MOBIL PADEMAWU BERANGKAT BERSAMA, PULANG BERCERAI
Dari Bekal Pamekasan, Ziarah Tiga Ulama, Belanja Suvenir, Hingga Sopir yang “KO” di Jalan Pulang
Jombang — Muktamar NU ke-35 di Jombang menjadi momentum yang tidak dilewatkan oleh MWCNU Pademawu, Pamekasan. Rombongan berangkat dari Pamekasan pada malam Sabtu, 28 Agustus 2026, dengan dua kendaraan.
Perjalanan ini sejak awal sudah memiliki satu modal utama:
semangat.
Soal tidur?
Itu urusan nanti.
Soal makan?
Sudah ada bekal.
Soal pulang?
Belum perlu dipikirkan.
Yang penting berangkat dulu.
Dua Mobil, Satu Tujuan
Mobil pertama diisi oleh sejumlah pengurus MWCNU Pademawu. Di dalamnya ada Kiai Sidik selaku Ketua MWCNU Pademawu, Maskurdi selaku sekretaris, Kiai Juhari selaku Wakil Ketua, Kiai Haqqul Yaqin selaku Katib, Kiai Nuruddin dari PRNU Padelegan, serta Kiai Baisuni dari PRNU Pademawu Barat.
Mobil kedua juga tidak kalah lengkap. Ada Kiai Ali Rahbini selaku Rais, Kiai Sakrani selaku Wakil Rais, Kiai Wafi dari PRNU Dasuk, serta tiga orang dari Muslimat NU.
Dua mobil tersebut berangkat bersama-sama dari Pamekasan.
Satu tujuan.
Satu semangat.
Satu agenda.
Dan untuk sementara waktu…
satu kecepatan.
Sampai di Jombang pada Sabtu dini hari, rombongan kemudian bergabung dengan rombongan PCNU Pamekasan yang menempati base camp berupa satu rumah sewaan.
Di sinilah kehidupan bersama dimulai.
Dan ternyata, tantangan pertama bukanlah Muktamar.
Bukan pula ziarah.
Tetapi…
sarapan.
Ketika Juru Masak Belum Siap, Bekal Pademawu Jadi Penyelamat
Pagi hari, perut mulai meminta perhatian.
Wajar.
Perjalanan malam dari Pamekasan ke Jombang tentu membuat perut ingin segera diisi.
Namun, pihak juru masak di base camp ternyata belum siap.
Masaknya terlambat.
Rombongan MWCNU Pademawu akhirnya mengambil keputusan yang sangat demokratis:
keluarkan bekal!
Bekal yang sejak awal dibawa dari Pamekasan akhirnya menjadi penyelamat.
Bukan hanya menyelamatkan rombongan Pademawu.
Sebagian rombongan lain yang kebetulan berada di base camp juga ikut menikmati bekal tersebut.
Menunya mungkin tidak mewah.
Porsinya juga tidak banyak.
Karena harus dibagi kepada banyak orang.
Tetapi anehnya…
rasanya nikmat sekali.
Tahu kenapa?
Karena masing-masing mendapat sedikit.
Dalam kondisi lapar, sedikit pun terasa seperti hidangan hotel bintang lima.
Prinsipnya sederhana:
“Yang penting perut ada isinya dulu.”
Daripada cacing-cacing di dalam perut mulai mengadakan demonstrasi.
Kalau sampai mereka turun ke jalan, repot.
Maka bekal Pademawu pun dibagi.
Sedikit untuk yang ini.
Sedikit untuk yang itu.
Yang penting semua kebagian.
Yang penting tidak ada yang kelaparan.
Dan yang paling penting:
cacing-cacing perut berhasil dibungkam secara damai.
Muktamar Belum Selesai, Ziarah Jangan Sampai Terlewat
Setelah urusan perut aman, rombongan MWCNU Pademawu melanjutkan agenda.
Kesempatan berada di Jombang tidak hanya digunakan untuk menikmati suasana Muktamar NU ke-35.
Rombongan juga menyempatkan diri melakukan ziarah ke sejumlah ulama besar.
Di antaranya maqbarah KH Abdul Wahab Hasbullah, maqbarah Gus Dur, dan maqbarah KH Bisri Syansuri.
Tiga tempat ziarah.
Tiga tokoh besar.
Dan satu prinsip:
mumpung sudah sampai Jombang.
Perjalanan jauh dari Pamekasan tidak setiap hari dilakukan. Maka kesempatan tersebut dimanfaatkan sebaik mungkin untuk berziarah dan mendoakan para ulama.
Kalau tubuh mulai lelah?
Itu nanti.
Yang penting ziarah selesai.
Karena kalau sudah kembali ke Pamekasan, lalu ada yang berkata,
“Kok tidak ziarah sekalian waktu di Jombang?”
Bisa panjang urusannya.
Maka lebih baik dituntaskan.
Suvenir Muktamar: Berangkat Bersama, Berhenti di Toko
Selain mengikuti suasana Muktamar dan berziarah, rombongan juga tidak lupa menyempatkan diri berbelanja suvenir di area sekitar lokasi Muktamar.
Berbagai macam cendera mata menjadi incaran.
Ada kaos.
Ada batik.
Ada sarung.
Dan tentu saja berbagai barang lain yang bisa dijadikan oleh-oleh.
Sebab perjalanan ke Muktamar tanpa membawa suvenir rasanya seperti pergi ke pasar tetapi pulang hanya membawa cerita.
Maka suvenir pun dibeli.
Bukan sekadar barang.
Tetapi bukti bahwa pernah sampai Jombang.
Berangkat Seiring Sejalan, Pulangnya Mulai Berbeda Jalan
Kalau perjalanan berangkat berlangsung bersama, cerita pulang ternyata berbeda.
Dua mobil yang sejak awal berangkat seiring sejalan, ketika pulang mulai menjalani takdir masing-masing.
Penyebabnya satu:
sopir.
Mobil yang satu masih sanggup melanjutkan perjalanan pulang pada malam Ahad.
Tenaganya masih ada.
Semangatnya masih menyala.
Mesinnya juga masih mendukung.
Maka melaju.
Tetapi mobil yang satu lagi?
KO.
Bukan mobilnya.
Supirnya.
Badan sudah meminta istirahat.
Akhirnya perjalanan pulang harus dilakukan dengan beberapa kali berhenti.
Berhenti sebentar.
Istirahat.
Lanjut.
Berhenti lagi.
Istirahat lagi.
Lanjut lagi.
Bahkan pergantian sopir pun dilakukan.
Harapannya sederhana:
“Kalau sopir diganti, mungkin badan kembali segar.”
Ternyata tidak juga.
Sopir baru masuk.
Jalan beberapa saat.
Energi tetap menurun.
Akhirnya…
KO lagi.
Mungkin masalahnya bukan siapa yang menyetir.
Tetapi memang tubuh sudah mengajukan surat permohonan istirahat.
Muktamar Selesai, Ujian Fisik Belum
Perjalanan ke Jombang memang bukan perjalanan pendek.
Berangkat malam dari Pamekasan.
Tiba dini hari.
Tidur seadanya.
Sarapan bekal.
Ziarah.
Menikmati suasana Muktamar.
Belanja suvenir.
Kemudian harus menempuh perjalanan panjang lagi menuju Pamekasan.
Kalau badan manusia memiliki indikator seperti kendaraan, mungkin saat itu indikatornya sudah menunjukkan:
Bensin: tinggal sedikit.
Oli: perlu dicek.
Sopir: mohon istirahat.
Tetapi begitulah perjalanan rombongan Nahdliyin.
Capek iya.
Ngantuk iya.
Lapar pernah.
Salah satu mobil bahkan sampai harus berkali-kali berhenti.
Namun, semua tetap dijalani dengan kebersamaan dan penuh cerita.
Sebab terkadang, perjalanan seperti inilah yang justru menjadi kenangan paling menarik.
Dua Mobil, Dua Kecepatan, Satu Kenangan
Akhirnya, dua mobil MWCNU Pademawu pulang dengan ritme yang berbeda.
Yang satu lebih cepat sampai karena sopir masih mampu bertahan.
Yang satu lagi harus beberapa kali berhenti karena kondisi fisik sudah meminta waktu istirahat.
Tidak masalah.
Sebab dalam perjalanan, cepat bukan selalu berarti lebih baik.
Yang paling penting adalah selamat sampai tujuan.
Perjalanan MWCNU Pademawu ke Muktamar NU ke-35 di Jombang pun meninggalkan banyak cerita.
Tentang dua mobil yang berangkat bersama.
Tentang bekal Pademawu yang menjadi penyelamat sarapan satu base camp.
Tentang cacing-cacing perut yang berhasil dicegah melakukan demonstrasi.
Tentang ziarah ke maqbarah para ulama.
Tentang suvenir Muktamar.
Dan tentu saja tentang dua mobil yang ketika berangkat seiring sejalan, tetapi ketika pulang harus bercerai sementara karena faktor sopir.
Pada akhirnya, perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik dari Pademawu menuju Jombang.
Ini adalah perjalanan silaturahmi, ziarah, kebersamaan, dan pengalaman.
Dan kalau ada satu pelajaran yang bisa dibawa pulang, mungkin begini:
“Semangat boleh sampai Jombang. Tetapi badan tetap manusia. Kalau sudah KO, jangan dipaksa. Berhentilah sebentar. Karena tujuan perjalanan bukan menjadi yang paling cepat, tetapi sampai dengan selamat.”
Sementara soal bekal?
Jangan diremehkan.
Karena dalam kondisi lapar, bekal yang dibagi sedikit-sedikit bisa berubah menjadi hidangan paling nikmat se-Jombang.
Yang penting perut tidak kosong.
Kalau perut kosong, yang protes bukan hanya manusia.
Cacing-cacingnya juga punya hak menyampaikan aspirasi.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
