Mas Rahman

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Desa Batur

Desa Batur

Desa Batur

*******

Hari Raya Idul Adha bukanlah ritual tahunan tentang tumpukan daging yang dibagikan atau angka statistik hewan yang disembelih. Idul Adha adalah madrasah ruhan, sebuah panggung agung di mana manusia diuji untuk mempersembahkan cinta tertingginya kepada Allah. Kurban adalah manifestasi dari penyerahan totalitas jiwa, sebuah ikhtiar suci untuk menyembelih ego, mengikis sifat kikir, dan meruntuhkan belenggu cinta dunia ( Hubbud Dunya ) yang kerap menghijab hati manusia dari Tuhannya.

Namun, di tengah riuh rendahnya perayaan Idul Adha 2026, lembaran sejarah kita sempat dihentak oleh sebuah polemik. Pengadaan 1.098 sapi kurban oleh Presiden Prabowo Subianto yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ( APBN ) yang menimbulkan perdebatan fikih dan sosial.

Perdebatan mengenai penggunaan APBN untuk pengadaan sapi kurban, juga mendapat perhatian dari Guru Besar Universitas Islam Negeri Jakarta Prof.Dr. Ahmad Thilabi Kharlie yang mengatakan, " Dalam fikih Islam, kurban merupakan ibadah personal yang menekankan aspek kepemilikan individu, ketika pembiayaan berasal dari APBN memunculkan pertanyaan, Apakah kurban tersebut merupakan ibadah pribadi atau program sosial negara ?".

Melalui kacamata spiritualitas ketuhanan, peristiwa ini menjadi pengingat yang jernih bagi kita semua. Kurban adalah ibadah personal yang sangat intim antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Ia menuntut adanya pengorbanan yang dirasakan langsung oleh pelakunya. Ketika sebuah kurban bergeser menggunakan dana kolektif negara, dimensi rabbani dari pengorbanan pribadi itu rawan mengabur. Ia tak lagi menjadi getaran cinta personal yang mengetuk pintu langit, melainkan bertransformasi menjadi sekadar program distribusi sosial di bumi.

Sebab, di hadapan Allah, yang sampai kepada -Nya bukanlah darah atau daging hewan kurban, melainkan ketakwaan dan keikhlasan yang bersemayam di dalam dada pemiliknya.

Di belahan bumi yang lain, tepatnya di lereng dingin Desa Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, Allah memperlihatkan kepada kita sebuah ayat semesta yang nyata tentang mukjizat niat. Di tahun 2026 yang sama, desa ini kembali menggetarkan jagat maya dengan mempersembahkan 980 hewan kurban yang terdiri dari 176 sapi dan 714 sapi.

Dunia luar terheran-heran dan bertanya, " Apakah warga Desa Batur adalah kumpulan orang-orang kaya raya ?".

Secara materi, mereka hanyalah para buruh tani, pedagang kecil, dan petani yang akrab dengan tanah berlumpur. Namun secara ruhani, mereka adalah jiwa-jiwa yang kaya. Tradisi mulia yang dirawat sejak tahun 1959, ini adalah bukti bahwa ketika urusan kurban sudah diletakkan di dalam niat yang tulus, Allah sendiri yang akan membentangkan jalan kemudahan.

Setiap hari, para buruh tani ini menyisihkan sebagian kecil rezekinya ke dalam celengan kurban. Di dalam tiap keping uang yang mereka tabung, ada keringat yang jujur, ada doa yang membumbung ke langit, dan ada kerinduan yang mendalam untuk membuktikan ketaatan kepada Ilahi Rabbi. Mereka tidak menunggu kaya untuk berkurban dengan mereka berkurban karena tahu bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Kaya. Kebersamaan dan kekompakan mereka adalah pancaran dari fitrah suci manusia yang telah selesai dengan ego pribadinya.

Desa Batur telah menjadi oase spritual bagi bangsa ini. Mereka mengajarkan kita esensi terdalam dari ketuhanan, bahwa kemuliaan sebuah ibadah tidak diukur dari seberapa megah jabatan pelakunya atau seberapa besar anggaran yang digunakannya. Kemuliaan itu diukur dari seberapa besar ketulusan yang dipertaruhkan di dalamnya.

Saat lembaran Idul Adha berlalu, kisah dari Desa Batur ini mengalir bagai air jernih yang membasuh jiwa kita yang kering. Ia menjadi inspirasi abadi yang berbisik lirih ke dalam hati setiap anak bangsa, bahwa untuk mendekat dan dicintai oleh Allah, yang kita butuhkan bukanlah kemewahan fasilitas dunia, melainkan keteguhan niat dan keikhlasan hati yang berserah penuh kepada-Nya.

" Tradisi ini sudah berlangsung sejak tahun 1959 dan menjadi bagian dari identitas masyarakatnya. Harapannya, semoga Desa Batur menginspirasi Desa-desa di seluruh Indonesia ". - Kepala Desa Batur Amad Fauzi.

Salam Literasi Pariaman, 1/6/2026.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post