Nurani yang Hilang
Pernahkah kita melihat ata bertemu dengan seorang yang suka mencela namun sangat tidak suka jika mendapatkan perlakuan yang sama? Pernahkah kita bertemu dengan seorang yang sangat keras hatinya, susah diberi masukkan dan susah menerima perbedaan? Selalu bersemangat mengoreksi orang lain, tapi tidak bercermin untuk memperbaiki diri sendiri.
Jika pernah, mungkin itulah salah satu ciri orang yang memiliki hati nurani yang hilang. Mata mereka secara zhahir bisa melihat, telinga mereka secara fungsi dapat mendengar, tapi mereka tidak menggunakannya untuk melihat kebaikan orang lain, mata mereka tidak digunakan untuk melihat kebesaran Allah, telinga mereka mendengar namun tuli terhadap nasehat.
Nurani yang hilang akn berdampak pada semua anggota badan. Tangan, kaki dan yang lainnya tidak digunakan lagi untuk menjemput hidayah. Maka hakikatnya mereka itu buta, bisu, tuli dan tidak memiliki akal.
Padahal potensi yang telah Allah berikan kepada kita manusia adalah potensi yang sangat besar. Dimulai dari mata yaitu penglihatan, telinga yaitu pendengaran dan hati agar dapat merasakan kebaikan dan meresapi makna. Dengannya juga bersebab datangnya hidayah.
Jika hal ini ada pada diri kita maka segerakan untuk kembali ke jalan Allah, agar hidayah kembali menghampiri kita. Agar kita tidak termasuk hatinya terkunci, mengeras dan menghitam. Akibatnya perilaku seperti ini akan berdampak pada tabiat yang bisa jadi lebih buruk dari makhluk Allah yang tidak berakal.
Makhluk Allah yang tidak berakal seperti hewan, memiliki kewajaran jika tidak mengerti apa yang didengar, tidak memahami apa yang diperintah, tapi jika manusia yang sudah diberikan Allah potensi akal dan hati, namun tidak memanfaatkannya dalam menjemput rahmat dan hidayahNya, maka manusia lebih sesat dari hewan.
Dalam surat Al-A’rof ayat 179 Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.
Wallahu A’lam bish-shawab.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
