DUA KADER, DUA AGENDA, SATU SEMANGAT PERJUANGAN
Reportase PC Pergunu Pamekasan Mengikuti PIW PKGNU Jawa Timur
Sabtu–Minggu, 19–20 September 2026
Ada orang yang kalau kelelahan memilih istirahat. Ada pula yang kalau jadwalnya padat memilih mengurangi kegiatan. Tetapi dalam dunia perjuangan organisasi, kadang-kadang yang tersedia bukan pilihan “istirahat atau berangkat”, melainkan hanya pilihan: “berangkat dengan tenaga yang tersisa atau berangkat sambil membawa semangat.”
Begitulah kira-kira yang terjadi pada dua kader PC Pergunu Pamekasan, yaitu Maskurdi, Sekretaris PC Pergunu Pamekasan, dan Mattablih, Koordinator Bidang SDM PC Pergunu Pamekasan, ketika mendapat amanah mengikuti Pendidikan Instruktur Wilayah Pendidikan Kader Guru Nahdlatul Ulama (PIW PKGNU) Jawa Timur, Sabtu–Minggu, 19–20 September 2026.
Keduanya berangkat bukan dalam kondisi kalender yang sedang kosong. Justru sebaliknya, agenda masing-masing sedang penuh. Bahkan kalau jadwal kegiatan itu ditulis di papan tulis, mungkin spidolnya yang lebih dahulu kehabisan tinta.
Dari Ujian Disertasi Langsung ke Pendidikan Kader
Mattablih mempunyai cerita tersendiri.
Sehari sebelum PIW PKGNU, ia masih harus menjalani ujian disertasi di Yogyakarta dalam rangka menyelesaikan perjuangan akademiknya menuju gelar doktor. Secara logika sederhana, setelah ujian disertasi seseorang mungkin membutuhkan waktu untuk menarik napas, tidur, minum kopi, atau sekadar memandang langit sambil berkata, “Alhamdulillah, satu tahap selesai.”
Namun Mattablih memilih jalur yang berbeda.
Tanpa pulang terlebih dahulu ke Pamekasan, ia langsung melanjutkan perjalanan menuju lokasi PIW PKGNU Jawa Timur.
Perjalanan panjang itu tentu bukan tanpa konsekuensi. Kondisi fisik mulai memberikan “surat peringatan”. Masuk angin dalam perjalanan membuat suaranya hampir menghilang. Tetapi, rupanya semangat perjuangan tidak ikut masuk angin.
Kalau suaranya tinggal beberapa persen, semangatnya justru tetap seratus persen.
Selama dua hari pendidikan, Mattablih tetap mengikuti rangkaian kegiatan dengan aktif. Dalam bahasa ilmiah, ini dapat disebut sebagai resiliensi kader: kemampuan individu mempertahankan keterlibatan dan komitmen meskipun menghadapi tekanan fisik dan kelelahan.
Dalam bahasa NU, mungkin cukup disebut:
“Suara boleh serak, perjuangan jangan serak.”
Sekretaris Pergunu yang Membagi Waktu dengan Sekretaris Perjusami
Sementara itu, Maskurdi juga tidak datang dengan tubuh yang baru selesai reset.
Pada waktu yang sama, tanggal 18–20 September 2026, Maskurdi masih mempunyai amanah sebagai Sekretaris Panitia Perjusami Penggalang Kecamatan Palengaan 2026.
Artinya, ketika PIW PKGNU berlangsung, di tempat lain juga sedang berlangsung Perjusami Penggalang Kecamatan Palengaan.
Dua agenda berjalan bersamaan.
Namun sebagai sekretaris, Maskurdi tentu memahami bahwa pekerjaan administrasi tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan setengah matang. Karena itu, sebelum berangkat mengikuti PIW PKGNU, seluruh tugas kesekretariatan yang menjadi tanggung jawabnya terlebih dahulu diselesaikan dengan tuntas dan dialihkan secara tertib kepada Wakil Sekretaris Panitia Perjusami.
Ini bukan sekadar persoalan membagi waktu. Ini adalah praktik sederhana dari prinsip manajemen tanggung jawab: menyelesaikan pekerjaan, melakukan serah terima, kemudian menjalankan amanah berikutnya.
Jadi, tidak ada cerita:
“Saya berangkat dulu, urusan surat-menyurat nanti menyusul.”
Tidak.
Surat sudah selesai. Administrasi sudah dibereskan. Tanggung jawab sudah dialihkan. Baru kemudian berangkat.
Kalau dalam istilah administrasi organisasi: SOP jalan.
Kalau dalam istilah sederhana: “Jangan sampai pergi membawa semangat, tetapi meninggalkan pekerjaan yang belum selesai.”
Ketika Fisik Sudah Diforsir, Jadwal Malah Makin Padat
Kondisi keduanya sebenarnya cukup menarik untuk diamati.
Mattablih baru saja menjalani ujian disertasi di Yogyakarta dan melanjutkan perjalanan tanpa pulang. Maskurdi baru saja menyelesaikan pekerjaan kesekretariatan Perjusami yang berlangsung bersamaan dengan agenda PIW.
Dengan kata lain, keduanya datang ke pendidikan dalam kondisi fisik dan pikiran yang sudah terlebih dahulu diforsir.
Namun tantangan berikutnya belum selesai.
Rundown PIW PKGNU Jawa Timur ternyata cukup padat. Materi, diskusi, interaksi, refleksi, dan berbagai aktivitas kaderisasi berlangsung dengan intensitas tinggi. Bahkan pada malam Minggu, kegiatan masih berlangsung hingga sekitar pukul 24.00 WIB.
Dalam kondisi normal, pukul 24.00 mungkin sudah waktunya manusia berdamai dengan bantal.
Tetapi di ruang kaderisasi, bantal harus menunggu.
Yang lebih menarik, kelelahan tersebut tidak membuat suasana menjadi kaku. Di sela-sela kepadatan materi, tetap muncul canda khas warga NU. Humor menjadi semacam vitamin sosial yang membuat peserta tetap bisa tersenyum meskipun mata mulai meminta kompromi.
Mungkin inilah salah satu metode pendidikan nonformal yang paling murah:
materi serius, wajah tetap ceria.
Canda sebagai Energi Sosial Kader
Canda dalam kegiatan kaderisasi bukan berarti mengurangi keseriusan pendidikan. Justru dalam perspektif pembelajaran orang dewasa, suasana emosional yang positif dapat membantu peserta tetap terlibat dalam proses belajar.
Kader yang kelelahan membutuhkan suasana yang manusiawi.
Karena itu, canda khas NU menjadi semacam energi sosial. Ada tawa, ada guyon, ada saling meledek secara proporsional, tetapi substansi pendidikan tetap berjalan.
Di sinilah karakter kaderisasi NU terlihat: serius dalam nilai, cair dalam suasana.
Bisa membicarakan pendidikan kader guru dengan serius, tetapi beberapa menit kemudian bisa tertawa karena persoalan yang sangat sederhana.
Itulah barangkali yang membuat dua hari terasa panjang, tetapi tidak terasa hambar.
Lebih dari Sekadar Menghadiri Acara
Keikutsertaan Maskurdi dan Mattablih dalam PIW PKGNU Jawa Timur tidak sekadar dapat dibaca sebagai kegiatan menghadiri undangan organisasi.
Ada proses yang lebih dalam: komitmen terhadap pengembangan kapasitas kader guru NU.
PIW PKGNU merupakan ruang untuk memperkuat wawasan, kemampuan instruktur, jejaring kader, serta pemahaman tentang pendidikan kader guru dalam tradisi Nahdlatul Ulama'.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
