bekerja ketika mendapatkan imbalan besar, kegiatan sosial akan kehilangan ruh pengabdiannya.
Dan kalau setiap ketidakpuasan diselesaikan dengan mengundurkan diri, maka yang tersisa bukan lagi kepanitiaan, melainkan rombongan mantan panitia.
Maka, sebelum Perjusami benar-benar dimulai, mungkin ada satu kegiatan tambahan yang perlu dimasukkan ke dalam agenda:
“Pelatihan menjadi orang dewasa.”
Materinya sederhana:
Menerima tugas meskipun bukan tugas favorit. Menghargai keputusan bersama. Memahami keterbatasan anggaran. Membedakan kebutuhan dan keinginan. Tidak menjadikan honor sebagai satu-satunya ukuran pengabdian. Dan yang paling sulit: belajar tidak ngambek ketika keinginan tidak terpenuhi.Sebab pada akhirnya, Perjusami adalah kegiatan bersama.
Bukan panggung untuk memenuhi keinginan pribadi.
Bukan pula pasar tempat semua pekerjaan harus dihitung dengan tarif masing-masing.
Ia adalah ruang pendidikan.
Dan sebelum mendidik anak-anak tentang disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan pengabdian, mungkin orang-orang dewasa yang berada di belakangnya harus terlebih dahulu memberikan contoh.
Kalau tidak, jangan-jangan nanti anak-anak Penggalang justru bertanya:
“Kak, kenapa orang dewasa di kepanitiaan malah seperti anak TK?”
Nah.
Kalau sudah sampai ditanya begitu, panitia benar-benar membagongkan.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
