Maskurdi

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
AJI MUMPUNG KE JOMBANG PC SNNU PAMEKASAN MERIAHKAN MUKTAMAR NU KE-35
NU MERAWAT JAGAD MEMBANGUN PERADABAN

AJI MUMPUNG KE JOMBANG PC SNNU PAMEKASAN MERIAHKAN MUKTAMAR NU KE-35

Jombang — Muktamar NU ke-35 di Jombang bukan hanya menjadi momentum penting bagi warga Nahdliyin untuk mengikuti rangkaian kegiatan organisasi, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mempererat silaturahmi, berziarah ke maqbarah para ulama, sekaligus… menguji seberapa kuat fisik setelah menempuh perjalanan malam dari Pamekasan.

PC Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (SNNU) Pamekasan turut hadir memeriahkan suasana Muktamar NU ke-35 di Jombang. Rombongan berangkat dari Pamekasan pada malam Sabtu dan tiba di basecamp rombongan liar PCNU Pamekasan sekitar pukul 03.00 WIB dini hari.

Sampai di Jombang, pertanyaan pertama tentu bukan, “Besok acaranya apa?”

Tetapi:

“Bisa tidur nggak?”

Jawabannya ternyata tidak sempat.

Baru saja duduk sebentar, suara azan Subuh sudah berkumandang. Lelah? Iya. Mengantuk? Jelas. Tetapi semangat? Tetap.

Selesai melaksanakan salat Subuh, rombongan sempat beristirahat sebentar. Namun, pada pukul 06.30 WIB, kaki kembali diajak bekerja. Rombongan berkeliling melihat-lihat situasi dan suasana sekitar pelaksanaan Muktamar NU ke-35.

Jombang pagi itu sudah terasa berbeda. Nuansa Muktamar begitu kental. Warga Nahdliyin dari berbagai daerah berdatangan. Ada yang membawa atribut organisasi, ada yang sibuk mencari lokasi kegiatan, ada pula yang tampak sibuk mencari rombongannya sendiri.

Maklum, kalau sudah berkumpul dengan massa sebanyak itu, mencari teman sendiri kadang lebih sulit daripada mencari sandal setelah pengajian.

Ziarah: Mumpung Dekat, Dituntaskan

Pukul 08.00 WIB, rombongan melanjutkan perjalanan untuk berziarah ke maqbarah KH Abdul Wahab Hasbullah.

Setelah ziarah, rombongan kembali ke basecamp dan sekitar pukul 09.00 WIB sarapan pagi.

Perut mulai tenang.

Tetapi perjalanan belum selesai.

Rombongan kemudian melanjutkan ziarah ke maqbarah KH Bisri Syansuri, kemudian diteruskan ke maqbarah Gus Dur.

Di sinilah mulai muncul sebuah prinsip perjalanan yang kemudian menjadi semangat utama rombongan:

“Aji mumpung.”

Mumpung sudah sampai Jombang.

Mumpung sudah dekat.

Mumpung belum tentu besok bisa datang lagi dari Pamekasan.

Maka, daripada nanti harus berangkat lagi dari Pamekasan hanya untuk ziarah, lebih baik semuanya dituntaskan sekarang.

Capek?

Nanti dulu.

Yang penting maqbarah selesai dikunjungi.

Lapar Datang, Ban Pun Ikut Bocor

Setelah ziarah ke maqbarah Gus Dur, rasa lapar mulai terasa semakin nyata.

Ini bukan lagi lapar karena melihat orang makan.

Ini lapar sungguhan.

Rombongan akhirnya singgah di sebuah warung pinggir jalan untuk makan siang. Kebetulan, mobil juga mengalami masalah: ban bocor.

Jadilah satu rombongan menjalankan dua agenda sekaligus:

sebagian makan, sebagian menembel ban.

Menu yang tersedia ternyata sangat sederhana. Hanya ada satu jenis makanan:

Soto ayam.

Minumannya pun hanya satu pilihan:

Jeruk hangat.

Tidak ada pilihan kedua.

Sotonya?

Asin.

Jeruknya?

Tidak pakai gula sama sekali.

Jadilah perpaduan kuliner yang cukup berkesan: soto dengan rasa asin dan jeruk hangat dengan rasa kecut.

Kalau biasanya makan untuk mencari kenikmatan, kali ini makan sekaligus menguji ketabahan.

Namun, namanya juga sudah lapar.

Masuk saja.

Apalagi prinsipnya tetap sama:

aji mumpung.

Mumpung ada makanan.

Mumpung sudah sampai Jombang.

Mumpung ban sedang ditambal.

Muktamar Dipantau dari WhatsApp

Di sela perjalanan dan ziarah, perkembangan Muktamar NU ke-35 tetap dipantau melalui grup WhatsApp PCNU Pamekasan.

Tidak banyak komentar.

Sesekali saja ikut nimbrung.

Selebihnya membaca, mengikuti perkembangan, dan memastikan apa yang sedang berlangsung di arena Muktamar.

Maklum, kalau terlalu banyak komentar, nanti malah lupa bahwa badan sendiri sedang meminta haknya: istirahat.

Setelah seluruh agenda ziarah dan perjalanan selesai, rombongan kembali ke basecamp.

Tetapi tentu saja, pulang ke basecamp bukan berarti selesai.

Masih ada satu agenda yang tidak boleh dilewatkan ketika sudah berada di lokasi Muktamar:

belanja suvenir.

Misi Belanja: Berangkat Bersama, Pulang Mencari-Cari

Berbagai suvenir Muktamar menjadi incaran. Mulai dari kaos Muktamar, batik Muktamar, sarung Muktamar, dan berbagai cendera mata lainnya.

Saat berangkat ke lokasi belanja, rombongan masih berjalan bersama rombongan Pamekasan lainnya.

Masih kompak.

Masih satu barisan.

Masih saling mengenal.

Tetapi begitu masuk ke area belanja yang penuh sesak oleh pengunjung…

semuanya berubah.

Pencar!

Yang satu ke kanan.

Yang satu ke kiri.

Yang satu masuk toko.

Yang lain keluar toko.

Ada yang mencari kaos.

Ada yang mencari sarung.

Ada yang mencari batik.

Dan pada akhirnya, semua sibuk mencari barang sekaligus mencari teman.

Awalnya sudah disepakati:

“Belanja paling lama satu jam.”

Tetapi teori ternyata berbeda dengan praktik.

Satu jam berlalu.

Belum selesai.

Dua jam berlalu.

Masih ada yang dicari.

Hampir tiga jam kemudian, barulah rombongan mulai kembali berkumpul.

Ternyata masalahnya bukan belanjanya yang lama.

Mencari orangnya yang lama.

Capek? Jangan Ditanya!

Setelah semua agenda selesai, rombongan kembali ke basecamp.

Kalau ditanya bagaimana kondisi badan?

Jangan tanya.

Sudah dijelaskan sejak awal:

ini perjalanan aji mumpung.

Mumpung sudah sampai Jombang, maka ziarah dituntaskan.

Mumpung dekat, maka kesempatan dimanfaatkan.

Mumpung ada Muktamar, maka suasananya dinikmati.

Mumpung ada suvenir, maka belanja sekalian.

Mumpung lapar, soto pun dimakan.

Mumpung jeruk hangat tersedia, diminum juga meskipun tanpa gula.

Mumpung ban bocor, ya ditambal sekalian.

Lelah tentu ada.

Namun, ada kepuasan tersendiri karena perjalanan ke Jombang tidak hanya menjadi perjalanan menghadiri kemeriahan Muktamar NU ke-35. Perjalanan ini juga menjadi kesempatan untuk bersilaturahmi, mengikuti perkembangan Muktamar, berziarah kepada para ulama, dan membawa pulang kenangan yang kelak bisa diceritakan kembali.

Dan mungkin, dari seluruh perjalanan itu, satu kalimat paling tepat untuk menggambarkan rombongan PC SNNU Pamekasan adalah:

“Badan boleh lelah, perut boleh lapar, ban boleh bocor, soto boleh asin, jeruk boleh tanpa gula—yang penting mumpung sudah sampai Jombang, jangan sampai ada yang terlewat.”

Karena bagi rombongan ini, perjalanan jauh bukan sekadar soal sampai tujuan.

Tetapi tentang bagaimana memanfaatkan kesempatan selagi ada.

Aji mumpung, tetapi mumpungnya untuk hal-hal yang bermanfaat.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post