Kijang Spesial
Egoisme adalah sifat yang terkadang menerpa setiap diri manusia. Sifat ini sangat tidak disukai oleh semua orang termasuk orang yang memiliki sifat ini. Dalam kamus besar bahasa indonesia egoisme bermakna tingkah laku yang didasarkan atas dorongan untuk keuntungan diri sendiri daripada untuk kesejahteraan orang lain; atau secara filosofi, ia bermakna teori yang mengemukakan bahwa segala perbuatan atau tindakan selalu disebabkan oleh keinginan untuk menguntungkan diri sendiri.
Dari makna di atas bisa kita simpulkan bahwa sifat egoisme adalah tingkah laku yang tidak mau kalah dan tidak mau disalahkan. Dalam sebuah diskusi orang yang memiliki sifat ini hanya akan melahirkan debat kusir yang tidak ada artinya, bahkan akan menimbulkan perseteruan yang tidak berakhir.
Sikap kita ketika menemukan orang bertabiat demikian maka cukup mendiamkannya dan atau tinggalkan. Kalau kata orang arab "tarkul jawab alal jahili jawabun" mendiamkan atau tidak memberikan jawaban terhadap orang yang jahil adalah jawaban". Artinya orang yang egois itu pada hakikatnya jahil, karena kejahilannya maka ia ngotot tidak mau kalah apalagi disalahkan, meski dia sebenarnya salah. Prilaku tersebut ia lakukan untuk menutupi kejahilannya.
Ada kisah perdebatan seorang yang memiliki sifat jahil/egoisme dengan seorang yang ingin membuktikan kesalahannya. Di sebuah padang pasir terdapat seekor burung sedang berteduh. Dari kejauhan terjadi perdebatan antara si jahil dengan kawannya. Si jahil meyakinkan kepada kawannya bahwa yang nampak di kejauhan itu adalah kijang. Sedangkan kawannya menyampaikan bahwa itu adalah burung yang sedang berteduh.
Perdebatan berujung pada pembuktian agar mendekati makhluk tersebut. Lalu mereka pun berjalan menuju makhluk tersebut. Tidak lama, tiba-tiba makhluk itu terbang mengetahui mereka berdua mendekatinya. Sang kawan lalu berkata "tuh betul kan seekor burung, kalau kijang mana mungkin bisa terbang". Si Jahil karena merasa malu ia tetap tidak mau kalah, dengan ngototnya dia mengatakan, "itu kijang spesial, diberikan kemampuan untuk bisa terbang".
Pelajaran dari kisah ini jangan sampai egoisme merajai diri kita. Segala kebenaran akan menjadi salah jika ia berada di pihak orang lain, tapi kesalahan akan menjadi benar jika itu berada pada dirinya. Prilaku yang sangat berbahaya.
Seorang pemimpin jika memiliki sifat ini akan cendrung otoriter dalam kepemimpinannya. Seorang guru, orangtua atau siapapun jika telah terjangkit sifat ini akan cendrung arogan dan senantiasa menggurui.
Semoga Allah membukakan hati kita agar tidak buta terhadap kesalahan sendiri dan semoga senantiasa dibimbingNya untuk selalu memperbaiki diri. Aamiin...
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
