Tentang Cinta
Cinta itu utuh, ia bukanlah benda yang bisa dibagi. Cinta itu adalah keagungan, ia sangat mulia karena dianugrahkan oleh sang Maha Mencintai (AlWaduud). Cinta itu tak akan terbagi, karena ia berasal dari relung sanubari. Yang ada dalam cinta adalah prioritas dalam mencintai, memahami hakikat objek mana yang harus didahulukan untuk dicintai. Kadar dan kualitasnya akan selalu sama ketika ia selalu tersemayam di hati nurani.
Maka, cinta Allah dan RasulNya yang utama untuk dijunjung tinggi, karena jika tanpa cinta dari Dua itu maka sia-sialah semua perbuatan mencintai dan dicintai.
Jangan pernah takut dengan cara orang yang kita cintai dalam mencintai, karena cara dia mencintai kita tak selalu sama dengan cara kita mencintainya.
Jangan pernah tanyakan sebesar apa cintanya kepada kita, tapi berbisiklah pada nurani selayak apa kita untuk dicintai.
Mari kita belajar dari dua insan yang cinta mereka menembus langit tertinggi, cintanya abadi dalam kalamNya yang suci. Tak pernah luntur cinta mereka karena terlandaskan dalam iman yang haqiqi, karena prilaku mereka berpilar pada perintah ilahi. Mereka adalah abul anbiya’ Ibrahim alaihissalam dan istri tercintanya Hajar.
Bagaimana cinta mereka?
Mari kita telusuri. Suatu ketika, Nabi Ibrahim mendapatkan risalah dari Allah untuk pergi meninggalkan istrinya dan anaknya yang saat itu baru saja lahir. Tentu inilah bentuk ujian yang berat bagi beliau, ujian kesetiaan yang kokoh, ujian cinta yang harus dilaksanakan. Jika cinta itu bukan berpondasikan cinta dari Allah, maka ujian itu takkan terlewati dengan kesuksesan.
Namun kecintaannya pada sang istri harus disampingkan jika cinta Ilahi sedang menanti untuk dipenuhi. Begitu pun sang istri, harus merelakan kepergian suami jika cintanya ingin tetap abadi dalam dekapan cinta ilahi. Ragu? Mungkin saja itu terjadi, tapi ketika menyadari dan merasakan ‘kebersamaan ilahi’ selalu meyertai maka kokohlah keyakinan yang sebelumnya menghantui.
Lihatlah, bagaimana keyakinan yang kokoh itu melahirkan kesabaran yang dipuji oleh Ilahi. Kesabaran itu melahirkan keberkahan sepanjang hayat mereka dan semua kita sampai saat ini tetap dapat merasakannya. Air yang selalu mengalir tanpa henti, air yang menjadi sumber kehidupan semua makhluq di bumi. Mengalir deras hingga kelak Allah menghendakinya untuk berhenti, yaitu di hari qiyamat nanti. Ialah zam zam, bagian dari ujian Allah yang tercipta dari kecintaan kepadaNya, dari para hamba Allah yang menjadikan cintaNya sebagai pondasi terkokoh dalam mencintai dan dicintai.
Mari kita belajar juga dari kisah cinta sejati, dari dua hamba Allah yang menjadi kesayangan RasulNya. Ali bin Abi Thalib dan Istrinya Fathimah Azzahrah. Bahwa cinta dalam diam membuktikan kecintaan haqiqi, cinta mereka bukan diam berpangku tangan, namun saling mengadukan kepada Sang Maha Mencintai (Al-Waduud) agar hati terpaut dalam kecintaan yang diredhoi. Mereka saling tidak mengetahui akan saling mengagumi kecuali setelah keduanya sudah terikat dalam perjanjian suci nan kokoh – mitsaqan ghalizha – dalam ikatan pernikahan.
Maka suatu malam saat mereka sudah resmi menjadi suami dan istri, tetiba Fatimah berkata kepada suaminya: “wahai Ali suamiku, maafkan aku karena sebelum kita menikah, aku pernah mengagumi seorang lelaki”. Pernyataan ini tentu akan mengejutkan suaminya, bagaimana mungkin dia mengagumi seorang lelaki, tapi dia malah memilihnya sebagai seorang suami. Ali bin Abi Thalib pun berkata: “kalau begitu, kenapa kau memilihku untuk dijadikan suami, bukan dia?”. Dengan tersenyum Fathimah pun berkata: “ya tentu saja, karena lelaki itu adalah engkau”.
Maa syaaAllah begitu mesra dan romantisnya sisi ini, kita tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan percintaan mereka, meski Ali tak setampan lelaki pada umumnya pada saat itu, dan juga tidak memiliki kekayaan harta, namun cinta mereka abadi hingga ke surgaNya, karena pondasi cinta mereka adalah keredhoan Allah subhaanahu wata’ala.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
