Melvin Irawansyah

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Antara Musa dan Khidir

Antara Musa dan Khidir

Dalam surat AlKahfi tercantum cerita tentang Nabi Musa berguru kepada seorang hamba Allah yang sholeh. Tidak disebutkan siapa nama hamba Allah yang sholeh ini, tapi yang lebih masyhur di kalangan mufassirin (ahli tafsir), nama hamba tersebut adalah khidir, seorang Nabi juga yang tidak termasuk dalam 25 Nabi dan Rasul yang kita wajib ketahui.

Yang ingin dituliskan disini adalah seputar pertemuan mereka yang singkat. Pertemuan yang bukan hanya Nabi Musa saja yang dapat mengambil ibroh, melainkan kita juga para hamba Allah yang berada di akhir zaman.

Kita ketahui bersama bahwa Musa sengaja ingin bertemu dengan khidir karena selain perintah langsung dari Allah, ia juga ingin berguru kepada hamba Allah yang sholeh itu. Dia menyadari ada yang keliru pada dirinya hingga Allah langsung menegur dan memerintahkannya untuk mencari Khidir.

Terkisahlah bahwa mereka akhirnya bertemu dan Musa pun meminta agar diterima sebagai murid. Uniknya ada "mahar" yang harus dibayar oleh Musa agar Khidir bersedia menjadi gurunya. Apa itu? Yaitu Sabar.

Khidir meminta kepada Musa agar bersabar saat berguru kepadanya. Musa diminta agar tidak cerewet ketika nanti dia menemukan prihal yang dianggapnya tidak pantas saat pembelajaran berlangsung. Bahkan sebelumnya Khidir pernah "ngeledek", "sepertinya engkau tidak akan bisa sabar bersamaku...".

Tentu musa dengan meyakinkan bahwa ia pasti bisa. Inilah salah satu karakter Musa. Pantang menyerah. Makanya beliau termasuk salah satu dari 5 rasul yang ulul azmi.

Saya tidak akan menceritakan perjalanan mereka hingga akhir. Saya ingin memfokuskan pada hubungan mereka berdua, yaitu sesama hamba Allah yang sholeh, sesama hamba Allah yang diangkat menjadi Nabi, dan tidak kalah pentingnya mereka ada hubungan ideologis yaitu guru dan murid.

Akan kita dapatkan dalam segala hal terkadang "mahar" itu memang sangat diperlukan.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Kaum Muslimin harus memenuhi syarat-syarat yang telah mereka sepakati kecuali syarat yang mengharamkan suatu yang Halal atau menghalalkan suatu yang haram".

Pemiliki perusahaan akan membuat syarat dan ketentuan kepada calon karyawannya jika mau bekerja di perusahaannya. Seorang perempuan memberikan syarat kepada calon suaminya, seorang pemimpin akan membuat syarat kepada rakyatnya agar urusannya dapat dilayani. Seorang guru akan membuat syarat kepada muridnya untuk dapat belajar kepadanya, dan seterusnya.

Semua syarat itu sah-sah saja kecuali jika menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, maka syarat itu batal alias tidak boleh. Jika syarat itu ada yang melanggar maka perjanjiannya akan batal. Sebagaimana Nabi Khidir memutuskan untuk berpisah dengan Nabi Musa setelah melakukan pelanggaran syarat yang diajukan.

Kita ketahui Khidir tidak serta merta "memecat" Musa menjadi muridnya, namun beliau memberlakukan proses evaluasi agar Musa jangan mengulanginya kembali.

Proses itu diberlakukan agar yang bersangkutan kembali mengingat akan ikatan cinta eh, maksudnya ikatan janji yang sudah disepakati. Sekaligus sebagai teguran agar dapat memperbaiki.

Wallahu a'lam bis-shawab.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post