Melvin Irawansyah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Maafin Abang Ya Dek.!

Maafin Abang Ya Dek.!

Matahari telah beranjak dari peraduan. Angin semilir berhembus. Kumandang adzan maghrib bertalu. Suara para hamba lirih memuji kebesaranNya.

Di sudut depan masjid, sesungguk suara perlahan. Sujud yang tak lama terkena imbas. Imam shalat mengucap salam. Suara pecah tangis terdengar bias. Duhai, ada apa dikau nak?

Seorang ustadz pendamping menghampiri. Dielusnya punggung sang anak dan bertanya. "Kenapa nak?"

Yang ditanya hanya diam. Hanya menoleh dan menatap sang ustadz. Sesungguk tangisnya tambah menjadi tatkala ditanya lagi. Perlahan sambil menarik nafas.

"Aku takut tak bisa mandiri ustadz" jawabnya terbata-bata.

Sang ustadz membimbingnya keluar masjid agar tak menggangu jama'ah yang berdzikir. Kemudian berusaha menghibur. Diceritakan pengalamannya dulu semasa awal mondok seperti dirinya. Menangis, tidak betah, semua rasa dipadu dalam kehendak. Namun waktu memberikan ruang untuk bertahan.

"Sebenarnya aku kuat ustadz, tapi aku teringat dengan adikku yang sering kubuat nangis. Kami belum sempat bermaafan"

Sang ustadz kembali menguatkan. Meyakinkan bahwa sang adik sudah memaafkan.

"Mau kah ustadz meminjamkanku telephone untuk menghubungi ibuku?" Tiba-tiba sang anak mengangkat kepalanya meminta.

"Aku mau dengar suara adik dan minta maaf" ujarnya lagi membujuk.

Sang Ustadz mengangguk dan merogoh kantong bajunya mengeluarkan handphone.

"Berapa nomor HP ibunya?"

Sang anak sangat girang, dengan lancar mulutnya menyebutkan nomor HP ibunya.

Tersambung.

"Assalamualaikum. Ma ini aku..."

Suara di seberang terdengar lirih. Ada panggilan menyebut namanya. Senang.

"Abang lagi apa? Wah enak ya di pesantren pasti banyak kawan? Abang belajar yang rajin ya. Doain adek biar tak nakal lagi."

"Maafin abang ya dik, doain abang juga ya". Percakapan berlanjut beberapa menit.

Telefon ditutup. Sang anak tersenyum. "Terimakasih ustadz".

Sang ustadz meng-iyakan. "Eh.. kamu sudah makan belum?" Tiba-tiba ustadz bertanya.

"Masih kenyang ustadz, tadi sebelum maghrib sempat beli bakso" ujarnya tersenyum.

Sang ustadz ikut tersenyum dan mengajaknya untuk persiapan shalat isya'.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post