Guru, Bukan Cita-Cita
Semasa kecil, kami selalu dimotivasi tentang menggapai cita-cita. Keluarga ibu, meminta ke kami jika kelak dewasa harus melanjutkan estapet perjuangan sang Kakek, yaitu menjadi TNI. Maka jadilah olahraga utama kami, lari maraton dan push up. Hal itu sering kami lakukan di pagi hari.
Setamat dari sekolah dasar, kami diutus orangtua untuk belajar di boarding school. Di sana kami belajar banyak pelajaran. Banyak pengalaman dan wawasan yang kami dapatkan. menjelang selesai dari sekolah menengah pertama, kami mengukur badan, tidak ada pergerakan ke atas yang signifikan, malah lebih banyak ke samping.
Mendapati realita yang tidak terbantahkan itu, kami berpikir ulang untuk menggapai cita-cita menjadi tentara. Kebetulan kami memiliki hoby menyanyi, sepertinya jadi penyanyi lebih cocok, pikirku. Mulailah diri ini mengasah olah vokal dengan bergabung dengan group nasyid (lagu islamy).
Di kelas SMA, kami justru lebih sering izin ke luar sekolah untuk ikut ajang kompetisi Nasyid, bahkan sudah mulai sering menerima undangan untuk mengisi berbagai acara; Nikahan, Aqiqah, dan bahkan kampanye partai politik. Pernah kami diomelin oleh salah satu dewan guru, bersebab seringnya kami tidak masuk kelas.
Menjelang Ujian Nasional, kami dipanggil oleh bagian pembinaan dan pengasuhan. Diberikan wejangan yang menjadi titik semangat kami untuk kembali fokus belajar. Wejangan itu menyengat adrenalin dan emosional kami. Padahal kalimat yang disampaikan dengan sederhana, mungkin inilah yang disebut "dari hati ke hati". Cita-cita kami yang seawalnya menginginkan hoby bernyanyi sebagai profesi seketika beralih.
Kami tekadkan dalam hati, sebuah keputusan baru. Menjadi Guru, ya cita-cita kami jadi guru. Tidak perlu lagi berubah, tidak perlu lagi diragukan, ini adalah cita-cita mulia. Tidak perlu merasa bising dengan prilaku orang lain. Tidak perlu menyatakan sebuah frase tersesat di jalan yang benar, tapi ini benar-benar jalan yang benar yang diniatkan dengan tulus.
Guru bukan sekedar cita-cita, bukan sekedar profesi. Guru adalah ladang amal jariyah, sebagai persiapan bertemu dengan sang Maha Pencipta.
Bersambung...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
