Menunggu Calon Istri
Jaka, lelaki perjaka yang sudah mapan secara materi; Mobil satu, rumah milik sendiri. Di umurnya mendekati kepala empat belum satu perempuan pun yang memikat hatinya. Teman temannya sering komentar kalau dirinya terlalu pemilih. Jaka biasanya hanya nyengir menanggapi.
Hari ini dia punya janji dengan seorang tokoh agama yang sangat disegani. Beberapa temannya pernah mendapatkan jodoh melalui perantaranya. Jaka pun ingin melakukan ikhtiyar yang sama. Sebelumnya jaka sudah dua kali sowan ke tokoh agama tersebut. Hati jaka bergetar akan kah hari menjadi hari bersejarahnya. Memulai untuk melangkah ke jenjang kehidupan yang baru.
Di rumah sang tokoh agama, Jaka disambut dengan hangat. "Sebentar lagi gadis yang kita bicarakan tempo lalu akan datang, sabar ya" ujarnya tersenyum. Hati Jaka semakin deg-degan. Sesekali matanya melirik ke arah pintu. Tidak lama, seorang gadis berjilbab biru muda mengucap salam, dia ditemani seorang perempuan lain. Mereka langsung masuk sambil tersenyum kepada jaka dan berlalu menuju ruang keluarga. Jaka langsung bertanya ke tokoh agama itu, yang berjilbab biru itu kah calonnya. Sang tokoh malah berkerut kening. "Bukan. Itu istri muda saya. Sabar ya". Jaka tersipu malu, sambil minta maaf.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
