Melvin Irawansyah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Daun Jatuh Dalam PengetahuanNya

Daun Jatuh Dalam PengetahuanNya

Tulisan ini kami awali dengan mengutip ayat dari kalam Allah subhanahu wata'ala dalam surat Al-An'am ayat 59:

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"

Imam As-Sa'diy dalam tafsirnya berujar, "Ayat yang mulia ini mengisyaratkan tentang ilmu Allah yang sangat luas dan sempurna, ia mencakup semua ilmu ghaib yang tidak diketahui oleh siapa pun kecuali Dia".

Dalam hadits yang diriwayatkan imam bukhari, sebagaimana dituliskan di dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa kunci perkara yang ghoib itu ada lima. Sebagaimana diisyaratkan dalam surat Luqman ayat 34. Kelima kunci tersebut adalah:

1. Mengetahui Hari Kiamat

2. Menurunkan hujan

3. Mengetahui apa yang ada dalam rahim

4. Mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakan hambaNya besok

5. Mengetahui di bumi mana hambaNya akan mati.

Allah subhanahu wata'ala mengetahui semua yang ada di daratan dan di lautan. Keluasan ilmuNya justru menguatkan kembali bahwa kesombongan para makhluq adalah kebodohan yang nyata. Karena ketidaktahuannya menyebabkan kecongkakan, bak seekor katak yang terkurung di dalam tempurung kelapa, dia mengira dunia hanya sesempit dalam benaknya.

Dedaunan yang jatuh dari pepohonan tidak lepas dari pengetahuan Allah, apalagi setangkai ranting dari dedahanan. Air mengalir, sesuatu yang basah dan kering telah Allah catat dalam lauhul mahfuzh dengan kehendak dan kekuasaanNya.

Ilmu yang Allah berikan kepada hambaNya hanya secuil mungil jika dibandingkan dengan luasnya samudra. Pengetahuan yang Allah titipkan kepada hambaNya agar semakin menggunakan akalnya untuk mentafakkuri keagunganNya. Bukankah termasuk hamba Allah yang berakal yang senantiasa memikirkan penciptaanNya?

Demikian juga, semakin luas pergaulan dan pencarian hamba akan keagungan Allah, maka semakin lues dalam memberlakukan hamba Allah yang lain. Semakin paham seorang hamba terhadap kekurangan dirinya, maka semakin tau kepekaannya untuk memahami apa yang dimiliki oleh hamba lainnya.

Dan pahamilah bahwa "tidaklah kita diberi ilmu kecuali sedikit saja".

Wallahu A'lam.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post